Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
orang kaya mah bebas


Di Villa. seorang pengawal baru saja memasuki ruang baca Bastina “Presidan introgasinya sudah selesai.”


“Apa yang akan mereka lakukan kepada Nadia?” Ucap Bastian tatapan dingin. Dia tidak akan melepaskan siapapun yang telah menggangu Nadia.


“Rindi menyuruh mereka untuk memebri pelajaran Nadia, sementara Elisa memberi mereka uang 50 juta untuk menodai nona Nadia, mereka disusruh untuk mengambil foto dan mengunggahnya di media sosial, mereka ingin menghacurkan masa depan Nona Nadia.” Ucap pengawal itu.


Bastian sangat kesal, dia ingin membunuh kedua gadis itu, dia mengepalkan tangannya di atas meja, sementara sorot matanya terlihat sangat tajam, butuh beberapa menit untuknya menenang kan emosinya yang meluap.


“setelah selesai penyelidiki kirim mereka ke kantor polisi, jangan biarkan Rindi lolos, setelah kompetisi selesai aku ingin Rindi mendekam di penjara. Selain itu Awasi gerak- gerik Aliwafa jangan biarkan dia lolos dari pengawasan.”


Sebelumnya dia telah menyelidiki Aliwafa, hanya dalam hitungan detik dia bisa menghancurkannya.


“Baik tuan” sahutnya dengan patuh.


“Keluar”


Setelah mendengar perintah Bastian, pengawal itu pergi meninggalkan Villa, hanya ada Bastian seorang di sana.


Dia memijat dahinya, dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, setelah panggilan telopon terhubung, dia menyuruh Asisten Aris untuk menyiapkan pekerjaan yang harus dia kerjakan selama beberapa hari kedepan, setelah itu dia memesan dua tiket pesawat ke bali besok.


Hari berikutnya.


Saat Rindi bertemu dengan Nadia dia sangat terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang dilihat saat melihat sosok Nadia yang baik- baik saja.


Rindi semalaman tidak tidur, dia sangat gelisah saat panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Tio.Dia tidak menyangka apa yang di harapkan tidak terjadi, Nadia terlihat sama seperti biasanya. Semua tidak berjalan sesuai apa yang di inginkan.


Saat ini Aliwafa sangat kesal, dia tidak menyangka akan di tipu oleh seseorang yang mengatakan jika Nadia telah di keroyok oleh pereman. Semalam dia percaya jika Nadia dalam keadaan terlukan parah saat melihat darah yang berceceran ditanah.


Jika pesan itu tidak menyangkut tentang Nadia dia kan berpikir jika pesan itu hanya lelucan, tapi saat nama Nadia di sebut, entah itu lelucon atau fakta dia sangat berantusias untuk membuktikan kebenarannya. Jika informasi yang di dapat asli itu akan menjadi senjata yang kuat untuk mengeluarkan Nadia dari sekolah.


Dari pagi Elisa tidak konsentrasi saat mengikuti mata pelajaran, dia membuat kesalahan saat menjawab pertanyaan Aliwafa, Aliwafa yang kesal meluapkan emosinya kepada Elisa, dia mencacinya tanpa ampun.


Sementara Elisa hanya bisa menundukkan kepala, dia tidak menyangkan jika Nadia akan selamat, jika saja semua berjalan sesuai denga napa yang di rencankan, saat kejahatnnya terungkap dia akan membuat Rindi dan Aliwafa menjadi kambing hitambya. Dengan cara ini dia bisa membunuh nyamuk dalam satu tepukan, senyum sinis menghiasi bibir Elisa.


Dia sangat membenci Aliwafa setengah mati, karena Aliwafa selalu mempermalukannya dari waktu kewaktu saat dia ada kesempatan.


Sayang semua rencanya hancur total. Saat ini Nadia masih sehat dan baik- baik saja. Saat mengingat Nadia terlihat dengan jelas dari sorot mata Elisa jika dia sangat membencinya.


Nadia selalu merebut apa yang dia miliki, dia telah merebut Bastian darinya dan sekarang dia merebut impiannya untuk ikut serta dalam olimpiade Matematika tingkat Nasional yang akan di selenggarakan di Bali.


Dia hanya bisa melihat saat Nadia dan Leni di bawa pergi oleh Tania.


Saat ini mobil Bastian berhenti tepat didepan mereka, dia keluar dari mobil dan berkata “Guru Tania, akua da urusan di Bali, aku akan mengantar kalian kebandara .”


Tania tahu jika Bastian adalah kakak Nadia, jadi dia mengangguk setuju dengan ajakannya.


Seperti biasa Nadia duduk di kursi penumpang, sementara Leni dan Tania duduk di kursi belakang.


Seperti biasa Bastian akan membatu Nadia memsangkan sabuk pengaman untuk Nadia, Nadia yang sudah terbiasa dengan perlakuannya tidak menghentikannya.


Sementara Tania yang berada di kursi belakang memperhatikan interaksi mereka, dia menatap dengan tatapan dengan perasaan ingin tahu. Dia yakin jika ada sesuatu yang tidak beres anata Nadia dan Bastian.


Dalam waktu kurang dari setengah jam mereka sampai di bandara internasional Soekarno Hatta.


Bastian menyerahkan kunci mobinya ke bawahannya yang berada di bandara “Bawa pulang mobilnya.” Saat ini Bastian memawa dua koper ditangannya yang satu milik Nadia.


“Guru Tania selama dua hari kedapan Nadia akan tinggal bersamku, aku sudah memberi tahu kepala sekolah sebelumnya, aku akan mengantarnya besok tetempat Olimpiade.”


Nadia menatap Bastian dengan heran, tapi dia tidak menolaknya, dia mempercayai Bastian.


“Baiklah, kami pergi dulu” setelah itu Guru Tania membawa Leni pergi ke pesawat.


Sementara Bastian membawa Nadia ke frist class. Nadia bertanya “Kak Tyan, kenapa kamu pergi ke Bali?”


Bastian menjawab dengan tenang “Aku ada pekerjaan di Bali, kebetulan kamu pergi ke Olimpiade jadi sekalian aku pergi bersamamu.”


Nadia dengan patuh mengangguh “Ohh”


Setelah pesawat lepas landas, Nadia membaca majalah sebentar, dia merasa sangat ngantuk, dia segera memjamkan matanya.


Batian dengan hati- hati memencet tombol di kursi Nadia, perlahan bagian bawa kursi naik keatas, Nadia merasa nyaman dan memberarkan posisi tidurnya.


Seorang pramu gari datang bertanya “Tuan, anda mau makan…?”


Bastian segera memotong pembicaraannya, dia berbicara dengan suara rendah “bawakan selimut” Pintanya.


Pramugari memandag Nadia yang tertidur, dia segera mengambilkan selimut, dengan cepat dia membawa selimut Kembali.


Satu jam kemudian Nadia terbangun dengan wajah ngantuk.


“Apa kamu lapar” Tanya Bastian antusias, saat mengetahui Nadia bangun. Nadia mengangguk pelan. Setelah itu Bastian memesan makanan untuk Nadia ke pramugari yang lewat.


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit makanan yang di pesan datang, Bastian memesankan lobster dan steak untuk Nadia.


Nadia dengan lahap menikmati hidangan itu, setelah enam suapan dia menyudainya.


Setelah pesawat menndarat, dan turun dari pesawan Bastian menggandeng tangan Nadia dengan santai, dia melihat Nadia terkejut dan berkata “Ada banyak orang disini aku tidak ingin kita terpencar.”


“…” Nadia dengan patuh membiarkan Bastian memegang tangannya.


Saat ini bandara sangat sepi tidak seperi biasanya, jadi mereka dapat dengan mudah segera pergi dari bandara, di depan pintu masuk bandara seorang pria berjas hitam memberikan kunci kepada Bastian “Presinden, ini kunci mobil anda.


Bastian mengambil kunci mobil itu, setelah memasukkan hoper ke bagasi belakang mobil, dia menoleh kearah Nadia dan berkata dengan lembut “Nadia ayo naik.”


Bastian membawa Nadia ke Villa yang terletak di pinggiran pantai di area khusus, Bastian baru saja membelinya kemarin.


Jangan lupa like komen vote sebagai bentuk dukungan untuk novel ini. Makasih


Novel baru aku Pernikahan kontra, menceritakan Jihan yang dengan terpaksa melakukan pernikan kontrak dengan pria yang di cintai, sementara Suaminya David mencintai Wanita lain.