
Di ruang klas 3D. Aliwafa sudah Bersiap untuk mengajar, tatapannya tertuju ke tempat duduk Nadia yang masih kosong hanya ada buku disana.
Aliwafa masih sangat dendam dengan Nadia, karena sebelumnya dia minta maaf kepada Nadia dihapah semua kelas, dia ingin mencari kesalahannya namun tak pernah mendapatkan celah sedikitpun. Saat mendapatkan kesempatan untuk mengkritik Nadia dia tidak akan melepaskan kesempatan itu begitu saja, dia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
“Dimana Nadia?” Tanya Aliwafa.
Mesya sangat gugup, tangannya berkeringat dingin ‘Nadia, kemana kau? Aliwafa akan segera menangkapmu!’
Tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan Aliwafa. Tatapan Aliwafa tertuju kepada Mesya “Mesya dimana Nadia?”
“Nadia dapat masalah dijalan” Sahutnya seketika.
“hah, apa dia sudah membuat ijin?” Aliwafa mencibir.
Mesya menundukkan kepalanya, tidak berani menjawab.
Aliwafa mulai menghina Nadia “Apa pantas seorang siswa pulang lebih awal dan datang terlambat? Tingkahnya tidak menggambarkan seorang siswa.”
Disaat yang bersamaan Nadia tiba di depan pintu, dia memanggil Aliwafa untuk minta maaf atas keterlambatannya.
Tatapan tajam Aliwafa tertuju kepada Nadia, dia menunjuk jam didinding dan berkata “Nadia kau terlambat 5 menit!”
Nadia berdiri didepan kelas, dia menundukkan pandangannya dengan patuh.
Aliwafa terus menghinanya “Nadia kau jangan terlalu sombong, hanya karena kau mencapai posisi peringkat pertama. Kau menjadi sangat sombong dan angkuh, kau jangan berharap keberuntungan akan berpihak kepadamu lain kali!”
Aliwafa masih tidak mau mengakui jika Nadia mendapatkan Nilai bagus karena usahanya sendiri, dia masih berpikir jika Nadia melakukan kecurangan.
Sebelumnya Aliiwafa sudah menerima hukuman dari kepala sekolah, jadi dia tidak berani menuduh Nadia melakukan kecurangan.
Andia dengan patuh berdiri tanpa mendengarkan ejekan Aliwafa kepada dirinya.
“Nadia kelihatannya kau tidak ingin ikut kelasku, kau bisa berdiri diluar kelas.” Ucap Aliwafa dengan senyum tipis diwajahnya.
Anak gadis biasanya sangat menjaga kehormatannya, apalagi banyak siswa dan guru yang lewat di koridor, dia yakin jika Nadia akan berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Jika Nadia tidak ingin dihukum dia harus memohon kepadanya. Dan itulah yang dia harapkan.
Sekalipun Nadia memohon kepadanya, dia tidak akan membiarkan begitu saja. Dia tidak akan melepaskan Nadia dengan mudah.
Jika Nadia tidak memohon kepadanya, dia berencana membuat kelas lain melihat Nadia berdiri di depan kelas, dia ingin mempermalukan Nadia dihadapan para siswa.
Aliwafa sudah siap dengan rencana yang dia buat, dia hanya menunggu Nadia memohon ampun kepadanya.
Nadia melangkah keluar ke koridor, dia melihat pemandangan dari atas sana. Seketika teman sekelasnya merasa iri karena Nadia di hukum, mereka juga ingin keluar dari kelas ini.
Setelah berada di bawah pengarahan Nadia, mereka mulai giat belajar dan memperhatikan pelajaran dengan seksama. Semua itu tidak berlaku untuk kelas Aliwafa.
Fery juga sama dengan yang lainnya, dia tidak ingin ikut kelas Aliwafa. Dia berdiri “Pak Guru, kau juga tahu jika aku juga terlambat, jika Nadia di hukum seharusnya aku juga berada disana.”
Aliwafa mendegus kesal “Jika kau ingin menemaninya, kau bisa keluar.”
“Ok” Sahut Fery dengan santai, dia berjalan keluar dan tidak lupa dia menunjuk beberapa anak buahnya “Guru, mereka juga terlambat.”
Kedua bawahan Fery sangat senang, dapat dilihat dari sorot mata mereka yang berbinar.
Aliwafa tidak bisa berbuat apa- apa, dia hanya bisa menunjuk pintu keluar “Keluar” Ucapnya dengan Nada tinggi.
Jika mereka tidak mau mengikkuti kelasnya, itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, jadi dia tidak mau menahan mereka yang tidak mau ikut kelasnya. Yang dipertaruhkan adalah masa dengan mereka bukan dirinya.
Keempat siswa itu berdiri didepan kelas termasuk Nadia, sementara Nadia menyaksikan pemandangan dari atas sana, sementara Fery dan yang lainnya tertawa, tawa mereka terdengar dari waktu kewaktu.
Siswa kelas 3D memeprhatikan mereka dari waktu- kewaktu, terlihat sangat jelas rasa iri mereka dari sorot matanya.
Aliwafa menjadi sangat marah setelah meliha perilaku mereka, dia membanting buku mata pelajaran Bahasa inggris keatas meja. Tatapan semua murid tertuju kepadanya “ Apa kalian ingin keluar dari kelas?”
Mesya dari tadi sangat iri dengan mereka berempat, dengan berani dia mengangkat tangannya “Guru aku tadi terlambat.”
Melihat Mesya mengangkat tangan, siwa lainnya juga menyusul “Aku juga.”
“Aku, aku juga.” Ucapnya dengan semangat.
“Pak, aku juga terlambat.” Tidak mau ketinggalan.
Lebih dari setengah kelas mengangkat tangannya, hanya tersisa siswa gadis yang malu untuk melakukannya.
Aliwafa sangat marah, ini pertama kalinya terjadi selama ini dia tidak pernah dipermalukan seperti ini, Nadia adalah orang pertama yang melakukan ini, dan sekarang semua murid mulai menentangnya.
Sekarang siswa kelas 3D dengan terbuka tidak ingin mengikuti kelasnya dan dengan berani mengatakan jika mereka ingin berdiri diluar?
Jangan pikir dia tidak tahu jika Kelas 3D menolak kelasnya, menggunakan alasan terlambat.
Aliwafa merasa sangat malu.
Dia adalah guru terbaik diseluruh ibu kota. Seharusnya mereka bersyukur mendapatkan bimbingan darinya, bisa- bisanya mereka malah menolah niat baiknya, Kelas 3D adalah kelas terburuk di ibu kota. Jika nanti Kelas 3D memohon, dia tidak akan mau meluangkan waktunya yang berharga untuk mengajar mereka.
Komen komen, buat keluhannya untuk Aliwafa, biar aku sampaikan nanti kepada guru sombong itu! Kwkwkw
juga boleh kok kalo ada yang mau cerita masalah peribadi.