
Sementara guru pengawasn mengerutkan keningnya saat melihat seorang siswa tidur di ruang kelas ‘sekolahan mana yang membiarkan siswa seperti dia ikut serta dalam kompetisi ini, apa mereka memang tidak perduli dengan nama baik sekolah merek?’
Dia pergi ke Nadia dengan amarah yang meluap menuju Nadia yang tertidur pulas, tapi dia tidak sengaja melihat kertas ujian Nadia.
Saat dia meliaht lembaran pertanyaan danda, semua pertanyaannya sudah di isi. Dia yakin jika jawaban yang di kertas itu di jawab yang di jawab denga nasal- asalan sembarangan.
‘dia bahkan tidak mengelesaikan ujian dengan benar, malam menulis jawab denga nasal- asalan, mengapa dia bisa ikut Olimpiade Nasional seperti ini, masa depannya sudah tidak tertolong’ dia melirik Nadia yang tertidur pulas dengan tatapan sinis.
Dia berencana memberi pelajaran siswa pemalas ini, dia mengambil kertas ujian dengan raut wajah kesal, dia mulai membaca dari ujian ganda, kemudian yang kedua dan yang ketiga, dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat samapi kebawah, semua jawabannya benar.
“….” Pengawas.
Dia berpikir jika semua itu hanyalah sebuah kebetulan, jadi dia memilik untuk melompati ke pertanyaan sederhana. Walau namanya adalah pertanyaan seder hana tapi soal ini sangat sulit untuk dikerjakan , setelah melihat jawaban yang ditulis Nadia. Dia mulai berpikir jika gadis pemalas ini adalah seorang jinius.
Dia perpikir jika siswa itu Adalah Leni yang selalu memenangkan peringkat pertama, tapi saat dia melihat kertas.
Nadia, SMA Tunas bangsa. (maaf ya kalo nama SMA nya berubah, juju raku lupa hehe)
Setalah BAngun Nadia melihat pengawas sedang berdiri disampingnya, saat ini pengawas masih memengang kertas ujiannya, saat ini dia sedang mengamati pertanyaan terakhir, pengawas merasa sangat pusing saat mengetahui isi jawaban Nadia benar, pertanyaan terakhir adalah soal yang sangat sulit untuk dikerjakan.
Nadia melihat arlojinya kemudian dengan santai bertanya “Apa aku boleb pergi?”
“hah?” Pengawas itu sedikit linglung.
“Aku ingin menyerahkan kertas ujianku” UcapN Adia sambil menunjuk ke kertas yang di pegang pengawas.
“Baik lah” Sahut pengawas itu, Dia membawa kertas ujian Nadia kedepan, sementara Nadia keluar dari ruang ujian.
Pengawas yang berada di depan penasaran dengan kertas jawaban itu “Dia sudah selesai?”
“Iya” Sahut pengwas yang membawa kertas ujian Nadia sambil menganggukan kepala “Aku yakin jika dia telah mengerjakan soal dengan sangat baik, jika tidak ada kesalahan di soal akhir aku yakin dia kan mendapatkan nilai sempurna”
“Apa???” pengawas terkejut. Sangat jarang orang yang memiliki nilai sempurna dalam olimpiade matematika kelas Nasional. Pengaws yang bersamanya adalah penagwas yang sangat akhi dalam bidang matematika, jadi dia yakin dengan pendapatnya.
Para siswa yang berparti sipasi terkejut saat mendengar jika Nadia telah selesai, apalagi Nadia hanya memerlukan waktu 35 puluh menit untuk mengisi jawaban matematika.
Mereka segera menundukkan kepala, Kembali fokus mengerjakan soal ujian mereka dengan sungguh- sungguh.
Satu- satunya orang yang tidak terkejut saat mendengar Nadia telah menyelesaikan Ujian Adalah Leni, dia sudah mengetahui kemampuan Nadia saat ujian beberapa waktu yang lalu dia berada di ruang yang sama, saat itu Nadia hanya membutuhkan waktu kurang dari dua puluh menit untuk mengisi soal.
Dia sangat yakin Jika Nadia adalah seorang jinius yang berada jauh diatasnya. Selama ini Leni selalu mendapatkan peringkat pertama saat kompetisi matematika, jika saat ini Nadia merebut posisinya dia akan menerima dengan lapang hati.
Leni tahu jika di dunia ini banyak sekali orang jinius dan Nadia salah satunya.
Sementara murid dari guru Sulia, Jeni menatap Nadia dengan tatapan tajam saat melihat Nadia keluar dari ruang Ujian.
Melihat Nadia yang keluar begitu saja, dia yakin jika Nadia tidak ada apa- apanya, sebelumnya dia berpikir jika siswa dari ibu kota adalah lawan yang Tangguh untuk di hadapi.
Jeni adalah gadis yang sangat sombong, sikapnya hampir sama dengan Elisa, dia selalu berpikir jika dirinya adalah yang tercanti didunia ini, tidak ada orang yang bisa menandingi kecantikannya.
Saat pertama melihat Nadia dia mengakui jika nAdia jauh lebih cantik dari padanya dirinya, jadi secara alami dia langsung membenci Nadia.
Saat melihat Nadia menyerahkan kertas ujiannya dia merasa jauh lebih lega, karena dia yakin jika Nadia telah menyerah dalam ujian kali ini.
Jeni tidak mengerjakan soal selama lima menit karena sibuk menghina Nadia dalam hati, saat dia sadar dia melihat jika waktu tinggal empat puluh menit lagi, dia buru- buru mengerjakan soal ujian.
Disisi lain, Nadia baru saja keluar dari ruang ujian, dia sisambut oleh beberapa reporter, karena Olimpiade Matematika Nasional sangat di hargai.
Nadia adalah orang yang pertama kali keluar, sementara masih ada waktu empat puluh menit lebih sebelum ujian berakhir.
Para reporter berpikir jika Nadia adalah orang yang gagal, dia yakin jika Nadia menggunakan orang dalam untuk bisa mengikuti olimpiade Matematian Nasional. Kemudian mereka berpikir jika Nadia adalah orang yang menggunakan jalur belakang, mereka yakin jika ini akan menjadi gosip panas.
Beberapa rporte bersama berjalan kea rah Nadia, kemudian bertanya “Siswi ini masih terlalu dini untuk keluar, apa kamu sudah menyelesaikan ujiannya?”
“Siswi bagaimana menirutmu tentang ujian kali ini?
“Kamu menjadi orang pertama yang menyerahkan kertas ujian, apa kamu yakin dengan jawaban yang kau isi?”
“Siswa berapa banyak poin yang akan kamu dapatkan dalam ujian ini?”
Nadia tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan sebuah ke banggaan “itu tidak sulit sama sekali. Aku sangat percaya jika aku akan mendapatkan tempat pertama.”
Para reporter terdiam saat mendengar jawaban Nadia yang sangat percaya diri, mereka saling memandang satu sama lain, ini tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.
Bisadanya seorang siswa akan mengatakan jika soal ujiannyya sangat sulit dan mereka tidak akan yakin dengan poin yang akan mereka dapatkan. Ucapan Nadia membuat para reporter terkejut.
Tania saat ini sedang sibuk membaca beberapa buku yang dia cawa sebelumnya, dia tidak menyadari jika Nadia telah keluar.
Sulia melihat Nadia keluar, kemudia mencibirnya “Guru tania, coba lihat siapa yang keluar, ini masih belum empat puluh menit tapi muridmu telah keluar, bisa- bisanya dia sudah keluar padahal ujian belum berakhir, jangan- jangan dia menyerah dalam ujian karena tidak ktahu apa yang harus di isi dalam ujian” Sulia menatap Nadia dengan tatapan jijik, terlihat dengan jelas jika dia sedang mencibirnya.
Tania mengabaikan ocehan Sulia, dia menyapa Nadia yang berjalan kearahnya “Apa kamu sudah selesai?”
“YA” sahut Nadia simpel.
“Kau sudah melakukan yang terbaik” ucap Tania lega, meski dia hanya menghabiskan waktu belajar dengan nadi selama enam jam dia yakin dengan kemampuan Nadia, dia bisa mengerjakan ujian dengan baik.
“Kalau begitu aku pergi dulu” Pamit Nadia.
“Pergilah, hati- hati di jalan.” Sahut Tania. Nadia adalah orang yang sangat kompeten, saat dia mendegar nadia telah menyelesaikan ujian itu berarti dia benar- benar sudah melakukannya.
Follow follow, bantu Follow dongkak sebagai bentuk dukungan untuk novel ini. Makasih ditunggu Follownya