Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Nadia jadi bahan pelampiasan kemarahan Wahyu


Setelah itu Nadia membuka google, dia melihat jika akan diadakan lomba Lukis yang akan di selenggarakan di Jakarta. Dikehidupan sebelumnya nenek Sinta memberi Nadia arahan tentang lukisan. Dia sering membawa Nadia kemusium untuk melihat lukisan dari seniman ternama.


Sebelumnya saat dia pulang, dia mendengar Jika Elisa sudah mendaftarkan diri dalam acara tersebut.


Saat ini Nadia mengisi formulir pendaftaran. Sebelumnya dia tidak pernah berpikir untuk ikut serta dalam acara itu, hanya saja Elisa orang yang terlebih dulu menyalakan api, dia tidak akan membiarkan begitu saja.


Dia yakin jika ikut sertaannya dalam acara ini, akan membuat pukulan besar untuk Elisa, dia akan membuat impian Elisa dan kedua orang tuanya itu hancur seperti abu.


Dikehidupan sebelumnya Elisa berhasil memenangkan perlombaan ini, selama beberapa hari Wahyu terus memujinya didepan teman- temannya dan Elisa berhasil membuat namanya sendiri. Walaupun Elisa telah memenangkan penghargaan yang luar biasa dalam kompetisi pelukis muda. Tapi saat hasil lukisan Nadia di sandingkan dengan lukisannya hasilnya lukisan Nadia lebih baik.


Saat ini Nadia tidak ingin memberi kesempatan untuk Elisa.


Setelah mendaftar Nadia tidak lagi menerima permintaan perawatan system computer. setelah mematikan laptop dia mengambil buku gambar. Dia mulai menulis satu kata menggunakan kuas: Dream.



Nadia memang telah menolak bantuan Bastian, tapi Bastian tetap meminta asistennya untuk menyelidiki kasus Nadia dan dalam waktu kurang dari satu hari, dia sudah menerima hasil penyelidikan.


“CEO, Gerak gerik Elisa sangat mencurigakan, dia melakukan semua secara diam-diam. Jadi tidak ada bukti yang didapatkan.” Ucap Asisten Aris dari sambungan telepon.


Bastian sangat jarang pergi keperusahaan.


Semua pekerjaannya akan dikirim ke ruman oleh Asisten Aris, Asisten Aris leih sering menghubunginya melalui telepon.


“Elisa” Ucap Bastian enggan, tatapannya sangat tajam “Wahyu Kusuma menginginkan tanah di distrik D. dapatkan tanah itu berapapun harganya.” Bastian sangat perduli dengan Nadia, dia tidak akan membiarkan siapapun menindas dirinya.


Dia tahu jika Nadia dapat mengurus Elisa, tetapi bukan berarti dia akan diam saja tidak melakukan apapun.


“YA.” Sahut Asisiten Aris.


Tanah itu milik dari salah satu mitra perusahaan Bastian. Saat dia tahu jika Bastian menginginkan tanah itu, tanpa berkomentar dia segera memberikan tanah itu kepada Bastian, karena dia ingin lebih dekat dengan Group BA. Apalagi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.


Tapi Asisten Aris masih tetap membeli tanah itu dengan harga tinggi, karena Group BA tidak ingin berhutang budi.


Nada suara Wahyu sangat tenang. Perusahaan Mitra Abadi adalah perusahaan besar, dia tidak berani membuat masalah dengan mereka.


Ketua perusahaan Mitra Abadi menyipitkan matanya, dengan senyuman diwajahnya dia berkata “Kita bahkan belum menandatangi kontrak? Aku berada diposisi yang sulit.


Seseorang menginginkan tanah itu dan orang itu sangat berkuasa, aku tidak mau menyinggung perasaannya, kau juga tahu kan?”


Wahyu sangat marah. Pertama dia bilang jika dia belum menandatangani kontrak. Bukankah dia ingin memberitahunya jika dia tidak bisa melakukan apa- apa bahkan jika dia mengingkari janjinya?


“Pak Guntur, kita bisa mendiskusikan harganya lagi, jika anda ingin menjual tanah itu.” Ucap Wahyu dia telah merendahkan suaranya. Saat ini dia sangat menginginkan sebidang tanah itu.


Tapi Ketua perusahaan Citra Abadi tidak mau mengubah pilihannya “Pak Wahyu ini tidak ada hubungannya dengan uang. Masalahnya adalah dia menginginkannya, jika aku menyinggung perasaannya, aku tidak akan bisa mengatasinya” Guntur menekankan jika pihak lain lebih kuat dari pada dirinya, seseorang yang sangat dia takuti.


Wahyu mulai penasaran “Siapa orang itu?”


“Ketua Group BA” Sahut Guntur sambil tersenyum dengan wajah tanpa dosa.


Wahyu terdiam mendengat hal itu. Group BA adalah sesuatu yang tidak boleh diprovokasi, semua pengusaha tepatnya yang berada di ibu kota, berusaha mati- matian agar bisa bekerja sama dengan Group BA.


“Kau sudah tahu kan jika aku berada diposisi yang terjepit? Sebenarnya aku ingin menjual tanah itu kepadamu. Tapi aku takut jika Group BA akan balas dendam kedapa ku!”


Wahyu tidak mendengarkan dengan jelas penjelasan Guntur, dia mengakhiri panggilan telepon dengan tangan yang gemetar.


Jika bukan Group BA dia akan memperjuangkan tanah itu, tapi musuhnya saat ini adalah BA dia tidak berani untuk melakukan itu.


Semalaman dia tidak bisa tidur, dia masih tidak bisa melepaskan tanah itu begitu saja, tanah itu sangat penting untuk Peruaahaannya.


Pagi hari


Ketika dia melihat Nadia, dia melampiaskan kemarahannya kepadanya “Nadia aku tidak mau tahu, kau harus berpisah dengan pria itu, kau masih sekolah, bisa- bisanya malah pacarana, mau jadi apa nanti kalau sudah besar.”