
Waktu yang sama di keluarga Kusuma. Saat ini Lidia masih berada diruang tamu selama berjam- jam dia sangat kesal karena tidak bisa pergi selangkahpun dari ruang tamu. Saat ini dia berkeliling untuk membuang rasa bosan.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Nyonya tua Kusuma dambil memelototi Lidia “kau sengaja ingin membuatku sakit kepala?” Tuduhnya.
“Mahanya ingin merenggangkan kakiku” Sahut Lidia.
“kau sedang membantahku?” sanggah Nyonya Tua dengan nada tak suka.
“….” Lidia.
“Sebentar lagi wahyu datang, cepat masak” Perintah Nyonya tua seperti memerintah bawahannya.
“Aku masak?” Ucap Lidia sambil menunjuk diri sendiri, dengan tatapan tak percaya.
“Trus, apa kau ingin Wanita tua ini yang pergi memasak?” Ucap Nyonya tua tak suka.
Lidia segera menjelaskan “Ma sudah ada pelayan disini, mereka akan memasak semua untuk kita”
“Suamimu sudah seharian kerja, seharusnya kau masak untuknya, apa kau tidak pernah memasak untuknya? Dan selalu mengandalkan pelayan. Jangan heran jika wahyu berpaling darimu dan memilih pelayan!”
Ucapan nyonya tua mmebuat Lidia terdiam seribu kata, dia dengan patuh pergi kedapur untuk memasak.
Lidia memiliki keterampilan masak yang sangat baik, dulu keluarga sengaja memanggil seoarang Chef untuk mengajarinya memasak.
Dan saat ini nyonya Tua Kusuma juga mengikutinya kedapur “Lidia, masakkan 4 menu daging dan dua sayur untuk wahyu dia butuh asupan makanan yang cukup setelah seharian menghabiskan waktunya untuk berkerja di kantor.”
“…” Lidia.
Lidia berusaha untuk menolak, dia membuat alasan “Bu kita tidak mempunyai bahan untuk masak sebanyak itu, bagaimana kalau 2 daging dan 2 sayur?”
Nyonya tua melirik ke bahan makanan yang sudah disiapkan. Lidia juga mnegikuti arah tatapan nyonya tua, dia sudah melihat bahan makanan yang cukup untuk 4 menu danging yang dipesan ibu mertuanya.
Sebelumnya nyonya tua telah meminta pelayan untuk membeli semua bahan itu.
Lidia mau tidak mau memilih menu apa yang akan dia sajikan mala mini. Dan nyonya tua mengawasinya.
“nyonya aku akan membantu nyonya muda” Ucap salah satu pelayan yang sedang berada disamping nyonya Tua.
“Apa yang kau pikirkan, biarkan diam asak sendiri” Sahut nyonya tua kesal. Dia kepikiran ikan asin yang dibawa dari desa dan berkata “Ambil ikan asin dan petai itu suruh Lidia untuk memasaknya dengan baik campur dengan petai, aku akan memberikan ikan asin itu untuknya mala mini.” Setelah memberi eprintah dia pergi.
Pelayan itu dengan patuh mengikuti perintah nyonya tua dan membrikan ikan asin untuk Lidia.
Lidia menutup hidungnya saat mencium bau amis dari ikan asin. “Untuk apa itu?” Tanyanya.
“Nyonya tua meminta anda untuk memasak ikan ini dan petai.” Pelayan itu menjelaskan.
Lidia hanya bisa mendengus kesal mau tidak mau dia harus melakukan apa yang di perintahkan oleh mertuanya yang cerewet itu. dia hampir sudah terbiasa di perlakukan semena- mena oleh ibu mertuanya selama ini, dia snagat bersyukur karena ibu mertuanya tidak tinggal bersama dengan dirinya, jika tidak dia pasti akan merasakan neraka sepanjang tahun.
Saat ini semua masakan sudah disajikan di atas meja makan sesuai dengan permintaan nyonya tua. Wahyu baru saja pulang kantor dia melihat hidangan mewah diatas meja “Kau yang memasaknya?” Tanyanya saat melihat Lidia keluar dari dapur.
“Iya aku memasak semua ini semua untuk mu” Sahut Lidia dengan senyum cerah.
Nyonya tua mendengus kesal “dasar pembohong! Aku yang menyuruhnya memasak makanan kesukaanmu ini, sebelumnya dia tidak mau memasakkan dengan alasan Empat piring terlalu banyak untuk di hidangkan” dia menatap Wahyu dengan penuh perhatian kepada anak laki- lakinya.
Elisa tidak ingin segera pulang kerumah, dia sengaja untuk menghindar dari nyonya tua. Lidia menghubunginya jadi, Elisa segera pulang.
“Akhirnya kau pulang” Ucap Nyonya Tua dengan nada tak suka “Bagaimana bisa kau membuat orang tua menunggumu?”
“Nenek maafkan aku, aku terjebak macet” Ucap Elisa dengan suara sendah.
“Ayo makan”
Saat ini mereka perempat duduk di meja makan. Diatas meja selain 4 piirng lauk dan dua piring sayur ada ikan asin dan petai yang sangat mengganggu.
Nyonya tua tidak melihat Lidia dan Elisa mengambil ikan asin itu, dia berini siatif untuk mengambilkan keduanya ikan asin dan petai.
Dalam waktu singat piring mereka terisi ikan asin dan petai dengan jumlah yang cukup banyak.
“Lidia, Elisa makan yang banyak, aku sendiri yang membuat ikan kering, petai itu juga diambil dari kebun sendiri aku ingin kalian mencobanya” Ucap Nyonya tua dengan ramah.
Lidia melihat ikan asin yang ada di piringnya dengan tatapan jijik, memegang sendok tapi tidak mau menyentuh makanan itu.
Raut wajah nyonya tua menjadi dingin dengan sinis dia berkata “Apa kau tidak mau memakan makanan yang dibawa oleh Wanita tua ini?”
Lidia segera tersenyum dan berkata “Ma apa maksudmu, bagaimana bisa aku melakukan itu? Aku sangat menyukainya”
Lidia berusaha keras untuk tidak mual saat memasukkan ikan asin dan petai kedalam mulutnya, ikan asin itu rasanya sangat asin. Dia ingin memuntahkannya, tapi dia terpaksa menelan makanan itu dibawah pantauan ibu mertuanya.
Nyonya tua merasa sangat puas saat melihat itu dan saat ini tatapan matanya tertuju ke Elisa.
Elisa dengan patuh menikmati makanan itu.
Elisa sangat kesal menurutnya ikan asin hanya untuk orang miskin, dia sangat kesal karena nyonya tua memaksanya makan makanan ini.
Elisa mengumpat didalam hati, dia tidak berani untuk memperlihatkan ketidak puasannya, apalagi mengekpresikannya diwajahnya, jika sampai ketahuan oleh nyonya tua, tamatlah hidupnya.
Elisa makan dengan sangat lamban begitupun dengan Lidia. Bagi mereka makanan ini sangat menjijikkan.
Sementara Wahyu menikmati ikan asin dan petai itu dnegan laham karena dia memang dibesarkan di pedesaan, baginya ikan asin adalah makanan termewah.
Elisa dan Lidia berencana untuk membuang makanan menjijikkan ini, setelah nyonya tua pergi mereka ini menikmati menu daging. Tapi sayang nyonya tua tidak beranjak dari tempatnya bahkan sampai makan malam selesai.
Sementara Nadia setelah pertemuan yang di lakukan dengan pemilik perusahaan Tom Kompany dia makan di luar karena tidak ingin menghabiskan waktu di keluarga Kusuma, saat ini dia berada didepan pintu.
Saat ini dia mendengar suara nyonya tua dari depan pintu.
“Lidia apa kau tahu apa yang akan terjadi dengan keluarga Kusuma jika kamu tidak bisa melahirkan anak laki- laki? Ini sudah 20 tahun tapi kau hanya melahirkan satu anak dan itu anak perempuan, apa kau tidak malu?”
Wahyu juga merasa tidak puas dengan Lidia karena tidak bisa memberinya anak laki- laki sebagi penerusnya.
“Ma” Ucap Lidia kesal, dia tidak bis amelahirkan seoorang putra apa itu salahnya?
Dia dan Wahyu sudah melakukan pemeriksaan tapi tidak ada masalah dengan tubuh mereka.
Tapi sampai saat ini dia tidak bisa hamil? Ini semua terjadi kerena dia melahirkan Nadia…!