
Wahyu dengan buru- buru menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan, setelah selesai dia pergi kerumah sakit.
“Tadatangani surat ini” Ucap wahyu sambil menyodorkan dokumen kepada Lidia.
“Apa ini?” Tanya Lidia setelah membaca isi dokumen.
“Pak Hery supomo menginginkan Nadia memutus hubungan dengan kita” Ucap Wahyu.
“Apa pemimpin Perusahaan B.A Group menolak kakak?” Tanya Elisa antusias.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu tertarik dengan pemimpin perusahan B.A Group, sebelumny akau mencari gara- gara dengannya, dan tidak sampai situ saja kau baru- baru ini berulah lagi dan membuat Perusahaan kita menjadi sasaran kemarahannya” Ucap Wahyu dengan sinis.
“Ayah aku bahkan tidak pernah mengenal siapa itu pemimpin Perusahaan B.A Group bagaimana mungkin aku membuat masalah dengannya” Ucap Elisa membela diri, dia sama sekali tidak pernah membuat masalah yang dituduhkan.
Mendengar Elisa di pojokkan Lidia membuka mulut “Suamiku ini pasti sebuah kesalah pahaman.”
“Kau pikir Pemimpin B.A mengarang cerita?”
Cibir Wahyu dengan raut wajah tak suka, Wahyu menatap Elisa dengan sinis kemudian berkata “Kau jangan kemana- mana sampai oprasimu selesai”
Sementara Lidia segera menandatangai dokumen yang diberikan Wahyu. Wahyu segera mengambil dokumen itu dan membawanya pergi.
Di kantor Hery Supomo.
Wahyu memberikan Dokumen sebelumnya kepada Hery supomo “Pak ini dokumen yang telah aku janjikan.”
Hery supomo mengambil dan membuka dokumen itu “Ok aku akan meminta bagian keuangan untuk mentransfer uang tersebut.”
Wahyu menggela nafas lega karena perusahaannya mampu melewati krisis ini “Pak Hery aku akan menghubungi Nadia, memintanya untuk datang kesini.”
Hery mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Wahyu, saat ini bahkan masih jam sekolah. Wahyu memang tidak pantas menjadi orang tua dari Atasannya.
“Tidak perlu, kau bisa pergi” Ucap Hery supomo tidak sabar.
Wahyu tegang.
Sekertaris Hery supomo datang meminta Wahyu untuk pergi.
sepulang sekolah Nadia pergi keperusahaan untuk mengambil dokumen dari Hery Supomo bersama dengan Bastian, setelah itu pergi kerumah keluarga Kusuma untuk mengemasi barang- barang Nadia, sementara Nadia mengemasi barang, Bastian menunggu di mobil dia memarkirkan mobilnya di luar gerbang keluarga Kusuma.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit Nadia sudah selesai mengemasi barang- barangnya, dia hanya membawa satu koper karena dia memang tidak begitu memiliki banyak barang.
Saat Nadia berada di ruang tamu membawa Koper, Lidia dan Elisa baru saja sampai rumah.
“Nadia kamau mau kemana?” tanya Lidia, dia mengerutkan keningnya saat melihat Nadia membawa koper di tangannya.
Nadia tersenyum “Bukankah ini yang adan inginkan, aku sudah keluar dari keluarga ini dan kedepannya kita tidak memiliki hubungan satu sama lain, permisi aku harus segera pergi.” Ucap Nadia kerena saat ini Lidia dan Elisa menghalangi jalurnya.
Selama ini Lidia sangat menginginkan Nadia ditendang keluar dari keluarga Kusuma, karena dia berpikir jika Nadia pembawa sial. Sementara saat melihat Nadia akan pergi dia merasa sesak didadanya.
Hal itu bukan karena dia tidak ingin Nadia pergi, tapi karena melihat Nadia sangat bahagia saat keluar dari keluarga Kusuma.
Sebagai seorang ibu yang mengandung anak selama Sembilan bulan sepuluh hari, dia merasa sangat kecewa dengan sikap Nadia kepadanya, karena Nadia tidak pernah perduli dengannya, dia tidak pernah memperlakukannya sengan baik.
Dan sekarang anak yang telah dia lahirkan berencana untuk diam- diam pergi tanpa berpamit kepadanya.
Lidia sangat kesal, dengan sinis dia berkata “Nadia kau tidak memiliki bakti kepada orang tua kandungmu.”
Sementara senyum cerah di wajah Nadia tidak luntur sedikitpun “Kalian telah menjualku! Mengapa masih menginginkan bakatiku? Bukankah kau terlalu serakah?”
“Nadia!” Lidia sangat marah, dia menatap Nadia dengan tatapan tajam, apa yang dikatakan Nadia tepat menusuk hatinya, dia telah menginjak harga dirinya.
Selama Nadia Kembali kekeluarga Kusuma Lidia tidak pernah memperlakukan Naadia sebagai puutrinya, di matanya Elisalah putri kandungnya.
Lidia mencibir “Baiklan aku ingin lihat apakah kau bisa bertahan hidup diluar sana, jangan pernah Kembali apapun yang terjadi, aku tidak perduli kau mati kelaparan di pinggir jalan!”
“Kamu tidak perlu menghawatirkan kehidupanku” Sahut Nadia dengan acuh tak acuh.
Bantu like.
Menurut kalian Lidia terlalu serakah apa tidak?