
Guru Sigit yakin jika Nadia tidak melakukan kecurangan saat ujian. Nadia hanya perlu menyangkal tuduhan yang dari Aliwafa.
Dikantor kepala sekolah guru yang bertanggung jawab untuk matapelajaran dan pengawasan Ujian berkumpul.
Saat Nadia dan Guru sigit datang, Aliwafa langsung melemparkan banyak tuduhan kepada Nadia dan pak Sigit “Murid yang kau didik ittu telah melakukan kecurangan, kau sangat tidak kompeten dalam mengajar, sebelumnya kau terlibat dengan rumor buruk dan sekarang kau melakukan kecurangan saat ujian, aku tidak tahu harus berkata apalagi! Nama baik sekolahan ini akan hancur olehmu!” Ucapnya dengan raut wajah menghina.
“Sebagai seorang guru anda tidak boleh menuduh tanpa bukti, Pak Aliwafa” Ucap Sigit.
“Memangnya bukti apalagi yang dibutuhkan, semua bukti sudah jelas, dia hanya siswa dari desa bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan siswa terbaik sekolahan ini Leni, itu sesuatu yang mustahil dilakukan jika dia tidak melakukan kecurangan” Ucap Aliwafa dengan semnagat.
Mendegar tuduhan itu Nadia dengan santai menjawab “Apa hanya karena aku dari desa aku tidak boleh mengalahkan murid unggulanmu? Apa hanya muridmu satu- satunya didunia ini yang terlahir jinius?”
Aliwafa tidak mau kelah debat begitu saja, dia mengungkit nilai ujian Nadia saat sekolah didesa “Jika kau memang seorang jinius kenapa hasil ujianu saat sekolah di desa sangat buruk?”
Dengan santai Nadia menjawab “Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri, memangnya salah?” dia menatap Aliwafa dengan tatapan merendahkan.
Guru Sigit tidak mau membuat perdebatan ini menjadi semakin panas, dia berkata “Dari pada kita berdebat tanpa ujung, lebih baik kita melakukan tes untuk membuktikan jika Nadia tidak bersalah”
“Aku setuju dengan idemu” Sahut Aliwafa antusias.
“Kepala sekolah selama ini guru Aliwafa sekalu memfitnahku berkali-kali, jika aku berhasil melakukan ters ini, aku ingin Anda memberikan ekadilan untukku” Ucap Nadia.
Mendengar hal itu Aliwafa tersenyum tipis dia mencibir “Nadia jika kau berhasil melakukan itu, aku akan bersujud meminta pengampunan darimu, namun jika kau gagal aku ingin kau keluar dari sekolahan ini tanpa banyak bicara.”
“Ok” Sahut Nadia setelah mendapatkan janji dari Aliwafa.
Setelah itu para guru yang berkaitan membuatkan materi untuk nadia, Nadia mengerjakan setiap soal itu dengan teliti, jawaban yang dia tulis sama persis dengan jawaban aslinya. Nadia membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk mengerjakan soal- soal itu.
Para guru yang melihat jawaban yang ditulis Nadia tercengang tak percaya, mereka sangat kagum dengan kecerdasan Nadia hanya butuh beberapa menit untuk mengerjakan satu mata pelajaran, dan jawaban yang diberikan mendekati sempurna. Begitupun dengan kepala sekolah, dia bersukur tidak melakukan sesuatu secara gegabah, jika tidak dia akan kehilangan murid berprestasi seperti Nadia.
Sementara Aliwafa saat menerima kenyataan itu dias sangat frustasi, dia tidak menyangka jika dia sudah bermain tepat ditelapak tangan Nadia, dia dengan sendirinya memeprmalukan dirinya sendiri, mengingat beberapa hari lalu dia melihat hasil ujian Nadia di meja kerja Sigit seharusnya membuat dirinya sadar dengan kecerdasan Nadia.
Nadia tersenyum tipis saat mellihat wajah pucat Aliwafa, dengan santai dia berkata “Kepala sekolah, sepertinya anda perlu menngingatkan Guru Ali tentang perjanjian kita sebelumnya” setelah dia menatap kepala sekolah, pandangannya Kembali tertuju ke Aliwafa.
Dengan tegas kepala sekolah berkata “Guru Aliwafa, kau orang yang terpelajar, aku percaya jika kau tidak akan menjilah ludahmu sendiri bukan?”
Melihat pemandangan itu para guru yang dari awal tidak suka dengan sikap Aliwaga, tersenyum tipis tanpa sepegetahuannya, akhirnya hari yang ditunggu tiba saat Aliwafa yang sangat sombong dan arogan itu dipermalukan oleh tindakannya sendiri.
Mendengar hal itu Wajah Aliwafa menjadi pucat pasi.