Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Asosiasi lukis


Bastian duduk di bangku pengemudi sementara Nadia duduk disampingnya, dia mengantar Nadia pulang “Nadia” Panggil Bastian saat Nadia sendang membuka sabuk pengaman.


Dia mengeluarkan sekantong penuh permen susu “Jika sudah habis hubungi aku.”


“terima Kasih kak Tyan” Ucap Nadia, dia membuka bungkus permen itu dan memakannya. Nadia sangat suka permer setiap harinya dia hampir selalu makan permen.


Melihat itu Bastian tersenyum puas, dia merasa Bahagia.


..


Pendaftaran Lukisan di Asosiasi Jakarta telah ditutu, saat ini mereka sudah memilih lukisan, ada lebih dari seribu lukisan yang telah diterima, setelah melakukan seleksi hanya tinggal 200 lukisan yang tersisa.


Antusias para pelukis muda sangat besar, bisa memenangkan perlombaan ini mereka kan mendapatkan hadia uang yang cukup besar dari asosiasi Lukis dan reputasi Asosiasi juga akan meningkat.


Pihak yang memilih lukisan yang lolos babak pertama adalah pihak Asosiasi, selanjutnya ketua asosiasi yang akan mengambil keputusan. Mereka menilai dengan kecepatan kilat.


Hari ini ketua Asosiasi. Hendra gunawan menilai langsung Lukisan para peserta, dia didampingi oleh beberapa staf termasuk Rinta “Masih ada berapa lukisan lagi?”


Staf itu menjawab “masih ada 50 lukisan pak.”


Hendra gunawan menganggukkan kepalanya “Baiklah, kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian.”


Hendra gunawan berjalan di gallery dia tidak sengaja melihat Lukisan yang telah di singkirkan, dia melihat lukisan itu dengan seksama dia mulai memebri penilaian. Setelah itu dia memperhatikan lukisan lian setelah menilai beberapa lukisan, pandangannya tertuju lagi ke lukisan itu kemudian mengambilnya.


Dia dipenuh oleh emosi saat memperhatikan lukisan itu, sangat jarang pelukis yang bisa menuangkan kesedihan dalam lukisannya.


Setiap kali dia melihatnya dia menemukan kesedihan dari lukisan itu.


Salah satu staf Asosiasi memperhatikannya die segera berlaeri bertanya kepdanya “Ketua Asosiasi apa ada masalah? Sebelumnya sorang staf ingin mempertahankan lukisan itu, Menurutku Lukisannya sangat monoton.”


“Jadi kau yang menyingkirkannya?”  Hendra gunawan bertanya. Sambil memperhatikan Lukisan itu.


“Iya.” Sahut Staf itu dengan santai. Kesan pertama ynag dia lihat saat melihat lukisan ini hanya biasa saja. Tapi setelah dia melihat ketua Asosiasi memperhatikan lukisan ini, dia mulai gugup “Ketua, apa ada yang salah?”


Dia menyerahkan lukisan itu kepada Staf Asosiasi “Perhatikan baik- bak.”


Staf itu melihat Lukisan monotan itu. dia mulai berpikir apakah Ketuanya menyukai lukisan seperti ini?


Sudah semenit lebih dia memperhatikan lukisan itu, dia menajdi gugup, dia segera minta maaf kepada kutua “Ketua maafkan aku, aku melakukan kesalahan.”


Jika ketua Asosiasi tidak datang hari ini, lukisan itu akan tersingkir dan bakat seniman muda itu akan terkubur begitu saja.


Jika lukisan itu diperlombakan di tingkat Nasional dia yakin jika lukisan kemungkinan menang akan sangat tinggi.


Hendra gunawa tidak memarahi staf itu, karena dia tahu jika dia bukan seorang ahli dalam bidang itu, dia menayakan siapa Staf yang ingin mempertahankan lukisan ini. Setelah itu Rita dipanggil oleh Hendra gunawan.


“Kedepannya kalian harus melakukannya dengan teliti jangan terburu- buru.”


Anggota Staf memiliki pemikiran yang sama, keduanya mengangguk “Siap pak.”


Hendra gunawa tidak meninggalkan Lukisan itu, dia meminta Rita untuk membawa lukisan itu ke ruangannya.


Hendra gunawan tidak bisa membiarkanya begitu saja, semakin dia melihatnya semakin dia jatuh hati


“Bagaimana kau bisa menilai lukisan itu?” Tanya Hendra Gunawa sedikit penasaran.


“Seseorang kenalanku sangat menyukai lukisan, dia sering mengajakku berkunjung ke gallery.” Ucap Rita jujur.


Hendra Gunawan mengangguk paham, setelah diruangannya dia melihat tandatangan diatas lukisan itu ‘Nad’ dia berencana untuk membuat pelukis itu berada di naungannya. Dia ingin segera bertemu dengan pelukis mud aitu.


Hendra Gunawa adalah seniman Lukis yang sangat terkenal di manca negara, banyak dari orang asing yang sangat berminat dengan lukisannya, tapi dia bukan orang yang sombong, dia ingin membuat Asisiasi pelukis ditanah air mendunia.


Di sekolah.


Nadia baru saja berkeliling di taman sekolahan, dia tidak sengaja bertemu dengan Leni, leni berjalan dengan sangat cepat saat melihat Nadia dia berhenti untuk menyapanya  dengan ramah “Nadia selamat, kau melakukan yang terbaik saat ujian.”


Sejak kecil Leni adalah anak yang sangat jinius, ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang bisa melampaui dirinya. Dia tidak pernah berpikir jika dia akan bertemu dengan siswa jinius seperti Nadai. Dia merasa Bahagia untuk Nadia, dia tidak memiliki rasa iri dalam hatinya.


Nadia telah mendengar banyak tentang Leni dari teman sekelasnya. Leni adalah anak sangat bekerja keras untuk dirinya, dia juga harus merawat neneknya yang menderita penyakit kronis.


Banyak orang yang memberi bantuan untuknya, begitupun pikah sekolah, tapi Leni tidak mau bergantung pada bantuan itu begitu saja.


Tapi dia terpaksa menerima bantuan itu untuk membayar perawatan neneknya dirumah sakit. Sekarang uang yang dia miliki semakin menipis.


Nadia ingat di kehiduppan sebelumnya, Leni tidak mengikuti ujian untuk masuk ke universitas, karena saat yang bersamaan kondisi neneknya memburuk, dia harus bekerja untuk mendapatkan biaya rumah sakit.


Nadia tersenyum “Kau juga tidak terlelu buruk.”


Leni melihat jam tangannya, dia sangat buru- buru “Teman ada hal yang harus ku lakukan, aku pergi dulu.” Ucapnya, dia segera berlari, dia baru saja menerima panggilan dokter jika dia harus segera kerumah sakit.