
Hari berikutnya saat acara pertemuan guru dan orang tua siswa.
Nadia duduk dikursi yang sudah disiapkan, banyak orang tua yang mendampingi anaknya disisi mereka. Hanya dia dan Mesya yang tidak didampingi oleh orang tua.
ayahnya adalah seorang mayor jendral dari TNI AD “Fery mengapa nilaimu sangat buruk, kau selalu mempermalukanku setiap kali aku mendatangi pertemuan dengan guru, jika kau mempunyai saudara dengan sikap yang sama denganmu, aku yakin jika akan akan mati dalam waktu dekat.”
Fery meringis kesalitan sekaligus malu “Ayah lepaskan aku sakit, lain kali ibu saja yang datang” keluhnya. Dia tidak ingin kehilangan muda di hadapan teman sekelasnya.
“Kau masih tahu rasanya sakit?” Ucap Ayah Fery sambil berteriak didekat telinga fery “Jika kau mendapatkan Nilai yang bagus dan tidak mempermalukan orang tuamu ini aku akan memperlakukanmu dengan lembut dan berharga.” Seluruh isi kelas menatap kearah mereka.
Wajah Fery menjadi merah padam karena terlalu malu, dia ingin membuat lubang di bawah kakinya dan melarikan diri secepatnya.
Saat Ayah fery melihat jika tatapan semua orang tertuju padanya, dia segera melepaskan Fery “Putraku ini sangat nakal, aku sedang mengajarinya, maaf telah membuat kalian semua terganggu.”
Setelah dilepaskan fery segera melarikan diri keluar.
Nadia memperhatikan Mesya yang dari tadi menunduk dan membaca buku, dia sama sekali tidak melihat keributan yang disebabkan oleh Fery, apalagi dia orang yang tidak akan diam saja saat melihat pertunjukan sepeti itu.
Nadia memeprhatikan gelagat Mesya, yang terlihat murung “Mesya apa terjadi sesuatu? Mengapa orang tuamu tidak datang?”
Mesya tidak bisa menyembunyikan wajahnya lagi setelah Nadia memanggi dirinya, dia medongak dan memperlihatkan matanya yang merah dan berair “Nana ayahku tidak akan datang untuk pertemuan ini, sementara ibu tiriku tidak perduli denganku, dan ayahku sangat percaya padanya dan tidak pernah mempercayaiku.”
“Nadia kau benar, tapi aku tidak bisa mengabaikan ucapannya” Mesya terisah dan menagis.
Nadia tidak bisa berkata sedikitpun, dia mengambilkan Mesya tissue untuk mengepal air matanya.
Selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan keluarga dengan Wahyu dan Lidia, meskipun dikehidupan sebelumnya dia sangat memperdulikan kedua orang tuanya. Dia juga sakit hati saat melihat dengan mata kepalanya sendiri saat orang tua kandungnya sendiri tidak menginginkan kehadirannya.
Namun sekarang dia sudah tidak perduli denga napa yang terjaid dengan Wahyu dan Lidia, mereka hanya berkontribusi untuk melahirkan dirinya kedunia ini, namun mereka tidak pernah memperlakukannya sepenuh hati.
Nadia menemani Mesya selama dia menangis. Beberapa orang tua teman sekelasnya memperhatikan kemudian datang untuk bertanya apakah terjadi sesuatu. Nadia dengan sopan mejawab jika Mesya dalam suasana hati yang tidak baik.
Mungkin karena sudah menangis suasana hati mesya saat ini menjadi lebih baik. Mesya betanya kepada Nadia “Nana, mengapa orang tuamu tidak datang kesini?”
Nadia tersenyum dan menjawab dengan santai “Mereka tidak pernang menganggapku sebagai putri kandung mereka dan mereka berpikir jika hasil ujianku sangat buruk, meraka merasa malu untuk mengakuiku sebagai putri mereka.”Mesya terkejut denga napa ang baru saja dia dengar.
“Apa kau seudah menjadi lebih baik”Tanya nya sambil mengelus kepala Mesya.
Nadia mengangguk dengan liar, menjawab dengan tegas “YA.” Kehidupan Nadia lebih buruk dari pada dirinya, Tapi Nadia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya, jadi dia harus menjadi seperti dia.