Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Nadia malu


Mesya menyadari jika Nama belakang Nadia dan Bastian tidak sama  “ Nana apa dia kakak sepupumu?” Tanya Mesya sambil berbisaik, sebelum Nadia memberi jawaban dia memberi asumsinya sendiri “Sudah pasti begitu” ucapnya, setelah berbicara dia mulai menyimak dengan serius.


Bastian mulai mebagikan kertas ujian, dia mulai mengajar menggunakan Bahasa inggris yang sangat fasih, suaranya sangat merdu, dia mengajar dengan sangat menyenangkan.


Bastian tidak terlalu banyak menggunakan rumus yang rumit, membuat para siswa mulai tenggelam dalam pelajaran, mereka dengan seirus menyimak setiap penjelasan dan materi yang dijelaskan oleh dirinya.


setelah bel berbunyi, Bastian menutup buku dan mengatakan jika pelajaran pertama selesai. Dia menatap Nadia dengan tatapan penuh kasih “Nadia ikut aku kekantor.”


Dengan patuh Nadia mengikuti Langkah Bastian dari belakang, di koridor beberapa guru dan murid melihat Bastian dan Nadia. Mereka merasa iri dengan Nadia karena memiliki kakak yang sangat perhatian seperti Bastian.


“Nadia memiliki kakak yang perhatian” Ucap gadis yang pernah melihat Bastian di acara pertemuan orang tua dan guru.


“Aku tahu itu, jika tidak dia tidak akan membuang- buang waktu untuk menghadiri acara orang tua dan guru waktu itu, aku merasa iri dengannya, kakakku tidak pernah memperlakukanku dengan baik.”


“Sudah sangat bagus jika kakak ku tidak memukulku” ucap seorang siswa dengan wajah sedih.


“kenapa kakak Nadia ada disini?”


“jangan bilang dia guru Bahasa inggris yang baru, aku tidak sengaja melihat buku yang dia bawa itu berjudul Bahasa inggris.


“Apa, bukankah dia orang kaya, mengapa diam mau mengajar di Bahasa inggris disini”


“memangnya kenapa?”


Sementara Nadia dan bastian masuk ke dalam kantor, dia berbalik melihat Nadia senyum tipis terbentuk dibibirnya.


Sementara Nadia berjalan sambil menundukkan kepala, pikirannya dipenuhi dengan ucapan Mesya sebelumnya, dia tidak sadar jika telinganya menjadi merah. Nadia merasa sangat Bahagia, lubuk hatinya terasa sangat hangat.


Nadia terus melangkah tanpa sadar jika Bastian menghentikan Langkah kakinya, dia berakhir menabrak dada Bastian.


“Nadia”


Saat ini Nadia berada dipelukan Bastian, wajah Nadia memerah seketika karena malu, dia segera berjalan mundur selangkah.


Ini pertama kalinya Bastian melihat Nadia malu, dia tidak bisa tidak tertawa. Wajah Nadia menjadi semakin merah setelah mendengar tawa Bastian.


Nadia mengembunngkan wajahnya, dia dengan cepat emnutupi hidungnya “Tidak, tidak sakit” Ucapnya karena terlalu malu.


Bastian Kembali tertawa. Dia segera memalingkan wajahnya, karena dia tidak ingin membuat Nadia menghindarinya.


Tidak ada orang lain di ruangan itu, karena ruangan itu khusus untuk bastian, kantor ini sangat luas.


Bastian menarik kursi menyuruh Nadia untuk duduk, Nadia duduk dengan susu kotak ditangannya “Kak Tyan mengapa kau mengajar disini?” tanyanya dengan ragu. Di kehidupan sebelumnya Bastian tidak pernah menjadi guru.


Bastian baru saja membuat kopi, dia duduk sambil mengaduk kopi “Karena kamu”


Nadia terkejut sesaat.


“Aku tidak ingin kau di rundung saat kau berada di sekolah”


Nadia menundukkan kepalanya, sambil memengang kotak susu, sebuah senyuman tipis terbbentuk di bibirnya, hatinya tersa hangat lagi, dengan lembut dia menjawab “Terima kasih kak Tyan”


“Kau tidak perlu berterima kasih, kau jangan merasa sendirina aku dan nenek akan selalu mendukung dan melindungimu, kau jangan pernah lupa jika kami selalu ada untukmu, jangan menanggung semua sendiri”


“Ok” Sahut Nadi.


Bastian melihat jam tangannya “Kelas sebentar lagi dimulai, kau harus menghabiskan susu itu” Ucap Bastian penuh kasih.


Nadia menggaruk kepalanya, namun dengan patuh dia menghabiskan susuk kotak itu.


“ayo kekelas bersama, malam ini nenek ingin makan malam denganmu, aku akan menjemputmu.”


Nadia mengangguk. Keduanya pergi kekelas bersama.


Saat di kelas Fery merasa frustasi saat melihat Bastian, dia tahu jika Bastian adalah aka Nadia, dia juga sudah berjanji untuk tidak membuat masalah dengan Guru Sigit, dia tidak bisa melakukan apa- apa selain belajar dengan patuh.


Kelas menjadi sangat sunyi, Nadia Kembali ketempat duduknya dan dengan patuh mendengarkan penjelasan Bastian dengan patuh. Para siswa kelas 3D pun menjadi sangat patuh dan tidak memberontak seperti biasanya.