Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 94. Kisah Jelita


Bab 94


Sudah tiga hari berlalu semenjak Arga pergi ke kampung Sukacita bersama Pandu, selama itu pula temannya tidak masuk ke kantor. Dia juga tidak bisa dihubungi karena nomornya tidak aktif.


"Yang, apa yang harus aku lakukan? Pandu seperti ditelan bumi. Hilang tanpa kabar. Di apartemennya juga tidak ada," tanya Arga kepada Marsha.


"Apa Mas sudah datangi rumah kedua orang tuanya Pak Pandu?" tanya Marsha sambil membereskan baju di lemari.


"Saat ini kedua orang tua Pandu sedang berada di luar negeri. Paling ada pembantunya saja di rumah. Tadi, aku juga sempat ke sana, tapi tidak ada siapa-siapa," jawab Arga yang ikut membantu melipat baju yang tadi sempat diacak-acak oleh Alva setelah Marsha setrika.


Marsha juga menjadi bingung harus memberikan masukan seperti apa. Lalu, dia duduk di samping suaminya.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Pak Pandu, Ratu, dan kedua orang tua Pak Pandu," ucap Marsha.


Arga senang jika sudah berbicara dengan Marsha dan mengutarakan apa yang sedang menjadi pikirannya dan juga apa yang sedang dia rasakan. Hanya satu yang belum bisa laki-laki itu katakan kepadanya, yaitu masalah kesuburan yang sedang dia obati. Dalam hati, dia belum siapa jika sang istri merasa kecewa kepadanya karena masalah ini.


"Sekarang aku merasa ringan," gumam Arga sambil memeluk tubuh Marsha.


"Itulah gunanya pasangan. Tempat untuk berbagi dan mencari solusi bersama-sama. Jangan dipendam jika kita memiliki masalah," tukas Marsha sambil mengusap punggung suaminya.


'Sayang, sebenarnya masih ada satu masalah lagi. Tetapi, saat ini aku belum bisa memberikan tahu itu. Mungkin setelah aku melakukan cek kesuburan lagi, baru memberi tahu kepadamu,' batin Arga.


***


Keesokan harinya Arga dikejutkan oleh Pandu yang dalam keadaan kusut tidak terawat. Entah ke mana saja dia selama ini. Bahkan Mariana terus saja bertanya keberadaan laki-laki itu kepadanya.


"Akhirnya kamu muncul juga setelah sekian purnama. Ke mana saja selama ini?" tanya Arga sambil tersenyum jahil.


"Aku pergi ke Singapura beberapa hari kemarin. Aku menanyakan tentang ibunya Ratu dan mereka baru tahu akan cerita siapa Jelita itu sebenarnya," jawab Pandu.


Arga pun sudah siap mendengarkan cerita dari sahabatnya ini. Pandu adalah tipe orang yang suka terbuka dan akan mengatakan apa pun yang ada di dalam pikirannya atau apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Kata papa dahulu Jelita itu sering mengalami sakit hipotermia dan kesehatannya semakin menurun dan tidak mampu lagi bekerja. Bi Ayu minta izin untuk ditampung dulu di rumah papa. Di waktu yang bersamaan kesehatan mama juga semakin menurun karena kerusakan ginjalnya. Entah benar atau tidak, katanya Jelita menawarkan kedua ginjalnya kepada mama jika memang cocok. Sebagai gantinya dia ingin kehidupan putrinya terjamin. Maka operasi itu pun dilakukan setelah Jelita dinyatakan koma dan sudah tidak ada harapan untuk hidup," kata Arga dengan suara yang bergetar.


"Hal yang bikin aku kesal adalah mereka tidak tahu alamat rumah mantan suami Jelita itu. Papa sudah menyewa detektif, tapi tetap saja tidak bisa menemukan mereka. Maka uang jaminan itu diberikan kepada Bi Ayu yang tinggal satu kampung dengannya. Mereka berharap kalau anaknya Ratu akan datang ke kampung itu," lanjut Pandu lalu menghela napasnya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Arga.


"Aku bingung. Kedua orang tuaku meminta aku untuk menikahi Ratu. Soal wajahnya yang rusak mereka akan menyuruhnya melakukan operasi plastik. Jujur saja aku tidak punya rasa cinta sedikit pun kepada dia. Kamu sendiri tahu, 'kan aku ini laki-laki seperti apa?" jawab Arga dengan tersenyum kaku. 


Terbayang sudah akan seperti apa kehidupan rumah tangga Pandu jika dijalani dengan Ratu. Belum lagi ada Mariana yang selalu menempel seperti lintah. Bahkan sampai sekarang Pandu dan Mariana masih tinggal di satu apartemen.


"Mungkin ini sudah saatnya kamu bertaubat. Allah ingin kamu kembali ke jalan yang benar. Nikahi Ratu dan buat di menjadi cantik dengan cintamu," ujar Arga.


"Sialan, kamu!" Pandu melemparkan tisu yang dia buat bola-bola kepada Arga.


"Jangan menyesal, loh, nanti kamu bisa-bisa bucin kayak aku kepada Marsha," tukas Arga sambil tertawa terkekeh.


"Hei, Marsha itu cantik dan memiliki bentuk tubuh yang bahenol eplok cendol. Para lelaki pasti mau kepadanya," pungkas Pandu lalu berlari ke arah pintu karena Arga sudah bersiap akan melemparkan telepon yang ada di atas meja.


***


Marsha mencari pensil karena Alva dan Safira ingin hasil menggambarnya mendapatkan bintang dari wanita itu. Maka dia pun mencari di meja kerja milik suaminya.


"Ini amplop rumah sakit. Milik siapa?" Marsha bertanya-tanya sambil membolak-balikkan amplop berwarna putih yang memiliki kop surat dengan nama salah satu rumah sakit terkenal di ibu kota.


Marsha pun membuat isi amplop itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu isi tulisan yang tertera di kertas itu. Ya, amplop itu adalah hasil laboratorium yang menyatakan kesuburan Arga mengalami permasalahan.


"Astaghfirullahal'adzim. Kenapa Mas Arga menyembunyikan hal sepenting ini dariku?" 


***


Apakah Marsha akan marah kepada Arga bertengkar gara-gara masalah ini? Ikuti terus kisah mereka, ya!


Jangan lupa baca juga karya terbaru aku ini.