
“Baiklah, siswa Nadia kamu boleh keluar sebentar.”
Nadia keluar ruangan, Tania jiga ikut keluar dia tidak berpartisipasi karena dia dari SMA Tunas Bangsa. Sementar Sulia sudah pergi dari tadi. Pengawas, ahli matematika dan reporter yang berada di ruangan itu.
Sementara jeni keluar dari ruangan itu dengan raut wajah yang sangat menyedihkan.
Nadia dengan enggan berkata “Jeni bukankan sebelumnya kau ingin minta maaf kepadaku?” Nadia tahu jika Jeni tidak akan minta maaf kepadanya.
Sebelumnya Nadia tidak akan membahas masalah ini, tapi setelah melihat jika Jeni tidak pernah belajar dari masalah sebelumnya dia berencana untuk memberinya pelajaran.
Semua siswa yang mendengar ucapan Nadia menoleh kearah mereka, jika Nadia tidak membahas masalah ini, mereka akan melupakan kejadian yang terjadi kemarin.
Jeni sangat kesal raut wakahnya memerah dengan kesal dia berkata “Nadia kamu jangan terlalu sombong, anda akan tamat jika kamu tidak bisa mengisi soal itu nanti.”
“aku bertanya apa kau tidak mau minta maaf” Ucap Nadia penuh tekanan.
Saat ini Raut wajah Jeni memerah, matanya memera hamppir menangis karena kesal, saat ini tidak ada seorangpun yang perduli dengannya, semua orang hanya menonton seolah- olah mereka menemukan pertunjukan yang bagus.
Dengan sombong jeni mengangkat kepala dan berkata “apa kau berani membuktikan jika kamu tidak melakukan kecurangan?”
“tentu” sahut Nadia dengan senyum tipis.
“aku yakin jika kamu memlakukan kecurangan” Ucap Jeni masih tidak mau meminta maaf, dia tidak bisa memaksa dirinya untuk meminta maaf kepada Nadia, egonya sangat tinggi, dia tidak mau melukai harga dirinya.
“Murid Jeni, apa yang akan kamu lakukan jika Nadia berhasil mengerjakan semua soal dengan waktu yang sudah ditentukan? Apa kau akan minta maaf kepadanya?” Tanya Leni.
Di hadapan banyak guru dan siswa jeni tidak punya jalan selain meminta maaf kepada Nadia “Ya aku akan melakukannya.” Walau begitu dia masih yakin seratus persen jika Nadia melakukan kecurangan.
Diam- diam Tania memberi dua jempol kepada muridnya, sebagai seorang guru dia tidak bisa ikur campur masalah siswa. Dia merasa lega saat melihat Leni mewakili dirinya mengungkapkan amarahnya, saat ini emosinya menjadi setabil.
Saat ini kuri dan para akhi matematika sudah selesai menulis pertanyaan. Mereka meminta Nadia untuk kemabali.
Nadia dengan serius menulis jawaban di selembar kertas, hampir orang yang berada di ruangan itu menahan nafas, agar tidak mengganggu konsentrasi Nadia, sementara Jeni berada di luar ruangan dengan raut wajah cemas, dia menjadi sangat gugup saat menunggu hasil ujian Nadia.
Semua orang menikmati melihat visual Nadia yang sangat cantik, jari tangannya yang ramping menulis jawaban dengan sangat cepat, dia menulis jawaban kurang dari dua puluh detik, namun tulisannya sangat rapi dan rapi.
Sementara Jeni yang melihat Nadia tenang dan tidak tergesa- gesa membuat Jeni merasakan firasat yang sangat buruk, semalin lama perasaah buruk yang dia rasakan semakanin membesar seperti bola salju.
Dan pada akhirnya Nadia menyelesaikan semua pertanya dalam waktu tuju menit, dia meletakkan pena kemudian berkata, tanpa niat untuk mengoreski jawabannya “Aku sudah selesai”
Salah satu Juri terkejut dan membuka mulut “Siswa Nadia, apa kau tidak mau mengoreksinya lagi?"
Semua juri yang menyaksikan bagaimana Nadia menyelesaikan pertanyaan, di buat terkejut dari waktu kewaktu.
Dia hanya melihat soal hanya dalam beberapa detik dan kemudian menulis jawaban, yang dia lakuakn seolah dia telah mengetahui semua jawaban itu tanpa harus berpikir. Dengan kecepatan Nadia tidak heran jika orang lain berpikir jika Nadia melakukan kecurangan.
“tidak perlu” Ucap Nadia dengan percaya diri.
Jangan lupa like komen, makan , vote, minum, mawat, sebagai bentuk dukungan untuk novel ini.
Merdeka.