
“Masih ada lagi” Ucap nyonya tua.
Mendengar hal itu Lidia merasa sangat tidak senang, dia khawatir jika nyonya tua akan meminta sesuatu yang berlebihan.
Nyonya tua menghela nafas kemudian berkata “ Kau tahukan kakakmu tidak mempunyai tempat tinggal di ibu kota, kita tidak bisa membiarkan dia menyewa tempat diluar bukan? Kalian jiga tahu jika butuh satu bulan lebih untuk kakakmu bisa membeli rumah dia ibu kota, harga rumah diibu kota sangat mahal.
Lidia yang baru saja selesai menyeka wajahnya, dia membuka mulutnya “Ibu kau tidak perlu khawatir di perusahaan ada asramah, Suamiku akan mengatur tempat yang besar untuk kalian semua” ucapnya dengan rendah hati.
Lidia sangat tidak menyukai keluarga Kusuma, mereka memperlakukan keluarganya seperti ATM berjalan, mereka sudah menerima banyak dari wahyu.
Wahyu sangat perduli dengan keluarganya, dia orang yang sangat perduli dengan saudara- saudaranya.
Nyonya tua menatap Lidia dengan tatapan tajam “apa yang kau pikirkan? Apa kau berpikir jika kami adalah pegawaimu? Apa kau ingin membuat Wanita tua ini keluar masuk dari Asrama kecil itu? Lidia apa kau sangat tidak menyukaiku dan sengaja untuk mempersulit hidup Wanita tua ini” dia sengaja melemparkan setiap kalimat kepda Lidia.
Wahyu segera berkata dengan cepat “Ma, jangan khawatir aku akan mebelikan kalian rumah untuk kalian.”
“Pastikan jika rumah itu atas nama kakakmu, jika tidak seseorang akan mengusir kami suatu hari nanti” Saat dia mengatakan ini, dia dengan sengaja melirik Lidia.
“Tentu, aku akan menulis namamu dan kakak disertifikat itu.” Ucap Wahyu segera meyakinkan ibunya.
Lidia sangat tidak senang dengan keputisan yang dibuat suaminya. Harga rumah di ibukota sangat mahal dalam beberpa tahun terakhir ini, karena kemajuan ekonomi yang sangat baik, berdampak pada harga property, dia yakin jika suaminya itu akan membelikan rumah yang sama mewahnya dengan rumah mereka saat ini, itu akan menelan 200 juta lebih.
Dan saat ini Wahyu hanya memiliki 2M.
Bagaimana bisa dia rela mengeluarkan uang sebanyak itu, untuk keluarga suaminya, tapi sayang Wahyu telah menyetujui permintaan nyonya tua. Dia hanya bisa menahan amarahnya didalam hati.
Sementara Elisa hanya diam sepanjang waktu, dia tidak berani membuka mulut, tapi sorot matanya menunjukkan kebencian terhadap nyonya tua, dia juga sangat kesal dengan Wahyu.
Hanya karena dia menyukai cucu laki- laki, dia sengaja mempersulit Wahyu.
Segera setelah percakapan itu mereka, Kembali kekamar masing masing.
Saat ini Lidia berada di depan cermin, menunggu wakhu keluar dari kamar mando, setelah dia melihat wahyu membuka pintu dia berkata “Suamiku megapa kau menyetujui permintaan itu membelikan rumah untuk kakakmu? Aku tidak keberatan jika kau memberinya posisi di perusahaan. Kau tahukan harga rumah sangat mahal! Harganya bisa mencapai 200 juta lebih. Ini bukan harga yang murah!”
Wahyu adlah orang yang sangat murah hati kepada keluarganya, dia menautkan alisnya kemudian berkata “Bukannya itu hanya sebuah rumah? Kita bisa mendapatkan Kembali setelah beberapa bulan.”
“Mengapa kita harus mengeluarkan uang untuk mereka?” Ucap Lidia tak terima.
Saat ini Nyonya tua tidak sengaja mendengar perdebatan mereka, dia melihat sekitar kemudian berdiri di depan pintu untuk menguping pertengkaran mereka.
“dia kakakku bukan orang lain, hanya uang segitu tidak akan membuatku miskin, aku ingin membantunya” Wahyu menjadi tidak sabar.
“Benar hanya beberapa ratus juta tidak ada artinya bagimu” Ucap Lidia dia duduk di ranjang kemudian berkata “Kau memang sangat kaya, kalau begitu beri aku beberapa ratus juta.”
Benar- benar tidak masuk akal?
Saat ini Lidia sangat marah kepada Wahyu sampai- sampai dia berani membantak ucapannya.
Lidia merindukan kehidupannya sebagai nona keluarga Ramlan, ayak dan ibunya tidak akan membiarkan dia menyentuh piring kotor, dan kakaknya akan memanjakannya. Bisa- bisanya dia menderita di keluarga ini?
Seandainya dia tidak memutuskan hubungan dengan keluarganya ini, dia tidak akan menerima perlakuan seperti ini.
Lidia menatap Wahyu dengan matanya yang memarah kemudian dia mengungkit janji yang dibuat wahyu saat akan menikah dengannya “Wahyu apa kamu lupa apa yang kau janjikan saat akan menikah denganku? Kau berjanji jika kau tidak akan membiarkan aku menderita, lalu apa yang kau lakukan sekarang?”
“Jika aku tahu ini akan terjadi, aku akan menuruti ucapan orang tuaku menikah dengan pemuda dari keluarga kaya dan aku akan mejalani kehidupan dengan sangat baik saat ini.”
Wahyu sangat kesal saat lidia menyebut keluarga Ramlan, harga dirinya terinjak- injak dia ingat dengan jelas bagaimana keluarga Ramlan mempersulih hidupnya.
Dia sudah melakukan yang terbaik, siang dan malam dia bekerja untuk bisa menikah dengan Lidia dan mereka masih menolak lamarannya!
Lidia adalah gadis yang sangat manja, jika dia tidak menikah dengannya, siapa yang akan menikah dengan dirinya?
Wahyu hanya tertarik dengan latar belakang keluarga Ramlan, jika bukan karena keluarganya, dia tidak akan melirik Wanita seperti Lidia.
Wahyu sangat kesal “Lidia jika kau menjadi semakin tidak masuk akal, kita cerai saja!”
Kalimat Cerai menyentuh hati Lidai. Selama ini Nyonya tua selalu menyuruh Wahyu untuk menceraikan dirinya, karena dia tidak bisa melahirkan seorang pewaris kepada keluarga Kusuma, Lidia sangat takut jika Wahyu akan menceraikannya.
Suatu hari nanti, jika mereka bercarai dia tidak akan memiliki apa- apa. Dia hanya memiliki ijazah SMA dia tidak memiliki pengalaman apapun dalam bidang pekerjaan, hidupnya akan benar-0 benar hancur jika dia bercerai dari Wahyu.
Dia menerkan wahtu kemudian memberinya pukulan, dan berkata dengan nasa suara menyedihkan “Wahyu kau sangat keterlaluan, jikan bukan karena aku memutuskan hubungan dnegan keluargaku apa kau pikir kau bisa hidup seperti saat ini? Karena kau sudah memiliki segalanya kau ingin mencampakan aku? Wahyu katakan apa kau memiliki Wanita dia luar?”
Pakaian yang dikenakan Wahyu telak koyak oleh Lidia, kesabaran Wahyu telah hilang. Dia mendorong Lidia kemudian berkata “Lidia jangan pikir aku tidak bisa menceraikanmu!”
Saat ini Lidia jatud diatas lantai marmer, penampilannya sangat berantakan dan rambutnya acak acakan.
Setelah menagtakan kalimat itu Wahyu pergi dari kamar tanpa ragu.
Lidia duduk bersandar ke Ranjang kemudian mulai menangis, dia selalu mendapatkan aksih sayang dari orang tuanya, orang tuanya tidak pernah memperlakukannya dengan buruk begitupun dengan dengan kakaknya, saat Lidia menginginkan sesuatu Mereka akan menuruti permintaannya.
Lidia tidak menyangka kehidupannya yang penuh dengan kasih sayang dan kekayaan yang melimpah berakhir teragis seperti ini.
Dia sangat mengesal telah mengatakan jika pilihannya yang terbaik kepad arang tuanya, dia sangat gengsi untuk pergi kerumah keluarganya, selama dua puluh tahun dia memutus hubungan dengan orang tuanya, demi pria yang dia cintai.