
Bab 138
Alfi menangis saat melihat Safira lewat video call. Bayi itu sejak kemarin sore belum bertemu dengan kedua orang tua angkatnya.
"Alfi Sayang, sebentar lagi mama dan papa akan pulang," ucap Safira saat melihat bayi itu menangis.
Alva yang mendengar suara tangisan Alfi ikut nimbrung di layar. Lalu dia bertepuk tangan dan bayi itu pun terdiam. Kedua tangannya terlihat hendak meraih handphone, tetapi di tahan oleh Arshy.
"Alfi jangan menangis, ya. Papa juga sudah mau kembali ke hotel," kata Alva kepada bayi itu.
"Sekarang kita akan pulang, Dek. Jaga Alfi dulu, ya!" titah Alva kepada Arshy.
"Kalau kembali ke sini ingat belikan aku sarapan," balas gadis berjilbab instan itu dengan mimik merajuk.
Alva tersenyum simpul sambil mengangguk lalu mematikan panggilan itu. Sementara Safira bergegas pamit kepada orang tua Intan.
"Kami akan secepatnya memberi tahu Om Zamzam dan Tante Tiara, jika ada informasi terbaru," kata Alva.
Kedua orang tua Intan akhirnya tahu apa yang sudah terjadi kepada anak semata wayangnya itu. Mereka tidak menyangka kalau laki-laki yang mereka jodohkan kepada anaknya itu bukanlah orang yang baik.
"Terima kasih Alva ... Safira, kita juga akan ikut membongkar kasus ini. Om akan hubungi beberapa kenalan yang ada di Jakarta. Kebetulan Om punya teman baik yang berprofesi sebagai pengacara dan polisi yang cukup tinggi jabatannya. Semoga saja mereka akan turun tangan menangani kasus ini. Om berharap kita punya bukti yang kuat untuk memudahkan mereka membuka kasus ini," ucap Om Zamzam.
***
Alva dan Safira sudah kembali ke hotel. Alfi langsung minta digendong oleh ibu angkatnya itu. Alva dan Arshy sarapan bersama terlebih dahulu, nanti gantian dengan Safira.
"Jadi, apa ini disebut sebagai perdagangan manusia?" tanya Arshy setelah mendengar cerita Safira dan Alva.
"Sepertinya mereka dipaksa dijadikan wanita penghibur," jawab Safira merasakan tubuhnya merinding.
"Dari beberapa laporan orang yang bilang, para gadis itu awalnya mengirimkan lowongan kerja. Mereka menerima panggilan dan datang ke ibu kota. Setelah itu pihak keluarga tidak mendengar lagi keberadaan anak mereka. Akhirnya melaporkan hal itu kepada polisi," jelas Alva setelah menganalisa data korban orang hilang.
"Sangat mengerikan sekali. Semoga tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban," gumam Arshy.
***
Handphone milik Alva terus berbunyi, tetapi sang pemilik tetap bergeming dalam posisinya yang masih tidur. Maka, Arshy pun memberhentikan dahulu kendaraannya, lalu mengangkat panggilan telepon itu.
"Assalamualaikum," salam Arshy.
"Wa'alaikumsalam. Ini siapa? Kok, handphone milik Alva ada sama kamu?" tanya orang dari seberang.
Orang itu adalah Alfarizi, salah satu sahabat Alva. Dia ada perlu sama putra sulung Mentari, untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Aku ... adiknya. Ada perlu apa menghubungi Kak Alva? Saat ini dia sedang tidur karena kelelahan," jawab Arshy.
"A–Arshy?" Orang itu memanggil mana adik Alva.
Nada bicara Alfarizi langsung berubah. Tadinya dia mengira itu Safira. Selama ini hanya gadis itu yang berani menerima panggilan masuk ke nomor Alva.
"Kamu kenal sama aku?" tanya Arshy agak terkejut. Dia tidak menyangka kalau ada teman kakaknya yang kenal sama dirinya.
"Tentu saja kenal. Siapa yang tidak kenal adik paling cantik dan gadis yang suka menjahili seorang Alvarendra yang dingin dan selalu berekspresi datar," jawab Alfarizi diikuti tawa.
Muka Arshy langsung merona karena merasa malu. Dia malah dikenal barbar oleh teman-teman sang kakak.
"Ada apa menghubungi Kak Alva? Nanti akan aku sampaikan pesan dari kamu," tanya Arshy.
"Tidak bisa aku sampaikan melalui kamu. Aku harus mengatakannya langsung kepada Alva," jawab Alfarizi.
"Ya, sudah kalau begitu. Nanti biar Kak Alva yang menghubungi kamu," ujar Arshy lalu mengakhiri panggilan telepon itu.
***
Alva baru menghubungi Alfarizi setelah malam hari. Tadi, begitu sampai di apartemen, dia kembali melanjutkan tidurnya. Tubuhnya yang kelelahan ingin istirahat total.
"Ada salah seorang dari korban yang hilang itu menghubungi keluarganya. Gadis itu bilang kalau dia dibawa ke sebuah rumah dan di sana dia tidak sendiri, ada beberapa orang lain bersama dengannya. Gadis itu sepertinya mencuri-curi kesempatan yang dia miliki untuk menghubungi keluarganya. Kadang saat mereka bicara, tiba-tiba telepon di matikan. Baru beberapa kata sudah di matikan kembali. Orang tua gadis itu langsung melaporkan kepada pihak berwajib, tetapi bukti tidak ada. Hanya ada nomor yang dipakai untuk menghubungi orang tuanya. Dan Itu nomor terdaftar dengan data orang yang sudah meninggal lima tahun yang lalu," kata Alfarizi menjelaskan hasil pertemuan dia hari kemarin.
Alva mendengarkan semua laporan yang diberi tahu oleh temannya itu. Lagi-lagi malam ini dia akan begadang untuk menganalisa beberapa barang bukti dan orang-orang yang nantinya akan bisa dijadikan saksi.