Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Lidia diabaikan Nadia


Ucapan Elisa membuat kemarahan Lidia mereda, dia tidak pernah berpikir apakah ucapan Elisa benar atau hanya karangan saja. Dia menyesal mengapa menanyakan hasil ujiannya, kebencian dalam hatinya untuk Elisa seketika menghilang.


Dia memeluk Elisa penuh kasih “Elisa, kali ini kau mendapatkan nilai yang buruk, lainkali lakukan ynag terbaik, aku percaya kepadamu, kau lebih baik dari pada Nadia.” Ucap Lidia. Dia berpikir jika gadis desa tidak akan mampu melakukan yang terbaik saat ujian.


Raut wajah Elisa menjadi kaku, dia merasa sedikit tenang karena Lidia tidak mengetahui jika Nadia menjadi peringkat pertama.


Saat ini orang tua siswa klas 3D lewat. Merka tidak henti- hentinya memuji Nadia dalam perjalanan mereka.


“Aku tidak menyangka Kelas 3D, kelas terburuk di sekolahan ini menjadi kelas terbaik di ibu kota. Ini benar- benar sebuah keajaiban.”


“Nadia benar- benar sangat luar biasa, dengar-dengar Nilainya jauh lebih tinggi 10 Pion dari peringkat pertama sebelumnya Leni.”


“Itu benar, aku yakin jika dia akan lulus dengan nilai sempurna, tapi aku khawatir jika dia akan Pindak kekelas 3A.”


“….”


Setalah percakapan itu berakhir pikiran Lidia menjadi kosong, dia tidak percaya dengan ap yang baru saja dia dengan.


Nadia mendapatkan peringkat pertama?


Lidia menghentikan orang itu untuk bertanya “apa katamu, siapa yang berada diperingkat pertama?”


“Nadia dari kelas 3D mendapatkan peringkat pertama, apa kau belum mendengarnya?”


“Apa Nadia?” Ulang Lidia tak percaya.


“Iya, Lidia dari Kelas 3D” Ucap orang tua siswa tidak sabar.


Lidia meninggikan suaranya “Apa dia melakukan kecurangan saat ujian?”


mereka memgabailannya begitu saha dan segera pergi meninggalkan Lidia, dia tidak mau membuang- buang waktu untuk orang seperti dia.


Lidia berdiri disana dengan binggung “Elisa, apa benar Nadia mendapatkan peringkat pertaman?”


Sejak Elisa mendengar percakapan itu tubuhnya menajdi dingin, dia takut jika semua kan terbongkar begitu saja.


Selama ini Lidia selalu berpikir Jika Pendidikan Nadia saat didesa sangat buruk, dia tidak akan mampu bersaing dengan anak- anak dari kota yang sudah melakukan les sejak mereka masih kecil. Dia selalu memandang rendah Nadia.


Sebelumnya dia berpikir jika Nadia tidak akan berhasil dalam ujian, akan sangat bagus jika dia tidak mendapatkan peringkat terakhir dalam ujian.


Setelah mendengar jika Nadia mendapatkan epringkat pertama dia menjadi kehilangan akal sehatnya.


Elisa mengangguk dengan kaku. Keringat dingin bercucuran di muka Lidia, namun dia segera membenam emosinya “Elisa bangaimana Nadia bisa mendapatkan peringkat pertama?”


Elisa mengangguk seolah dia mengetahu isi pikiran Lidia “Aku duduk dibelakangnya sata ujian, aku melihat dia menunduk dari waktu kewaktu, aku tidak melaporkannya kepada pengawas karena dia saudariku.”


Lidia melotot “Elisa seharusnya kau tidak menutupi hal seperti ini, kelakuan buruk seperti itu merugikan siswalain, ujian harus dilakukan dengan jujur, Nadia telah berbuat curang untuk mendapatkan tempat pertama, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja” Lidia berniat untuk menemui kepala sekolah, untuk mengungkap kecurangan Nadia. Ini untuk kebaikannya sendiri.


Elisa sangat gugup. jika Lidia pergi mengadu kepada kepala sekolah, Lidia akan tahu jika yang berbohong adalah dirinya. Dia tidak mau semuanya terungkap.


Elisa segera bersikap baik dia memeluk ibunya sambil berkata “Ibu, dia tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi, jika kejahatan kakak terungkap, nama baik keluarga Kusuma juga akan tercemar.”


Lidia tidak setuju dengan pendapatnya “Lapi pula tidak ada orang yang tahu jika dia bagian dari keluarga Kusuma.”


“Mengantisipasi lebih baik” Ucap Elisa.


Lidia mengelus kepala Elisa dia berkata dengan lembut “Elisa aku tahu jika kau bermaksud untuk melindungi kakakmu, mungkin dia tidak akan menghargai kebaikanmu, lain kali jangan terlalu baik padanya, jika dia masih saja mencontek laporkan kejadian itu kepada pihak guru.”


Elisa mengangguk patuh. Akhrnya dia bisa bernafas lega “Bu ayo pulang.”


Elisa ingin berhenti sekolah, dia tidak ingin Lidia mengetahui jika Nadia mendapatkan tempat pertama karena prestasinya, dia tidak ingin di singkirkan dari keluarga Kusuma. Dia tidak ingin Lidia dan Wahyu tahu kenyataan jika Putrinya seorang Jinius.


Perjalan keluar gerbang Lidia melihat Nadia bersama seorang pria muda, berusia sekitaran 20 tahun.


Bastian seperti biasa dia suka mengelus kepala Nadia, sementara Nadia sambil menikmati loly pop di mulutnya, mereka berteduh dari sinar matahari di bawah pohon.


“Dia sedang berkencan?” Ucap Lidia.


Elisa pura- pura tidak tahu “Ini pertama kalinya aku melihat pria itu.”


“Ini sangat keterlaluan, dia masih kecil bisa bisanya dia sudah berpacaran. Dia melakukan hal hal seperti itu setelah sampai di ibu kota, pasti dia telah belajar dari Wanita rendahan itu.” Lidia menatap tak suka.


Sisi lain Nadia tidak sengaja melihat Lidia dan Elisa, dia memalingkan wajahnya bertindak seolah- olah mereka tidak saling kenal “Kak Tyan ayo pergi.” ajaknya.


Nadia dan Bastian melewati Lidia, Lidia ingin menceramai Nadia, tetapi Nadia bahkan tidak menyapanya, dia terus berjalan pergi.


Sementara Lidia membeku di tempat, dia melihat Nadia semakin jauh. “Bisa- bisanya aku melahirkan dia, saat melihatku dia bahkan berpura pura tak mengenalku, dia bertndak seolah- olah aku tidak pernah ada.”


Lidia merasa sangat tidak nyaman, jika dia bmembenci Nadia. Tapi dia yang melahirkannya kedunia ini, namun apa alasan Nadia membencinya?.


Tatapan tajam Lidia berubah saat melihat Elisa “Elisa aku bersyukur kau putriku.”


Komen komen , kasih tau Lidia kak. apa kesalahannya kepada Nadia agar dia tau, nanti aku bakalab sampaikan ke Lidia langsung biar dia paham.


sepertinya dia tipe orang yang selalu berpikir jika dirinya adalah korban, dia tidak pernah merasa jika dia adalah pelakunya.