Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Taruma


“Nenek aku akan segera mendapatkan uang, bertahanlah” Ucap Leni dari luar pintu, kemudian berbalik.


“leni” Ucap Nadia yang berjalan kearahnya.


Leni menghentikan langkahnya, dia mendongak melihat sosok Nadia dengan pandangannya yang kabur karena air mata.


“Apa kau butuh bantuan?” Tanya Nadia dengan nada suaranya yang dingin.


Leni tidak langsung menanggapi Nadia, dia mengelap Air matanya, dan berpura- pura baik- baik saja, selama beberapa saat dia terdiam, setelah menghela nafas Panjang dia mmebuka suara “Siswa Nadia apa kau memiliki uang?”


Nadia dengan acuh mengambil kartu bank dari dalam tas sekolahnya, kemudian memberikannya ketangan Leni sambil bertanya “didalamnya ada 1M apa masih kurang?” tanyanya dengan wajah polos.


Leni yang terkejut denga napa yang baru saja Nadia katakana terdiam, dia menatap Nadia dengan tatapan heran.


‘1M adalah nilai yang sangat banyak, dan dia memberikannya kepadaku dengan Cuma- Cuma, dan masih bertanya apa itu kurang?’


Leni memengang erat kartu bank itu, dia bersyujud sukur kemudian berterima kasih kepada Nadia “Nadia terima kasih banyak, aku berjanji akan melunasi hutang ini kepadamu di masa depan.”


1M tidak hanya bisa untuk mengoprasi nenek Leni, dengan uang itu neneknya akan dirawat sampai sembuh total.


“Tidak perlu” Sahut Nadia dengan acuh tak acuh, kemudian dia mengeluarkan dokumen dari salam tasnya “aku ingin kamu menandatangai dokumen ini.”


“Berikan kepadaku” Ucap Leni, tidak perduli seberapa buruk kondisi  yang akan dia lalui dia akan menyetujui kontrak itu. dia yakin jika Nadia tidak akan menjadikan budak, setelah mengenal Nadia selama Olimpiade Matematika.


“Aku ingin kmau bergabung dengan perusahaanku, kontrak ini akan berlangsung selama sepuluh tahun, kamu juga akan menerima gaji disetiap bulannya, uang itu sebagai jaminan kesejahtraan anda.”


Setelah menerima penghianatan dari keluarga dan orang yang di anggap saudari, Nadia tidak lagi bisa membuka hati, atau bersikap baik kepada orang lain selain Bastian dan Nyonya tua Sinta Wijaya.


Saat mendengat jika Nadia membuka Perusahaan Leni terkejut sekaligus merasa lega, setelah melihat kemampuan Nadia, tidak perduli apa yang dia lakukan itu bukan sesuatu yang aneh lagi baginya.


“Leni, kedepannya biaya kuliahmu dan segala macam yang kau butuhkan akan disediakan oleh Perusahaan.”


Setelah ujian akhir Leni berencana untuk berkerja, dengan gaji empat juta sebulan, setelah beberapa bulan gajianya akan naik dan dia juga akan menerima tunjangan di akhir tahun. Dia tidak pernah berpikir jika Nadia akan membantunya sampai sejauh ini, saat saudaranya sendiri mengangkat tangan untuknya.


Mata Leni Kembali sembab “Terima kasih banyak Nadia.”


“Kau tidak perlu berterima kasih, aku hanya menyukai nilaimu, kau sendiri tahu jika hanya sedikit orang yang mempunyai kemampuan sepertimu” Ucap Nadia dengan senyum tipis dibibirnya, dia tidak lagi menyembunyikan isi pikirannya.


Meskipun ucapan Nadia terdengar kasar tapi Leni tidak berhenti berterima kasih kepadanya. Jikan dia tidak mendapatkan bantuan dari Nadia kemungkinan besar neneknya tidak akan terselamatkan dan dia juga harus menunda kuliahnya selama beberapa tahun kedepan.


“kau baca baik- baik dokumen ini, jika ada sesuatu yang tidak menguntungkanmu aku akan memperbaikinya” Nadia membuat jeda kemudian berkata “Kau bisa menandatanginya setelah nenekmu selesai di oprasi.”


Nadia melihat ke dalam ruang rawat dari kaca transparan di pintu, dia melihat segela macam slang di tubuh nenek Leni, tanpa sadar Nadia mengepalkan tangannya.


di kehidupan sebelumnya dia tidak berada di samping Nyonya tua Sinta saat kondisinya dalam keadaan kritis.


Mengingat hal itu Nadia merasa sedih, dia menundukkan kepalanya dan menekan emosinya.


“terimakasih” Ucap Leni dengan wajah bingung.


“Kata sandinya ulang tahunmu” setelah mengatakan itu Nadia segera pergi dari rumah sakit.


Leni menatap Nadia dengan tatapan heran, namun dia segera pergi membawa kartu bank untuk mengurus atministrasi.


bantu like