
Dengan santai Nadia menjawab “Hanya teman.”
“kakak” Ucap Elisa dengan ragu kemudian melanjutkan. “Aku melihatnya mengupas kepiting untukmu. Seorang teman tidak bisa bertindak terlalu dekat seperti itu.”
Elisa sangat membencinya dia ingin jika Nadia berpisah dengan pria tampan itu, jadi dia sengaja memberi tahu Wahyu dan Lidia, hal itu membuah Kusuma membenci Nadia.
Bagaimanapun dia hanya putri angkat. Pada akhirnya hubungan darah jauh lebih kental dia takut jika suatau saat keluarga Kusuma mencampakannya, Kusuma dan Lidia membencinya.
Jadi dia berusaha untuk selalu mencuci pikiran kedua orang itu lagi dan lagi.
Nadia tidak memperdulikan ocehan Elisa dengan santai dia menikmati makan malam . dia tidak perduli dengan sikap Wahyu dan Lidia, tidak perduli bagaimana dia menjelaskan kedua orang tuanya itu tidak akan mempercayainya itu hanya akan mebuang-buang tenaganya.
Melihat tidak ada respon dari Nadia, Elisa segera menambahkan “KAkak aku tidak bermaksud buruk, aku hany khawatir jika kakak akan terluka olehnya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya terdengar seolah dia mengkhawatirkan Nadia.
Melihat Elisa yang diabaikan, Lidia tidak terima dia segera berkata untuk menenangkan hati putrinya “Elisa, kamu tidak harus memeprhatikan seseorang, karena tidak semua orang bisa mengertikan akan niat baikmu. Kau tidak perlu melakukan itu, kamu putriku bukan seorang pelayan.”
Raut wajah Wahyu padam. Mengupas kepiting?
Wahyu menatap tajam Nadia dan mencibirnya “Nadia berapa umurmu saat ini? Kamu baru sampai di Jakarta dan kau berkencan? Apa kau lupa jika kau saat ini kelas tiga SMA. Seharusnya kau belajar untuk ujian akhir!”
Melihat nadia tidak memperdulikan ucapannya, membuat Wahyu sangat marah dia sangat kesal saat ini.
Seperti yang diharapkan untuk orang yang tdibesarkan diluar rumah. Dia bahkan tidak memperdulikannya sebagai seorang ayah!
Kesabarannya sudah habis, dia menujuk kearah pintu utama “Jika kamu tidak mau berpisah dengan pria itu. Keluarga Kusuma tidak membutuhkan anak perempuan sepertimu yang menggoda pria di usia muda!”
Perlahan Nadia meletakkan sendok perlahan, dia sudah kenya selama waktu itu, dengan santai dia menjawab “Aku tidak sabat untuk itu, namun sebelum semua itu tolong keluarkan aku dari kartu keluarga keluarga Kusuma, karena anda yang teelebih dulu membahas untuk memutuskan hubungan ini, aku harap bisa diproses dengan cepat.”
“Kau!” Seru Wahyu kesal dengan sikap Nadia.
Walau bagaimanapu dia tidak akan membiarkan Nadia keluar dari keluarga Kusuma, dia hanya ingin jika gadis kecil itu berhenti membangkang. Dia tidak pernah berharap jika Nadia akan membangkang.
Setelah itu nadia beranjak dari kursi dengan senyum tipis, meninggalkan ruang makan dengan suasana mencekap itu.
“Aku kennyang.” Ucap Lidia setelah mengambil nafas dalam- dalam dia Kembali berkata “sejak kedatangannya ke sini rumah ini tidak pernah menerima kedamaian.” Dia berdiri dan melangkah pergi, sementara Elisa mengejarnya.
Sementara Wahyu bersandar dikursi sambil menghela nafas Panjang.
Istrinya sangat lembut dan baik hati. Bagaimana bisa dia melahirkah anak perembuan seperi itu? Meskipun orang tua Elisa orang kampung tapi semua orang memujinya karena sekap baik dan lembutnya?
Nadia sama seklai tidat terlihat seperti keluarga Kusuma dari sudut pandang manapun. Akan sulit membuat orang menyukainya.
Di dalam kamar Nadia duduk sambil mengingat kejadia dikehidupannya sebelumnya, dulu dia diam-diam membantu keluarga Kusuma menangani perusahaan, dan hal itu membuatnya mengetahui banyak informasi seputar kehidupan para milyader.
Dia bisa membuat mereka untuk bekerja dibawahnya. Nadia adalah seorang pembisnis secara alami dia akan memikirkan sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya, tentu saja itu berkat pengalaman yang telah dia lalui di kehidupan sebelumnya, membuatnya secara membabi buta menggunakan orang lain untuk keuntungannya sendiri.
Namun masih ada perbedaan antara dirinya dan Elisa!
Dia menulis diatas kertas ‘Heri supomo’