Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Gatot


Di Gedung asosiasi, salah satu staf memberikan dua gelas Air mineral untu Elisa dan Gatot.


“Aku dengar jika kemarin ada kuda liar yang tiba- tiba mundul dalam komperisi melukis kemarin, dan memenangkan peringkat pertama?” Tanya Gatot dengan nada menghina.


Staf Asosiasi bisa menebak masuk dari ucapan Gatot, sedikit penghinaan terlintas dimatanya, dengan nada hormat dia menjawab “Itu benar tuan, Ketua asosiasi sangat menyukai lukisannya, dia seniman Bernama Nad”


“Apa lukisannya sebagus itu?” Ucap Gatot dengan nada menghina, sambil meminum air yang disuguhkan.


Sementara Elisa mendnegarkan dengan penuh perhatian, dia menggengam erat tangannya.


Anggota staf Asosiasi itu menjawab dengan tenang “Kali ini saya tidak ikut menyeleksi, tapi setelah ketua asosiasi sendiri yang memberi penilaian, aku yakin jika lukisan itu tidak buruk.”


“Hah benerkan” ucap Gatot dengan nada mengejek “Aku harap bukan karena alasanlain, aku sudah melihat hal- hal seperti ini sebelumnya.”


Wajah staf itu menjadi tegang, ucapan gatos sama saja dengan mengatakan jika saat ini Asosiasi tidak jujur dan menerima suap.


Mengkritik Asosiasi yang mereka banggakan, membuat staf itu tidak sabar “Pak Gatot, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku sangat sibuk, sebentar lagi ketua akan datang.”


Setelah mengatakan alasan itu dia segera pergi.


Hanya Gatot dan Elisa yang tersisa diruangan tamu.


Elisa sangat gugup dia memandang Gurnya kemudian bertanya “Guru jika dia mengandaklan kemampuannya, dan dia memang sangat hebat. Ini akan merugikan kita karena telah melakukan ini?”


Gatot melirik Elisa “Kita kesini hanya untuk memastikan apa ada orang dalam yang membantunya” Setelah jeda dia berkata “Kau harus memenangkan peringkat pertama lomba Lukis ini.


Kompetisi melukis ini adalah batu lompatan yang bagus untuk menjadi pelukis terkenal di masa depan.


Gatot tidak ingin melepaskan kesempatan ini begitu saja.


Elsia mengerti maksud dan tujuan Gurunya, dia bisa bernafas lega.


Beberapa saat kemudian Hendra Gunawan datang “Senior” sapanya dengan hormat.


Dipasaran saat ini peminat Lukisan Hendra Gunawan meningkat, berbanding terbalik dengan Gatot, tapi walau bagaimanamun karena Gatot orang yang lebih dulu terkenal pada masa itu, Hendra memperlakukannya dengan hormat.


“Kali ini kandidat yang menerima peringkat pertama adalah Nad dan Vivi, aku tidak meragukan karya Vivi, tapi Nadia aku belum pernah tahu tentangnya, aku mulai bertanya- tanya seperti apa lukisannya sampai- sampai menarik perhatianmu Ketua Hendra?” Ucap Gatot dengan Nada sinis.


Saat Hendra melihat Elisa, dia berpikir jika gadis muuda itu adalah murid Gatot Subroto.


“Benar” Ucap Gatot tanpa menutup- nutupi “aku berpikir meskipun muridku tidak berada dilevel yang sama dengan Vivi, tapi aku yakin jika dia lebih baik dari pada orang lain.”


“Baiklah, jika muridmu memang terbaik seperti yang kau katakana aku akan memberikan tempat itu untuknya” Ucap Hendra dengan sopan. Dia menatap Elsia “Siapa namamu?”


“Elisa Kusuma” sahutnya dengan senyum cerah.


Hendra menganggu, dia berjalan kekantornya mengambil dua lukisan dan Kembali, salah satu lukisan itu milik Elsia, Hendra membuka lukisan itu dan bertanya “Apa ini lukisanmu?”


“Iya” sahut  Elisa.


Elisa menggambar adegan seorang ibu yang duduk memeluk jasad putranya yang meninggal, dalam keadaan natah natah gersang dan panas yang menyiksa.


“Karya yang bagus” Hendra mulai berkomentar “Lukisan ini memang menggambarkan tentang rasa sakit seorang ibu yang kehilangan anaknya karena kelaparan yang melanda, perasaan sakit itu terlihat sangat dangkal. Sorot mata ibu itu tidak menunjukkan kesedihan sedikitpun, selai itu setiap goresa yang dibuat sangat kaku hal itu memperlihatkan banyak kekurangan dalam lukisan ini.”


Hendra mejelaskan kekurangan Elisa dalam melukis, hal itu membuat Elisa menajdi sangat tegang.


Saat ini Gatot Subroto merasa tidak enak, dia sangat kesal, dia adalah seorang master selama beberapa gekade. Tidak bisakah dia memberinya sedikit muka?


Hendra masih tersenyum sopan “ Lukisan ini memang sangat luar biasa dibandingkan dengan para pelukis di usia yang sama. Namun saat dalam kompetisi melukis, kulisan ini tidak menonjol sama sekali.”


Dengan kata lain dia tidak berniat untuk mengubah posisi pemenang.


“perlihatkan aku lukisan Nad itu” Ucap Gatot Subroto tak sabar.


“Ini” Ucap Hendra sambil memberikan lukisan itu kepada Gatot Subroto.


Gatot mengambilnya, dia membuka lukisan itu dengan tatapan meremehkan. Nad hanyalah seorang pemula, selama ini Elisa telah menerima bimbingan darinya, bagaimana mungkin lukisan muridnya lebih rendah dari pada pendatang baru ini?


Saat dia melihat lukisan itu, dia mencibir Hendra “Apa ini lukisan yang kau banggakan itu ketua Hendra?”


“Perhatikan dengan baik” Ucap Hendra dengan santai.