
Segera setelah Aliwafa memasuki ruang kepala sekolah, dia berkata “Pak Nadia mendapatkan Nilai 97,25, aku yakin jika dia telah melakukan kecurangan saat ujian” Dia memberikan kertas jawaban Nadia kepada kepala sekolah.
Sementara dua walikelas dan pengawas ujian berada dibelakang Aliwafa. Melakukan pelangaran saat ujian akan mendapatkan hukuman yang berat yaitu dikeluarkan dari sekolahan, kerena Tindakan itu sama saja menjatuhkan nama baik sekolahan.
Kepala sekolah tidak mau langsung memberi hukuman kepada Nadia, apalagi tuduhan itu tanpa bukti nyata, dia juga berpikir jika Nilai ujian Nadia memang benar apa adanya itu menjadi hal baik untuk sekolahan. Dia tidak mau terburu- buru dalam mengambil keputusan.
“Sebelum membuat kesimpulan ini, sebaiknya panggil orang yang bersangkutan dan Guru pengawas ujian yang bertugas dalam ujian untuk kekantorku, panggil wali kelas Nadia juga” Ucapnya.
“Untuk apa melakukan itu, aku yakin jika Gadis kampung itu bertindak curang, tidak mungkin siswa dari kampung memiliki nilai tinggi seperti ini” Ucap Aliwafa tak terima dengan keputusan Kepala sekolah.
Pengwas ujian yang ikut dengan rombongan Aliwafa membela Nadia “Sewaktu aku menjadi pengawas ujian, aku tidak pernah melihat Nadia melakukan kecurangan” Ucap Pengawas itu sungguh- sungguh.
Mendengar pembelaan terhadap Nadia, membuat Aliwafa kesal “Kau tidak tahu apa-apa sebaiknya kau diam!”
Tanpa memperdulikan Aliwafa Kepala Sekolah menghubungi pengawas ujian lainnya dan Sigit winardi, untuk datang kekantornya. Dan menyuruh Pak sigit untuk membawa Nadia kekantornya.
Sementara di ruang klas 3D, Pak Sigit baru saja memberitahu hasil ujian secara langsung kepada murid kelasnya, mereka sangat senang saat mengetahui jika Nadia mendapatkan Nilai tertinggi di sekolah. Satu persatu dari mereka mengucapkan aselamat kepada Nadia.
Pak Sigit yang melihat antusias para siswa membiarkan mereka begitu saja, dia tidak ingin menghentikan kegembiraan mereka.
“Akhirnya klas kita mengalahkan mereka”
“Aku ingintahu seperti apa wajah mereka saat ini jika mengetahui Saudari kita menjadi peringkat pertama sekolah”
Sementara Nadia tersenyum saat melihat antusias teman sekelasnya, sekap mereka seolah-olah mereka berhasil bebas dari eprbudakan. Mereka tak henti- hentinya memujinya, begitupun dengan Fery dan Mesya.
“Aku yakin guru sombong itu akan kebakaran jenggot saat ini” Ucap Fery dengan senyum Bahagia.
Mendengar lelucon dari mereka, membuat para siswa lainnya tertawa terbahak- bahak sambil membaynagkan jika kepala Aliwafa terbakar.
Saat ponsel guru Gigit berdering, dia keluar untuk menjawab panggilan telepon, selang beberapa saat dia Kembali masuk, dan memanggil Nadia “Murid- murid Kembali ketempat duduk kalian. Nadia ikut denganku kepala sekolah ingin bertemu denganmu” Ucapnya.
Para murid dengan patuh Kembali ketempat duduk mereka, dengan curiga mereka mulai membuat kesimpulan jika Pasti Aliwafa telah berbuat ulah, mereka sangat yakin dengan hal itu.
Mereka sangat khawatir dengan Nadia saat ini, saat Nadia Bersiap untuk pergi Fery berkata “Bos kau jangan khawatir kami sangat percaya denganmu”
Mereka sangat mengenal sikap Aliwafa, dengan yakin jika Aliwafa telah mengatakan yang tidak- tidak kepada kepala sekolah.
“Benar kami percaya denganmu”
Mendengar hal itu Nadia tersenyum tipis “terima kasih teman- teman” Ucapnya kemudian berjalan mengikuti Guru Sigit.
Nadia tahu jika hal ini akan terjadi, dia yakin jika Saat ini ALiwafa sedang berusaha keras untuk menjatuhkan namanya, guru sombong itu tidak akan membiarkan orang lain berada diatasnya.
Sementara diruang kepala 4 guru yang emngawasi ujian membela Nadia, mereka menjelaskan jika Selama ujian berlanjut Nadia tidak pernah melakukan kecurangan. Namun Aliwafa masih bersikeras jika Nadia melakukan kecurangan.
“Siswa Nadia tidak pernah melakukan kecurangan seperti yang dituduhkan pak Aliwafa, aku selalu memperhatikannya, dia selalu mengerjakan ujian dengan sangat cepat bagaimana mungkin dia menyontek”
“Nilai rata- rata dari desa, sudah membuktikan jika dia melakukan kecurangan” Ucap Aliwafa, Semua guru tahu jika nilai rata- rata Nadia hanya 58,00 saat dia datang dari desa. “Aku yakin jika seseorang telah membantunya” imbuhnya.
“Soal ujian di simpan langsung oleh kepala sekolah, apa kau berpikir jika kepala sekolah melakukan kecurangan? Lagipula saat membagigan soal, dokumen itu masih tersegel tidak ada kecacatan sama sekali”
“Aku tidak pernah menuduk kepada sekolah” Ucap Aliwafa dengan nada Rendah “Tapi aku tidak percaya jika gadis kampung itu mampu mengalahkan Leni” Ucapnya tak terima.