Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Bastian si bucin


Sebelumnya Bastian telah menyuruh seseorang untuk membersihkan Villa dan menyiapkan segala macam yang diperlukan seperti peralatan mandi, pakaian dan beberapa buku untuk Nadia.


Sesampainya disana dia mengecek Kamar Nadia. Setelah dia semua sesuai dengaan apa yang dia harapkan dia pergi.


Sebelum pergi dia bertanya “Nadia mau makan malam di sini atau diluar?”


“disini” sahut Nadia.


“Baiklan aku akan segera menyiapkannya” Ucap Bastian dengan penuh kasih.


“aku akan membantumu” UcapN Adia antu sias walau dia sedit ragu, karena dia tidak bisa melakukan pekerjaan dapur dengan baik.


“Tidak perlu, istirahtlah aku akan memanggilmu nanti setelah semua siap” Bastian tidak akan membiarkan gadis yang dia cintai pergi kedapur, dia sudah berjanji pada dirinya sindiri jika dia tidak akan membiarkan Nadia melakukan sesuatu yang berbahaya, dia takut jika Nadia akan melukai jarinya saat memegang pisau, takut jika kulitnya akan terkena minyak panas.


Dengan patuh Nadia menjawab “OK.”


Setelah itu Bastian pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam untuk Nadia, dalam waktu satu jam dia sudah menyiapkan empat menu yang berbeda, Bastian sangat berbakat dalam memasak, kemampuannya sama dengan para koki bintang lima. Setelah menyiapkan semua dia memanggil Nadia.


Saat ini mereka berdua sudah berada di meja makan “Nadia makanlah yang banyak setelah ini tidurlah, kamu butuh istirahat yang cukup untuk besok.”


Bastian mengupaskan udang untuk Nadia dan menaruhnya di piringnya. Bastian selalu memperhatikan Nadia dengan sangat baik, Nadia sangat senang dengan perhatiannya.


“Kak Tyan kamu juga, makanlah lebih banyak” Ucapnya sambil mengambilkan beberapa hidangan ke piring bastian.


Nadia tidak pernah bersikap perhatian kepada orang lain, dia selalu memperlakukan orang lain dengan dingin tapi beda saat dia bersama dengan Bastian dia menjadi orang yang lebih pengertian.


Melihat sikap perhatian Nadia, Bastian merasa sangat bahagia, dia tersenyum saat melihat laun yang ada di piringnya. Dia dengan laham memakan itu semua.


Seperti biasa Nadia tidak makan terlalu banyak dia hanya makan beberapa suap, setelah selesai Bastyan menyuruhnya Kembali kekamar untuk beristirahat.


Pagi berikutnya.


Nadia bangun jam setengah enam, setelah selesai mandi dia turun, dan tidak sengaja mendnegar suara dari dapur. Bastian memperlakukannya dengan sangat baik, dia menyiapkan apa yang dia perlukan dengan sangat sempurna.


Orang tauanya bahkan tidak pernah tertarik padanya, di mata mereka Elisa adalah yang utama, bahkan mereka tidak pernah menanyakan dia akan melanjutkan Kuliah dimana, Mereka hanya sibuk dengan Elisa dan Elisa.


Dikehidupan sebelumnya Nadia selalu menolak perhatian yang diberikan Bastian kepadanya dengan segala cara, dan dia selalu berusaha untuk menarik perhatian orang tuanya , namun sampai akhir hidupnya mereka tidak pernah menganggapnya sebagai anak kandung mereka sendiri, entah itu kehidupan sebelumnya dan Sekaran Elisa selalu mejadi pusat perhatian mereka.


Saat ini Bastian keluar dari dapur, dia mengenakan kaus putih, celana Panjang dan celemek hitam.


Saat melihat Nadia, Dia tersenyum dan berkata “Nadia cepat sarapan, setelah selesai aku akan mengantarmu.”


dia meletakkan Segelas susu di samping Roti bakar, kemudian menarik meja untuk Nadia, setelah itu dia Kembali kedapur untuk mengambil sarapannya.


Nadia dengan santai menggigit rotinya, saat melihat Bastian Kembali dengan sarapannya dia bertanya “Kak Tyan, aku kepikiran apa di masa depan nanti sikapmu akan berubah saat kau memiliki kekasih? Apa kamu tidak akan memperlakukanku dengan baik?”


Sementara Nadia berharap jika Bastian akan selalu memeprhatikannya dengan baik, dia tidak ingin melepaskan kehangatan keluarga yang dia dapatkan dari Bastian dan nyonya tua Sinta, dia ingin mempertahan semua ini.


orang yang akan menjadi kekasinya adalah Nadia bukan orang lain, Batian telah bertekat untuk mencintai satu orang dalam hidup ini, hanya Nadia orang yang akan menjadi cinta pertamanya dan hanya Nadia yang akan dia cintai sampai akhir.


Mendengar itu Nadia tersenyum bahagia “Terima kasih kak Tyan.”


Melihat seberapa ketergantungannya Nadia terhadapnya, membuat sudut bibir Bastian melengkung keatas.


Setelah sarapan Bastian mengecek peralatan sekolah Nadia,s etelah itu dia mengantarkan Nadia ke tempat Olimpiade, setelah melihat bertemu dengan Leni dan Tania dia Kembali kedalam mobil, dia melihat Nadia dan yang lainnya berjalan  masuk bersama.


“Kalian tidak perlu khawatir, dengan kemampuan kalian saat ini aku yakin jika kalian akan berhasil” Ucap Tania memebri semangat.


Dengan serempak Nadia dan Leni menganggukkan kepada.


“….” Tania. Kedua muridnya ini memiliki keperibadian yang sama yaitu pelit berbicara. Mereka terus berjalan sampai seorang Wanita menghentikan mereka.


“Guru Tania dari sekolahan ibu kota, apa kau kesini untuk mengantar muridmu?” Sulia dengan sombong melirik kearah Nadia, kemudian mulai mencacinya “Siapa ini, aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya dalam beberapa kompetisi, jika kau membawa siswa sepertini ini, apa kau tidak khawatir jika nama baik sekolahmu tercoret?”


Sulia dalah guru dari kota Depok, selama ini kota Depok dan Jakarta selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam aspek Pendidikan.


Tania tersenyum  raham kemudian berkata “Guru Sulia anda tidak perlu khawatir dengan Siswaku, sebaiknya kau khawatir dengan siswamu sendiri, disisi kami ada Leni yang selalu menempati peringkat pertama dari dulu” Tania melirik Siswa yang berada di samping Sulia kemudian berkata “Aku bahkan tidak pernah melihatnya di sepuluh besar!”


Leni adalah wajah sekolah mereka.


“Kau” Seru Sulia kesal.


Tania melihat arloji kemudian berkata “Ayo sebentar lagi masuk, seseorang hanya bisa menggonggong.” Ucapnya kemudian memawa Nadia dan Leni pergi.


Sulia sangat marah sampai- sampai tidak bisa berkata apa- apa.


Semua orang tahu jika Leni mengikuti olimpiade maka tempat pertama akan di tempati oleh dirinya, dia selalu memenangkan tempat pertama di setiap olimpiade selama tiga tahun terakhir.


Jika Sulia mengatahui jika Nadia jauh lebih unggul dari pada Leni, pada saat ini dia pasti akan mati karena serangan jantung.


Saat ini Nadia dan Leni berada di ruang ujian yang sama. Ujian pertama adalah untuk mengambil dua puluh siswa dengan nilai tertinggi dari tiga ratus peserta, dan mereka yang lolos akan mengikuti kompetisi berikutnya.


Semua siswa sangat gugup, jika mereka berhasil lolos ke babak kedua mereka akan dengan mudah masuk ke universitas terbaik tanah air.


Sementara Nadia mengerjakan soal dengan sangat serius, kecepatannya dalam mengerjakan soal sama seperti sebelumnya.


Dalam waktu dua puluh menit dia sudah berhasil menyelesaikan ujian.


Saat dia melihat ke arlojinya, dia merasa jika ini masih terlalu awal untuk keluar ruangan, jadi dia memilih untuk memeriksa jawabannya sekali lagi dan dalam waktu kurang dari lima menit dia sudah selesai.


Nadia menata kertas ujiannya menaruhnya di ujung meja, kemudia merapikan penanya dan meletakkan kepalanya di atas meja dan tidur.


Follow follow, bantu Follow penulis ya kak baik hati sebagai bentuk dukungan untuk novel ini. Makasih ditunggu Follownya