
Hari berikutnya.
Karena tidak ad akelas, Bastian mmebuat alasan jika dia sedang senggang, jadi dia mengantar Nadia kesekolah.
Jam istirahat.
Nadia pergi kekantor guru, pak Sigit yang melihatnya bertanya “Nadia ada perlu apa?”
“Aku kesini untuk bertemu dengan wali kelas 3a” Ucap Nadia.
“oh” Guru Sigit tersenyum.
“Murid Nadia ada perlu apa?” tanya Totok, dia beru saja menjabat sebagai wali kelas 3a kemarin, setelah Aliwafa di pecat.
Selama ini dia penasaran seperti apa Nadia yang memiliki kecerdasaan yang melampaui Leni yang sudah menjadi buah bibir di kalangan guru.
Dia sangat terkejut saat mengetahu jika Nilai Nadia mengungguli Leni saat Olimpiade Matematika, dia juga mendengar dari kalangan guru jika Semua nilai matapelajaran Nadia di sempurna.
“Aku ingin bertanya, apa alasan Leni ijin libur?” Nadia berjalan mendekat dan bertanya.
Totok tidak pernah mengira jika Nadia akan menanyakan masalah ini “Leni izin libur karena terjadi sesuatu dengan keluarganya, pagi ini dia tiba- tiba pergi.”
Nadia menautkan Alasannya, kemudian meminta maaf kepada guru Totok. Setelah itu dia pergi ke meja guru Sigit dan berkata “Guru, hari ini aku izin libur”
Setelah mendengar percakapan Nadia dan Guru Totok, Guru Sigit berpikir jika Nadia memiliki sesuatu yang serius, selama dua beberapa bulan ini dia memahami sikap Nadia, tanpa bertanya lagi dia mmeberi izin Nadia.
“Baiklah hati- hati dijalan” ucapnya sambil memberikan surat cuti kepadanya.
Setelah medapatkan surat izin Nadia segera kemabli ke kelas mengambil tas, setelah menunjukkan surat izin Ke satpam sekolah, dia segera keluar gerbang dan menghentikan taxy yang lewat.
Dokter baru saja selesai memberikan pertolongan pertama kepada nenek Leni, dia baru saja keluar dari ICCU.
“Dokter bagaimana keadaan nenek saya?” Tanya Leni cemas.
“Doketer tolong segera oprasi nenekku, aku akan menyiapkan biayanya.” Sahut Leni.
“Biaya oprasinya 80 juta” Ucap Dokter, dia menatap kemudian berkata “penyakit nenekmu sudah sangat parah sekalipun kita melakukan operasi, nenekmu tidak akan bisa bertahan selama lima tahun lebih, apa kamu masih ingin mengoprasinya?”
dokter mengetahui identias Leni yang masih seorang siswa, untuk anak seusianya delapan puluh juta bukan sesuatu yang murah. Dokter berencana untuk membujuk Leni untuk tidak melakukan operasi ini, tapi dokter tahu jika Leni sangat menyayangi neneknya, jadi dia berhenti membujuknya.
Leni mengepalkan tangannya yang gemetar “Tolong oprasi neneknya”
“Baiklah” Dokter itu mengangguk “Tapi kamu harus membayar biaya oprasi itu agar oprasi dapat di jalankan.”
Harapan di wajah Leni meredup seketika saat mendengar ucapan Dokter.
Sebenarnya dokter itu ingin membanu Leni, hanya saja rumah sakit memiliki aturannya sendiri. Dia tidak bisa berbuat apa- apa.
“Aku mengerti” Sahut Leni dengan wajah menunduk.
Sudah tidak ada satupun orang yang mau memberinya pertolongan, termasuk paman dan bibiknya, di permukaan mereka terlihat saat baik.
Beberapa tahun lalu saat dia kerumah pamannya dia tidak sengaja mendengar paman dan bibiknya mencacinya.
“Anak itu, sudah untuk kita masih mau memberinya uang makan setiap bulannya, bisa- bisanya dia masih tidak punya malu mau meminjam uang dari kita” Ucap bibiknya kesal.
“dia sangat bodoh seperti orang tuanya, kenapa dia tidak mati saja bersama dengan orang tuanya dengan bergitu beban kita berkurang.” Ucap paman Leni.
Dulu saat kedua orang tua Leni masih jaya, mereka memperlakukan Paman dan bibiknya dengan sangat baik, tapi ini balasan yang dia terima.
Setelah kejadian itu Leni tidak pernah lagi kerumah paman dan bibiknya, setelah sekolah dia bantik tulang kerja di berbagai tempat untuk mendapatkan uang, agar bisa bertahan hidup.
Bantu like