
Kediaman Kusuma.
Elisa melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, dia meras asangat kesal saat mengingat jika Gatot secara langsung mengakui karya Nad, Gatot juga memperingatkan dirinya untuk bekerja keras untuk bisa menjadi pelukis terbaik, Sikap Gator kepadanya berubah 185 drajat kepadanya, tidak ada lagi pujian seperti sebelumnya, yang tersisa hanya penghinaan, sikapnya tak jauh beda dengan Aliwafa.
Lidia duduk di Sofa menunggu kedatangan Elisa, Wahyu juga penasaran apakah Elisa berhasil menjadi peringkat pertama atau tidak.
Saat Elisa datang Lidia segera menyambutnya “Elisa bagaimana hasilnya?”
Mendnegar pertanyaannya Elisa menangis “Bu dia mempunyai dukungan yang kuat, walau dia ketahuan menjiplak tidak ada yang bisa kami lakukan.”
Melihat tangisan Elisa hati Lidia terasa sakit, dia segera menghibur putri kesayangannya itu “sayang kau tidak perlu ikut lomba lagi, ada banya jalan untuk menjadi terkenal, kau tidak perlu berkecil hati karena perlombaan kecil ini.”
Wahyu merasa sakit kepala, setiap kali ada masalah Elisa selalu meningis hal itu membuatnya menjadi sangat kesal.
Dia meletakkan cangkir kopi dan bekata dengan tegas “Elisa mengapa kau selalu menangis saat ada masalah, kau bukan anak kecil lagi”
Elisa sangat terkejut, dia ingin membuat air manya menarik simpati Lidia dan Wahyu, agar mereka tidak mempermasalahkan kejadian ini. Selama ini trik yang dia lakukan selalu ampuh.
Dia segera menghapus air matanya, dia tidak berani mengeluarkan air mata lagi. Lidia segera memluk bahu putri kesayangannya, dia menatap tajam Wahyu “ini hanya masalah kecil, menagapa kau sampai memarahi Elisa. sejak dia lahir dia membawa keberuntungan kepada keluarga ini” Lidia terlihat seperti landan yang melindungi anaknya.
Namun dia hanya ingin melindungi putri pungutnya, dia tidak pernah memperdulikan putri kandungnya sendiri.
Wahyu memijat keningnya “kau benar, tapi selama sebulan terakhir perusahaan mengalami masalah dan semua tidak berjalan lancar.”
Setelah grup BA merampas sebidang tanah yang akan di beli, beberapa masalah kecil terjadi selama sebulan terakhir.
Selama beberapa hari ini Wahyu selalu pergi pagi dan pulang tengah malam. Masalah perusahaan membuatnya lelah.
Mendengar ini Lidia terkejur, selama ini Wahyu tidak pernah membicarakan tentang perusahaan, jadi dia berpikir jika semuua berjalan dengan lancar.
Dia mulai berpikir, dalam beberapa bulan ini, bukankah Nadia baru kemaball kekeluarga Kusuma?
Dengan pikiran ini Lidia menyuarakan pendapatnya “Suamiku apa ini terjadi karena Nadia? Elisa selalu mengalami kesialan dan Perusahaan tidak berjalan dengan lancar.
Bukankah semua ini terjadi saat Nadia Kembali? Jangan bilang Elisa gagal dalam kompetisi melukis juga karena Nadia, dia membawa Nasib siap kepada keluarga ini!”
Wahyu menautkan Alisnya.
Lidia mulai melanjutkan “Elisa selalu membawa Nasib baik untuk keluarga kita, sementara Nadia memiliki Nasib buruk, siapapun yang berhubungan sengannya akan menjadi sial. Suamiku segera hapus dia dari kartu keluarga kita, jika tidak Nasib sial akan selalu menghantui kita.”
Wahyu mulai curiga jika yang dikatakan istrinya benar, dia tidak memiliki perasaan sayang kepada putrinya, mungkin karena Nadia tidak dibesarkan di sampingnya sejak dia lahir.
Baginya Nadia hanyalah alat untuk mendapatkan keuntungan.
Dengan acuh tak acuh wahyu berkata “Nadia adalah putri kita, jangan berpikir untuk mengeluarkannya dari rumah kita, dia masih muda dan tidak tahu apa- apa, kemana dia harus pergi? apa kau ingin membuat anak itu mati kelaparan?”
“Tapi” Lidia hendak merayunya.
Wahyu segera memotong ucapannya “Aku ingin beristirahat” Dia pergi dari ruang tamu.
__
Hari berikutnya.
Bastian pergi ke kediaman Kusuma untuk menjemput Nadia. Bastian tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan Nadia, dia juga mengetahui jika Nadia memenangkan kompetisi melukis.
“Nadia selamat” ucap Bastian dengan suara serak.
Nadia mendengar ucapan Bastian saat dia duduk di kursi penumpang, tangannya yang memasang sabuk pengaman berhenti seketika. Dia baru sadar jika Bastian sedang membahas tenatang kompetisi melukis.
“Terima kasih” Sahut Nadia dengan senyum yang menawan.
Detik berikutnya Bastian membungku kearahnya, dia memasangkan sabuk pengaman Nadia.
Nadia bersandar, jantungnya berdegup sangat kencang, dia membayangkan jika bibir tipis Bastian menyentuh wajahnya.
“Kak Tyan” serunya.
“Apa” Sahut Bastian.
Wajah Nadia menjadi merona “Tidak, tidak jadi”
Sebuah senyum terlintas di bibir Bastian, setelah memasang sabuk pengaman Nadia, dia Kembali duduk dengan tegak.
“Kita akan pergi kemana?” Tanya Nadia.
“Taman hiburan” Sahut Bastian sambil tersenyum.
Ini pertama lakinya Nadia pergi ke taman hiburan, saat dia masih kecil dia bahkan tidak pernah membayangkan jika dia bisa pergi kesana.
Bastian mengendarai mobil, dalam waktu kurang dari 30 menit mereka sampai di taman hiburan.
Banyak pengunjung yang datang, kebanyakan dari mereka adalah pasangan dan orang tua yang menemani anaknya.