
Bab 111
Marsha memasang wajah galak kepada suaminya. Dia marah, cemburu, dan kesal saat melihat foto masa lalu Arga bersama Valerie.
Dengan kasar dia menyerahkan beberapa lembar foto itu kepada Arga. Lalu, dia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam.
Arga pun melihat foto itu, mata dia hampir keluar dari tempatnya. Dia ingat kapan foto itu diambil. Yaitu saat pergi liburan dan berakhir di kamar hotel.
"Sayang, ini hanya masa lalu. Bukannya kamu sudah mau menerima diriku dengan masa lalu yang seperti itu?" Arga merasa bersalah dan sedikit takut akan kemarahan Marsha ini membuat acara bulan madu gagal.
"Lalu, untuk apa kamu simpan foto-foto itu?" tanya Marsha dengan nada marah.
"Aku tidak menyimpannya! Bahkan semua barang kenangan aku dengan Valerie sudah aku musnahkan. Mungkin ini terlewatkan oleh aku karena tempat penyimpanan itu jarang aku sentuh," jawab Arga berusaha meyakinkan sang istri.
Marsha tidak mau percaya begitu saja. Dia akan memberikan pelajaran kepada Arga agar menghargai perasaan dan statusnya sebagai seorang istri.
"Kita batalkan perjalanan bulan madu ini! Aku sudah tidak minat lagi untuk melakukan itu." Marsha pun beranjak pergi.
Baru juga dua langkah, Marsha tertahan karena Arga bisa meraih tubuhnya. Laki-laki itu memeluk dari belakang dengan erat. Saat Marsha menolehkan kepala ke belakang hendak protes, bibirnya langsung dibungkam oleh ciuman.
Rasanya Marsha ingin memaki dan menghajar laki-laki yang berbuat seenaknya ini. Namun, tubuhnya yang sudah kecanduan sentuhan sang suami, malah membalas ciuman itu dengan mesra. Bahkan kini mereka saling berpelukan menyalurkan perasaan saat ini.
Arga senang tidak ada penolakan dari Marsha. Karena dia tahu rasa cinta sang istri lebih besar dari rasa amarahnya.
Marsha yang sempat terbuai oleh ciuman lembut dan berakhir dengan ciuman penuh gelora, langsung memukul punggung Arga. Dia kesal sama dirinya sendiri yang selalu saja terbuai oleh sentuhan suaminya.
"Aku sedang marah sama kamu, Mas! Jangan ganggu aku!" Suara Marsha mendesis saking marahnya, tapi takut dosa jika berteriak-teriak kepada suami.
Setelah terlepas dari pelukan Arga, Marsha pun pergi ke kamar Arga. Dia menangis karena merasa dibohongi oleh suaminya. Ketukan dan permintaan maaf dari laki-laki itu tidak dia gubris. Wanita itu sedang tidak mau berbicara dengannya.
"Sayang, maafkan aku!"
"Masa kamu tidak mau memaafkan aku."
"Marsha, hanya kamu yang aku cinta sekarang dan di masa yang akan datang."
***
Marsha merasa tidurnya terasa nyenyak setelah lelah menangis. Dia juga merasa nyaman tidur di kamar Alva. Namun, dia merasa ada sesuatu yang aneh.
'Kenapa wangi Mas Arga, ya? Masa aku sudah merindukan dirinya,' batin Marsha.
Kening wanita ini pun berkerut saat merasa guling yang tadi dipeluknya terasa hangat dan wangi sang suami. Dia semakin membenamkan wajahnya, bukan empuk kapuk, tetapi keras seperti dada bidang suaminya. Dengan perlahan dia membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah dada bidang Arga seperti biasa jika dia bangun tidur.
Tentu saja Marsha terkejut melihat ada suaminya yang sedang dia peluk. Belum juga rasa itu hilang, mata wanita itu terbelalak saat sadar mereka berada di tempat asing, bukan kamar Alva.
"Ini di mana, Mas?" Marsha mengedarkan pandangannya.
"Di resort milik aku dan Pandu. Sekarang ini kita sudah berada di Lombok," balas Arga.
"A–pa!" pekik Marsha tidak percaya.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Marsha kini melihat ke arah Arga.
"Bisalah. Apa yang tidak bisa aku lakukan," jawab Arga dengan sombong.
Sebenarnya tadi pagi Arga langsung menghubungi Pandu untuk meminjam pesawat jet pribadi milik keluarganya. Sementara itu, dia mencari kunci cadangan kamar Alva. Setelah berhasil masuk, laki-laki itu langsung membawa sang istri ke bandara. Selama dalam perjalanan Marsha tetap tidur nyenyak dalam pelukannya. Begitu juga saat sampai hotel, wanita itu belum bangun juga. Namun, baru saja sekitar 15 menit mereka berbaring, Marsha membuka matanya.
"Sudah jangan marah lagi, Sayang. Kamu juga tahu sendiri perasaan aku sekarang seperti apa. Hanya kamu wanita satu-satunya di dalam hatiku," ucap Arga dengan lembut sambil menatap Marsha.
"A–ku, tidak mau menjadi satu-satunya perempuan di hati kamu, Mas," balas Marsha.
"Apa maksud kamu, Sayang. Aku tidak mau ada wanita lain dalam rumah tangga kita!" Arga giliran yang terlihat marah.
"Kenapa? Aku juga mau punya anak perempuan!" balas Marsha dengan nada kesal.
Kemarahan Arga langsung menguap begitu saja begitu mendengar ucapan sang istri. Senyum mereka kini menghiasi wajah tampan milik laki-laki itu.
"Kalau yang itu beda lagi ceritanya, Sayang," balas Arga sambil menyentuh lembut pipi Marsha lalu dikecup keningnya.
"Ayo, kita buat adik perempuan untuk Alva," bisik Arga dengan mesra.
Marsha yang sempat kesal pun mengangguk pasrah. Eh, tidak bisa dibilang pasrah juga, karena wanita itu juga menginginkan hal ini.
Arga dan Marsha melewati waktu siang dengan bercinta setelah sholat Zuhur. Mereka berhenti saat waktu memasuki waktu sholat Asar. Lalu, dilanjutkan dengan jalan-jalan di pinggir pantai.
"Semoga usaha kita kali ini mendapatkan hasil," ucap Arga dan di aamiin-kan oleh Marsha.
***
Jangan lupa kasih like, komentar, nonton iklan setelah membaca.