
Bab 173
Arshy menarik napas sebelum mengetuk pintu di mana Abiyan berada. Setelah terdengar suara sahutan dari dalam, gadis itu masuk.
"Pak, ini laporan yang Anda inginkan," kata Arshy sambil menyerahkan map berwarna merah.
"Taruh saja di atas meja," balas Abiyan tanpa melihat ke arah Arshy. Laki-laki itu sibuk dengan laptopnya.
Arshy pun meletakan berkas laporan keuangan itu, lalu izin pergi meninggalkan ruangan. Ternyata Abiyan bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian mengikuti langkah gadis itu tanpa suara.
"Apa dia itu manusia dari kutub?" kata Arshy bergumam, tetapi masih bisa didengar oleh Abiyan.
Arshy membuka pintu ruang kerja itu lalu menutup lagi tanpa sadar. Baru juga satu detik dia berbalik kemudian membuka pintu itu lagi karena ada yang kelupaan.
Abiyan yang sedang merasa kesal karena pintunya ditutup oleh Arshy, padahal dia hendak keluar. Tanpa laki-laki duga pintunya kembali terbuka dan membentur kepala sang manajer, lebih tepat dibagian kening yang tadi pagi kena seruduk kepala Arshy saat di lift.
"Awwww!" Abiyan mengerang kesakitan sambil memegang keningnya.
"Loh, Bapak, kenapa?" tanya Arshy polos yang tidak sadar sudah mencelakai sang atasan untuk kedua kalinya di hari ini.
"Kau ...!" Abiyan menatap tajam kepada Arshy lalu memalingkan muka.
Arshy hanya terbengong karena melihat Abiyan seperti sedang marah kepadanya. Niat tadi ingin menyampaikan pesan Bu Yeni menjadi lupa. Dia bergegas pergi dari sana sambil bertanya-tanya.
Abiyan yang akan masuk ke dalam lift, keduluan ditutup oleh Arshy. Lagi-lagi dia berdecak kesal akan perbuatan gadis itu.
"Aaaaaa. Mati aku! Aku lupa bilang kalau laporan itu harus segera diberikan kepada Pak Alvin," pekik Arshy di dalam lift.
Saat ini Arshy adalah karyawan magang yang memulai karirnya dari bawah. Dia diminta oleh Pandu untuk membantu dirinya sampai anaknya menikah dan perusahaan di bawah kendali Queen dan Azka.
***
"Mami, Alfi ingin makan dengan ayam goreng," kata bocah berumur tiga tahunan itu.
"Ayam gorengnya kita beli saja, ya? Mami lelah tidak bisa masak," ucap Arshy yang merasa sangat lelah hari ini karena pekerjaan dia banyak.
"Oke," balas Alfi sambil mengangguk semangat.
Arshy tersenyum sambil mengusap kepala Alfi. Untungnya bocah itu mudah diasuh dan diatur.
"Mami, kapan kita pergi naik bianglala lagi?" tanya Alfi saat kembali teringat liburan dia bersama dengan Arshy dan saudara-saudaranya, minus Alva karena sedang indehoy bersama Safira beberapa waktu lalu.
"Hmmm, kapan, ya?" Arshy terlihat seperti sedang berpikir.
Gadis itu menjadi ingat beberapa kejadian di hari itu. Arshy juga mengingat kalau dirinya bertemu dengan Abiyan juga di sana untuk pertama kalinya. Saat itu terjadi insiden di antara mereka. Di mana Arshy yang memegang es krim di kedua tangannya, menabrak tubuh Abiyan dan naas keempat es krim corong di tangannya nempel di muka lelaki itu.
"Bagaimana kalau dua mingguan lagi?" Arshy ingat kalau dua minggu lagi dirinya berulang tahun yang ke-20.
"Hore! Liburan lagi ke taman hiburan," teriak Alfi.
Arshy memilih merayakan tanggal kelahirannya itu bersama Alfi. Mereka nanti akan bersenang-senang di hari itu.
Saat Arshy dan Alfi memasuki sebuah warung nasi ayam dan bebek, ternyata ada Abiyan di sana sedang memesan ayam dan bebek bakar.
Abiyan yang melihat Arshy bersama Alfi menduga mereka ibu dan anak. Laki-laki itu memicingkan matanya kepada Arshy. Dia ingat betul kalau perempuan itu baru berusia 20 tahunan.
'Apa dia hamil selagi masuk kuliah?' Abiyan mendadak kepo.
'Ngapain dia menatap aku seperti itu? Seperti sedang melihat hantu saja,' batin Arshy.
***