
Saat ini jam 5 sore Nadia sedang menuju keperusahaan yang menjadi salah satu saingan perusahaan Kusuma Group, saat ini mereka berada di ambang kehancuran.
Wanita yang di resepsionis bertanya dengan sopan, melihat Nadia datang “Nona apa ada yang bisa di bantu?”
“Aku ingin menemui atasanmu” Sahut Nadia dengan santai.
Wanita itu menatap Nadia dengan tatapan heran, Nadia masih mengenakan seragam sekolah dan menggendong tas sekolah di punggungnya, sudah dapat di tebak jika dia masih siswa sekolahan. Meskipun sedikit bingung dia, memikirkan atasannya yang beberapa kali mondar- mandir mendatanginya menanyakan apa ada seseorang yang mencarinya
“Tunggu sebentar aku akan, melapor keatasan sebentar.” Ucapnya kemudian pergi ke atasannya yang berada di lantai satu “Pak, seseorang mencari anda.”
Mendengar itu Tomy, pergi untuk menemui orang yang akan menyelamatkan perusahaannya, semalam dia menerima pesan lewat email miliknya yang berisi [ Tuan wijaya, Aku akan datang besok untuk membantumu, menyelesaikan masalah yang menimpa perusahaanmu], tapi dia tidak melihat siapapun.
“dimana dia sekarang?” Tanya Tomy sambil mengerutkan keningnya.
“Gadis muda ini tuan yang ingin menemui anda.”
Saat Tomy meliha Nadia dia merasa kecewa, karena orang yang di tunggu belum juga datang.
Dengan sopan dia bertanya kepada Nadia “Nona muda, bisakah kau katakana mengapa kamu mencariku?”
Nadia yang awalanya melihat keluar jendela, berbalik saat mendengar itu “selamat sore tuan Tomy, Aku adalah orang yang telah mengirimi anda email tadi malam.”
“…”
Dia berpikir jika ada yang salah dengan telinganya , namun detik berikutnya dia bertanya karena tidak percaya denga napa yang dia dengar “Apa yang baru saja kamu katakana?”
Nadia dengan patuh mengulangi ucapannya.
saat ini Tomy mendengar dengan sangat jelas. Saat ini dia merasa sangat sedih, dia tidak pernah berpikir jika dia hanya menerima email dari murid sekolahan, dia sangat kecewa karena dia sangat berharap dengan email itu.
tapi dia tidak melampiaskan amarahnya kepada Nadia yang telah mempermainkannya, dia masih dengan sopan berkata “Anak kecil, cepat pulang orang taumu akan mencarimu, jangan kesini untuk mengerjaiku. Aku sangat sibuk tidak ada waktu untuk bermain denganmu.”
Tomy sama sekali tidak percaya jika anak kecil ini akan membantunya keluar dari malasal, apa lagi dia hanya seorang murid sekolah menengah.
“Tuan Tomy, apa jika kamu menggunakan waktu yang kau miliki saat ini apa bisa menyelesaikan masalah?” Tanya Nadia dengan santai.
Raut wajah Tomy berubah, dia sudah melakukan segela cara untuk mengatasi krisis yang menimpa perusahaannya, tapi usahanya sia- sia malah- malah perusahaan semakin menjadi buruk. Jika sebelumnya dia tidak melakukan sesuatu perusahaan tidak akan seburuk ini.
Nadia menatap Tomy dan berkata “Beri aku waktu, aku akan membuatmu yakin.” Sorot mata Nadia dipenuhi rasa percaya diri.
Tomy berpikir jika ini adalah kesempatan terakhinya, dia tidak akan menyia- nyiakannya walau hanya datang dari gadis kecil, dia memiliki sedikit kepercayaan kepada Nadia.
Dia menghela nafas kemudian berkata “Baiklah, ayo kita bicara dulu.” Dia membawa Nadia ke ruang tamu khusus. Dia mengambilkan sebotol air mineral untuk Nadia.
“Aku mempunyai Syarat” Ucap Nadia.
“jika semua berjalan lancar aku akan melakukan yang terbaik untuk melakukan apa yang kau mau.” Tomy duduk dengan tegak.
“Aku ingin kau mengurus Kusuma Group untukku.”
Tomy tak percaya denga napa yang dia dengar, dia merasa sedikit getir dan menjelaskan “perusahaanku tidak berkempang dengan baik, jauh berbeda dengan Kusuma Group, ini akan menjadi sesuatu yang sulit.”
Nadia tersenyum dan berkata “Aku akan membantumu mengembangkan perusahan Tomy jaya, aku akan membuat perusahaanmu jauh lebih bagus dari pada perusahaan Kusuma group.”
harapan satu satunya Tomy hancur saat mendengar ucapan Nadia, Tomy jaya jauh lebih baik dari Kusuma Group hanyalah sebuah fantasi belaka.
Nadia mengambil dokumen yang ada di dalam tasnya, “Tuan Tomy baca ini”
Tomy tidak percaya dengan rencana Nadia, tapi dia tetap mengambil dokumen itu dan membacanya dengan seksama. Dia melirik Nadia sesekali dan lanjut membaca, dan detik berikunya dia berhenti membaca, dia menatap anak kecil yang sedang bersandar ke kursi dengan malas.
Apa dia yang menulis semua ini?
Dia Kembali membaca selama kurang lebih sepuluh menit, dia menaruh dokumen itu di meja dan bertanya dengan nada tak percaya “Apa kamu yang menulis dokumen ini?”
“Selama itu berguna, tidak perduli siapa yang menulis itu bukan masalah kan?” Ucap Nadia dengan senyum cerah.