Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Bastian siap Nampung nih


Hari berikutnya adalah akhir pekan sekolah libur. Setelah Bersiap dia segera pergi. Hari ini Wahyu tidak ada dirumah, hanya terlihat Lidia yang duduk di ruang tamu sambil menikmati cemilan, sementara Elisa tidak tahu ada dimana.


Saat Lidia melihat Nadia menuruni Anak tangga, dia melihatnya dengan tatapan tak suka “Mau pergi kemana?”


Sementara Nadia menjawab singkat “Ada urusan.”


Lidia tidak mengatakan sepatah kata lagi, karena dia hanya melakukan sopan santun atau formalitas saja dia tidak begitu perduli dengan Nadia.


Andai saja Nadia anak yang pintar dan luar biasa, dia akan memeperlakuaknnya seperti seorang putri kerajaan. Namun karena kenyataannya anak kandungnyya sendiri adlah orang bodoh dia tidak akan memebiarkan orang lain tahu jika Nadia adalah putrinya, apalagi memperkenalkannya secara langsung.


Terutama keluarganya, dia tidak akan pernah memberitahu jika Nadia keluarganya. Jika mereka mengetahui hal itu, mereka hanya akan merendahkannya sampai ke dasar.


Lidia akan memberi tahu pada keluarganya jika pilihannya tidak salah. Setelah mengingat jika kakaknya telah membangun perusahaannya sendiri dan jauh lebih maju dari perusahaan Keluarga Kusuma, Lidia merasa tidak enak.


Saat terpuruknya, dia menerima kabar jika putrinya Elisa adalah seorang jinius yang lahir abad ini. Dia yakin jika Elisa akan mejadi orang yang sukses dimasa depan.


Sementara Lidia tidak eprduli dengan Nadia dan Nadia tidak perlu membuang waktu untuk menjelaskan dia langsung meninggalkan ruman.


Di luar gerbang keluarga Kusuma terdapat mobil yang terpakir tidak terlalu jauh. Bastian tidka ingin menarik perhatian keluarga Kusuma, apalagi menimbulkan masalah untuk Nadia, jadi dia sengaja memarkir mobilnya jauh dari gerbang masuk keluarga Kusuma.


Saat ini Bastian duduk di kursi belakang dengan memangku computer, dia memiliki beberapa pekerjaan yang harus di tangani. Namun terlihat sangat jelas jika dia tidak konsentrasi sama sekali, sesekali dia akan melihat kejendela untuk waktu ke waktu.


Sementara salah satu manager yang melapor kepadanya merasa bingung dengan tingkahnya. Apa presiden tidak puas?


Ini pertama kalinya dia melihat presuden perusahaannya tidak fokus sama sekali saat bekerja. Yang dia tahu selama ini Presidennya adlah orang yang gila kerja. Apa presiden salah minum obat?


Keringat dingin meneter didagi manager yang sedang melakukan zoom dengan bastian. Tiba- tiba Bastian mengangguk puas dan berkata “koreksi ulang rencanamu, hubungi asistenku secara langsung.”


Nadia mengenakan gaun putih dengan amotif bunga Sakura. Rambutnya yang sedikit bergelobing tergerai dipundaknya. Sesaat Bastian terpesona dengan penampilannya dan sudut bibirnya melengkung keatas.


Usia Nadia dan Bastian terpaut 6 tahun. Bastian sangat jarang tersenyum dia terlihat sangat dewasa. Dimata orang lain dia dan Nadia usianya terpaut sangat jauh. Bastian juga menyadari hal itu, dia secara khusus memilih pakaian kasual berwarna putih, dan siapapun yang melihat akan berpikir jika mereka berdua adalah sepasang kekasih.


“Kak Bastian” sapa Nadia dia berjalan kearah Bastian, dia mendokak sedikit. Karena Bastian cukup tinggi dia perlu mengangkat kepalanya untuk melihatnyya dengan jelas “Apa kamu sudah lama menunggu?”


Bastian membukakan pintu mobil dengan santai berkata “Aku baru saja sampai.”


“OH.” Nadia berohria kemudian masuk mobil dan Bastian menyusulnya duduk disebelahnya.


“Jalan” Ucap Bastian pada sopir. Setelah itu dia menoleh untuk melihat Nadia. “Nadia apa kamu berencana untuk tinggal lebih lama di keluarga Kusuma?”


Nadia sedikit terkejut dengan pertanyaan Bastian, sedikit kesedihan terlihat dari tatapan matanya, di kehidupan yang sebelumnya pria yang duduk disampinya itu juga menanyakan hal yang sama, tapi dia sangat bodoh buta akan kasih sayang palsu. Dia tidak tahu siapa yang tulus dan siapa yang modus.


Nadia menghela nafas kemudian menjawab “Aku berencana untuk meninggalkan keluarga Kusuma.”


Bastian sedikit terkejut kemudian dengan cepat menawarkan bantuan “Apa kamu membutuhkan bantuanku?”


Namun Nadia menolaknya “Itu bukan masalah yang sulit, aku bisa disingkirkan kapanpun dari keluarga Kusuma, hanya menunggu waktu yang tepat.”


Detak jangtung Bastian berdepas sangat kencang, gelombang rasa sakit menghampirinya secara berkala. Keadaan Nadia saat ini sangat memilikan.


Setelah menenangkan emosinya dia berkata dengan lembut “Nadia, kamu masih memiliki nenek dan aku. Kami akan memperlakukanmu dengan baik.”


“Ok” sahut Nadia, sebuah senyuman mengembang di wajahnya.