Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Elisa cacat


Satu hari kemudian.


Dari kemarin Rindi selalu mengikuti forum sekolah, dia mengetahui jika polisi mencarinya dan dia tahu jika Elisa sama sekali tidak membantunya.


Semalanam dia menginap di kos kosan yang terletak di dekat Sungai, semalaman dia tidak bisa tidur karena digigit nyamuk dan dia hanya bisa makan mie instan, dia tidak berani keluar dari kosan karena takut jika polisi menemukan keberadaannya.


Setelah mengetahui jika Elisa sama sekali tidak mengambil Tindakan untuk membantunya, Rindi memberanikan diri untuk keluar, dia sudah tidak sanggup untuk bersembunyi seperi ini, dia merasa sangat frustasi.


Sore hari dia keluar untuk menemui Elisa di kediaman Keluarga Kusuma, dia mengenakan jaker hitam, topi wajahnya tertuutup masker.


Saat melihat Elisa keluar dari gerbang rumah keluarga Kusuma dia menyeretnya ke Semak- Semak.


Dengan panik Elisa bertanya “siapa kamu?”


“Elisa ini aku, Rindi” Ucap Rindi perlaham mepelaskan Elisa, saat ini tidak ada satu orang pun yang lewat, keadaan sekitar sangat sepi.


Elisa menghela nafas lega, kemudian bertanya “menagapa kau kesini?”


“Elisa menagapa semua masih sangat kacau? Apa kau benar- benar telah membantuku?” Tanya Rindi dengan cemas.


Dia sudah bersembunyi selama sehari dia takut jika Polisi akan menemukannya, dan menyeretnya kedalam penjara.


Elisa tertegu sejenak, dia segera mengesuaikan diri, dia terlihat sangat gelisah “Rindi aku sudah meminta bantuan kepada Ayah, tapi masalah ini sangat cukup besar, jadi membutuhkan waktu untuk membuat semua Kembali normal.”


Rindi memperhatikan setiap expresi yang dibuat Elisa tanpa mengedipkan matanya, dia tidak dapat mengendalikan emosonya kemudian berkata “Elisa ini bukan masalah yang rumit, aku tahu jika kau tidak mau membantuku!”


Elisa tidak dapat memperdayanya kemudian bertanya “Rindi apa yang kau katakana? Apa kau tidak percaya kepadaku?”


“Aku tidak bisa mempercayai sisapapun, begitupun dengan dirimu Elisa” dengan putus asa Rindi meluapkan emosinyya kepada Elisa “Elisa aku mohon selamatkan aku, selama ini aku selalu melakukan apa yang aku perintahkan, aku tahu betul sikap busukmu!”


Wajah Elisa menjdai dingin dari waktu kewaktu.


Dengan kesal Rindi melanjutkan “Kau itu seperti serigala berbulu domba, di permukaan aku terlihat lemah lembut, baik hati, tapi di dalam hatimu busuk! Kau selalu membuat orang lain menderita jika mereka menyinggungmu, kau benar- benar licik, seperti rubah tua.”


“Elisa semua ini karenamu, kau membenci Nadia dan aku dengan sengaja menghasutku untuk menyakiti Nadia, Karena Nadia jauh lebih cantik dan pintar dari pada dirimu, karena gara- gara dia kau tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti olimpiade Matematika”


Elisa sangat khawatir, jika Rindi menariknya kedalam penjara, dia memutar otaknya agar Rindi menjadi jauh lebih tenang “Rindi ini tidak seperti yang kau pikirkan, Bastian memiliki latar belakang yang sangat kuat, kami tidak bisa menyinggungnya.”


“Tutup mulutmu aku tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulutmu itu”Ucap Rindi yang tidak lagi percaya dengan ucapan Elisa.


Raut wajah Elisa menjadi sangat buruk, dia sudah kehilangan kesabarannya, kemudian berkata “Rindi jika aku jadi dirimu aku tidak akan keluar dari persembunyian, apalagi saat ini polisi sedang mencari keberadaanmu” Setelah bicara dia mengambil ponsel, kemudian mengancam “Rindi jika kau tidak mau pergi, aku akan menghubungi polisi.”


Rindi menjadi sangat ketakutan, tubuhnya bergetar “Elisa apa kau tidak takut jika aku menyeretmu bersamaku?”


Dengans enyum sinis Elisa berkata “Lakukan jika kau mampu!”


Rindi baru saja sadar jika selama ini Elisa selalu memerintahkannya secara lisan, dan dia tidak memiliki bukti tentang kejahatan Elisa.


Semua orang tahu jika Elisa memiliki keperibadia yang lemah lembut dan baik hati, jika dia menuduhnya melakukan kejahatan tidak aka nada orang yang percaya kepadanya.


“Elisa apa kau tidak akan membantuku?” tanya Rindi untuk memastikan.


“tentu, tidak” Sahut Elisa.


Rindi mendorong Elisa sampai terjatuh, kemudian dia mengambil kater yang ditaruh di saku jaket, belum sempat bereaksi Elisa melihat Gunting mengarah ke matanya, dan detik berikutnya gunting itu menusuk wajahnya.


“Ah” teriaknya, Elisa Merasa sangat kesakitan tepat di wajahnya yang terluka, dia mendorong Rindi menjauh, kemudian menutup wajahnya.


Rindi berdiri melihat tetesan darah di ujung kater yang dia pengan dengan senyum sinis dia berkata “Bukannya selama ini kau sangat mengagumi kecantikanmu, ini adalah harga untuk kejahatanmu!”


Elsa bangkit dia menyerang Rindi dengan sekuat tenaga, dan tiba- tiba dia menerima tusukan di bagu sebelah kirinya.


Saat ini Rindi sudah tidak merasa takut sedikitpun, dia sudah tidak perduli jika dirinya masuk penjara, setidaknya dia sudah memberi Pelajaran Elisa “Jika kau berani mendekat aku akan menghabisimu, dan setelah itu aku akan menyusulmu” dia menatap Elisa dengan tatapan tajam.


Elisa memang sangat perduli dengan penampilannya tapi dia masih jauh mementingkan nyawanya, dia mundur selangkah.


Rindi sudah tidak perduli dengan Elisa, dia berjalan ke kantor polisi membawa kater yang berlumuran darah. Dia sudah merasa puas dengan apa yang telah dilakukan.