
Sementara di kantor Guru Pak Sigit menjawab hinaan mereka “Memangnya siapa guru yang tidak menyukai murid berprestasi, Entah itu siswa berprestasi atau siswa nakal mereka tetap siswa dari sekolahan ini, sebagai seorang guru seharusnya kalian tidak pernah mengeluarkan kata-kata seperti itu, Kalian tidak pantas menjadi seorang guru”
“Pak Sigit” Seru Ali wafa dia sangat merah.
Setelah memberi pukulan telak kepada Aliwafa, Sigit segera keluar dari kantor guru dia tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu dengan orang seperti mereka, Sementara guru yang lainnya mulai menenangkannya.
“Sudah Pak Aliwafa biarkan orang sombong itu, setelah hasil ujian keluar dia akan menyesali tindakannya saat ini.”
“Kau adalah guru terbaik di sekolah ini, tidak ada orang lain yang bisa merebut posisi itu”
Guru kelas B dan C, secara bergantian menghibur dirinya. Mendengar pujian dari kedua guru itu Aliwafa suasana hati Aliwafa menjadi baik seketika. Namun saat melihat kearah Pak Sigit dia menjadi kesal.
Dikelas 3A Leo mencibir Elisa “Mengapa ada orang yang sangat percaya diri jika dirinya sangat populer, apa dia tidak punya kaca dirumah?”
Mendnegar hal itu membuat Elisa sangat marah, dia segera duduk di mejanya, dia segera membenamkan wajahnya dia tidak ingin orang lain melihatnya.
Sementara Leo hanya tersennyum tipis dengan tatapan mengina saat melihat kearahnya. Saat ini Nadia dan Elisa berada diruangan ujian yang sama. Leo berada didepan tempat duduk Nadia semntara Elisa berada di tempat duduk paling belakang.
Leo sangat ingin berbicara Dengan Nadia, sesekali dia melihat kebelakang untuk melihatnya.
“Apa kau punya masalah?” Tanya Nadia acuh tak acuh.
“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan siang nanti?” Ucap Leo.
“Hari ini aku sangat ngantuk” sahut Nadia.
“OK” Seru Leo denganraut wajah kecewa. Dia berpikir jika antara Nadia dan kakak sepuppunya Bastian memiliki kesamaan, yaitu memperlakukan orang lain dengan dingin ‘Pasangan yang serasi’ Cibir Leo dalam hati.
Saat Elisa memperhatikan Leo yang yang mengajak Nadia bicara, dia menjadi kesal pasalnya dia sudah melakukan segala cara untuk bisa dekat dengan Leo tapi dia tidak berhasil, tapi gadis kampung itu dengan mudah menarikk perhatiannya.
Sebelum dia jatuh cinta kepada Bastian, dia sudah lebih dulu jatuh cinta kepada Leo, Leo memiki wajah yang tampan tapi Bastian jauh lebih tampan darinya.
Seorang siswa laki-laki yang memperhatikannya segera memberi perhatian “Elisa apa kau baik- baik saja?”
Elisa segera melepas pensil yang sudah patah menjadi dua itu, dia juga segera menekan emosinya “Aku tidak apa-apa, terima kasih untuk perhatiannya” Ucapnya dengan Nada suara lembut seperti biasanya.
“Syukurlah, aku khawatir jika kau terluka”
Elisa hanya menanggapi dengan senyum ramah ‘Mengapa malah orang seperti kecebong ini yang memperhatikanku, seharusnya yang memperhatikanku pria tampan seperti Leo’ Pikir Elisa dalam hati.
Saat ini Guru yang ebrtugas membawa kertas ujian sekaligus pengawas ujian masuk, dia segera membagikan kertas ujian, saat ini ujian pertama adalah Matematika.
Nadia melihat soal itu sebentar kemudian segera mengerjakan soal, dia menulis jawaban dengan sangat rapi.
Guru memperhatikan Nadia dengan seksama, selama ini Nadia mendapatkan nilai 90 saat ujian biasa, saat melihat kertas jawaban Nadia guru itu berpikir jika kali ini Aliwafa akan menyesali keputusannya.
Sikap Aliwafa kepada guru lain sangat buruk, hampir semua guru tidak menyukainya, guru yang menempel dengannya tidak sepenuhnya suka dengannya, mereka hanya menunggu waktu saat Aliwafa dipermalukan. Mereka hanya bersikap sopan didepan saja.
15 menit kemudian Nadia sudah berhenti menulis, matematika adalah keahliannya, dia tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengerjakan soal itu.
Sementara Guru pengawas yang memperhatikan dirinya dari waktu kewaktu mulai binggung. Apalagi saat melihat Nadia berjalan ke meja Guru, dia segera bertanya “Siswa Nadia ada apa?”
“Aku ingin menyerahkan kertas ujianku” Ucap Nadia dengan sopan
“…” pengawas itu terkejut. Dia mengulagi pertanyataan Nadia “menyerahkan kertas ujian?”
“Iya” Sahut Nadia dengan patuh.
“Baiklah, kau bisa pergi” Ucap Guru itu sambil memberi isyarat dengan tangan.
Jangan lupa. Like. Komen. Follow. Vote dan bagikan yaaa, plus kasih saran