
Siang hari berikutnya.
Hery Supomo berdiri depan perusahaan yang telah dia rintis dengan istrinya dengan wajah sedih. Hery Market adalah perusahaan swasta atas nama dirinya.
Saat ini perusahaan itu disegel oleh bank, semua ini terjadi karena penghianatan yang dilakukan oleh saudaranya sendiri Lastri, Hery yang sibuk merawat Istrinya yang mengidap kangker ganas menyerahkan kuasa perusahaan kepada saudari perempuannya itu, dia berencana untuk merawat istrinya dengan baik.
Namun kepercayaan yang dia berikan kepada Adik perempuannya itu hancur seketika saat menggetahui jika perusahaan miliknya digadaikan oleh Lastri, hai itu bertepatan dengan kematian istrinya, dunianya hancur seketika.
Tidak hanya jatuh namun dia masih tertimpa tanggan.
Beberapa minggu lalu bank telah meleng perusahaan Hery Market. Namun dia masih harus membayar hutang yang lebih dari 10 M.
Dia sudah menghubungi teman, kenalan dan beberapa koleganya dimasa lalu, namun tidak ada satupun diantara mereka ynag mau mengulurkan tangan membantunya.
Saat ini Lastri dengan beberapa pengawal datang dan mencibirnya “Kakak, aku tidak pernah berpikir jika kamu akan mengalami hal seperti ini.”
“Istriku kau jangan bicara seperti itu walau bagaimanapu dia tepat kakakmu”Ucap Herman dengan senyum licik dibibirnya.
Sudah sejak lama Herma cemburu dengan kesuksesan Hery, dia dengan sengaja merayu Lasti untuk menghianati Hery dengan alasan memperbaiki ekonomi keluarga, dia juga menjelek- jelekkan Hery sehingga Lastri termakan oleh ucapannya.
Mendengar suara Lastri dan Herman, Hery berbalik. Dia sangat omosi jika saja tidak ada hukum didunia ini dia sudah pasti membuat kedua kaki penghianat itu patah lebih parangnya membunuh mereka.
“Lastri, apa kau sudah sangar puas dengan apa yang telah kau lakukan padaku, aku tidak pernah menyangka adikku sendiri akan menusukku dari belakang!” Ucap Heri Supomo Marah.
Hery sangat marah dia hendak menampar wajah Lastri “Lastri kau tidak punya hati nuranu” namun Herman mennagkap tangannya.
Sudut bibir Herman terangkat dia ternyum tipis “Sebagai ipar yang baik aku bermaksud baik, jika kau menampar istriku kau harus membayar konpensasi yang tinggi, aku tidak ingin hidupmu semakin menderita, apalgi kau sekarang tidak punya apa-apa!” ucapnya kemudian menepis tangan Hery.
Hery emnunduk lesu, dia terlihat sangat tidak berdaya. Dia barusaja kehilangan istrinya dunianya benar-benar hancur. Jika bukan karena putrinya yang masih berusia 5 tahun yang masih membutuhkannya dia pasti sudah mengakhiri hidupnya. Hery tersenyum Pahit.
Hery menatap dua penghianat itu dengan tajam “Akan kupastikan suatu hari kalian akan hancur dibawah tanganku”
Mendengar itu Lastri dan suaminya tertawa terbahak-bahak “Kakak kau terlalu banyak bermipi, apa kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja? Jangan harap kamu tidak akan pernah mengubah keadaanmu.”
Hery mengepalkan tangannya dengan erat.
Herman berjalan kearahnya kemudian berbisik “Sudah lama aku ingin menghancurkanmu” Ucapnya dengan suara lirih. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Hery.
Dia menatap kepergian Lastri dan Herman dengan marah “Kenapa sebelumnya aku tidak pernah tahu jika hewan yang ku beri makan ternyata serigala” Ucap Hery pada dirinya sendiri.
Dia sangat sedih, mengingat dia masih harus membayar hutang dan Herman dan Lastri tidak akan pernah membiarkan dia bergitu saja, bagaimana mungkin dia bisa membalik keadaan bergitu saja?
Hery terduduk di lantai dan membenamkan wajahnya kedalam telak tangannya, dan air mata membasahi tangannya.
“Pak Hery” Panggi Nadia, dia sudah lama berada di taman yang terletak di depan perusahaan, dia menyaksikan semua yang telah terjadi.