
Bab 45
Sakit, itu perasaan Arga saat ini. Bukan karena sikap sang istri kepadanya, tetapi dia merutuki kebodohan dirinya. Hanya karena tidak terima dengan posisi menggantikan posisi Sakti untuk menikahi Marsha. Apalagi keadaan wanita itu sedang hamil.
Dalam pikiran Arga tidak pernah terlintas kenapa Allah memberikan takdir seperti ini kepadanya. Apa hikmah yang bisa dia dapatkan dalam pernikahannya bersama Marsha. Padahal banyak sekali perubahan dalam dirinya menuju kebaikan yang sempat berada di jalan yang sesat. Namun, semua itu ketutup oleh kebodohan dirinya hanya karena naf*su.
"Bisakah kamu menjaga dirimu sampai aku kembali datang kepada ayah? Dengan kebulatan tekad dan perasaan cintaku, untuk meminta dirimu menjadi istriku lagi nanti?" Arga bertanya setelah bisa menghentikan isak tangisnya.
Marsha mengalihkan pandangannya kepada Arga. Laki-laki yang berjarak hanya sejengkal darinya itu menatap dengan lekat dan penuh harap. Tatapan Arga saat ini tentu saja berbeda dengan saat kedatangan dia dengan keluarganya untuk menggantikan Sakti. Hati Marsha kembali bergetar hanya dengan pancaran netra laki-laki yang pernah menorehkan luka pada perasaannya.
"Aku tidak bisa berjanji dan tidak mau berjanji. Aku hanya akan berserah diri kepada Allah. Dia-lah yang menciptakan manusia berpasangan-pasangan. Aku tidak tahu takdir jodoh yang akan aku dapatkan. Tapi, aku yakin kalau wanita baik-baik untuk wanita baik-baik. Laki-laki jahat untuk wanita jahat," jawab Marsha.
Mendengar jawaban dari sang pujaan hati, Arga tersenyum tipis. Dia suka dengan apa yang sudah Marsha ucapkan. Setidaknya dia masih punya kesempatan untuk meraih wanitanya dengan cara yang benar, nanti.
"Izinkan aku untuk menemui Alva selama aku atau anak itu ingin bertemu, " kata Arga mengungkapkan keinginannya.
Marsha hanya mengangguk. Wanita itu tidak mungkin mencegah pertemuan mereka. Bagaimanapun juga Alva sangat menyayangi Arga, begitu juga sebaliknya.
"Terima kasih," bisik Arga.
Meski sudah tengah malam Arga memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia merasa malu kepada Marsha dan keluarganya.
***
Arga dan Marsha memutuskan untuk pergi ke kuburan Sakti. Mereka ingin memberi tahu Alva kalau ada seorang lagi yang harus dia panggil ayah.
"Alva, seperti yang Bunda katakan tadi kalau kita akan menemui Ayah Sakti atau ayah Alva yang lain," kata Arga sambil menggendong bocah dua tahun lebih itu di jalan menuju pemakaman umum.
"Ayah Sakti itu tinggal di sini?" tanya Alva sambil melihat banyak nisan yang berjajar rapi.
"Iya," jawab Arga dengan mata berkaca-kaca.
Ketiga orang itu kini sudah sampai di kuburan dengan nama Alvarendra Sakti Wibowo yang tertulis di batu nisannya. Mereka berjongkok lalu mendoakan kebaikan untuk Sakti di alam barzah.
Semilir angin dingin berhembus menerpa mereka bertiga. Suasana pemakaman yang sepi orang, hanya terdengar suara hewan serangga.
"Alva, kamu harus tahu kalau dia adalah ayah Alva. Namanya sama dengan Alva, Alvarendra. Hanya saja nama panggilan kalian berbeda," jelas Arga sambil membelai kepala bocah itu dengan penuh perasaan haru.
"Jadi, ini Ayah Sakti? Alva sering bertemu dengan orang yang wajahnya sama dengan ayah, tapi itu bukan ayah," ucap Alva lancar begitu saja meski cadel.
"Di mana Alva melihat orang yang wajahnya mirip ayah?" tanya Arga.
"Di rumah Ayah, di rumah sakit, di rumah kakek, di rumah opa, di dalam mimpi juga. Tapi, dia tidak suka lama-lama kalau bermain. Ayah Sakti sering bilang, “Alva jadi anak yang baik. Jaga Bunda, ya!” gitu," ucap Alva.
Marsha tidak kuat menahan air matanya lagi. Dia tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Selama dia merasa kesepian dan sendiri, kadang dia mengingat Sakti. Bahkan saat dia masih hamil sering bicara dengan bayinya dan menyebut nama Sakti.
Dulu saat tahu dirinya hamil dan dunia dia serasa hancur, Sakti menyakinkan dirinya kalau masa depan dia akan baik dan indah. Laki-laki itu akan selalu membuat masa depan mereka dengan kebaikan dan meraih kebahagiaan. Maka, Marsha pun percaya kalau Sakti bisa menjadi seorang suami yang baik untuk dirinya dan menjadi ayah yang baik untuk bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Ayah Sakti juga ada di sini," tunjuk Alva ke arah depan.
"Di mana?" tanya Arga.
"Berdiri di depan Bunda," jawab Alva sambil tersenyum.
Arga melihat ke arah yang ditunjuk Alva, tetapi tidak ada siapa-siapa. Namun, dia berpikir kalau yang dilihat oleh Alva adalah jin qorin-nya Sakti.
Semalam Arga tidak bisa tidur. Entah kenapa kalinya malah melangkah ke kamar Sakti. Dia melihat ada buku catatan milik sang adik. Halaman awal itu tulisannya adalah doa-doa dan amalan yang bisa diamalkan tiap hari. Namun, dibagian pertengahan sampai terakhir adalah curahan perasaan dia.
Perasaan takut akan murka Allah karena dirinya sudah berbuat dosa besar. Perasaan dia yang selalu bersalah kepada Marsha karena sudah merusak mahkota perempuan terhormat.
Arga baru tahu kalau Sakti selalu melakukan sholat malam untuk memohon ampunan karena sudah berzina. Apalagi sampai membuat Marsha hamil. Adiknya itu juga berharap jangan sampai dosa yang sudah dia lakukan kepada Marsha menimpa anak keturunannya. Dia juga selalu mendoakan agar anak yang terlahir karena perbuatannya itu menjadi anak yang sholeh dan beriman kepada Allah, kerena menurutnya bayi itu tidak bersalah.
Arga cemburu saat tahu perasaan Sakti kepada Marsha. Ternyata adiknya diam-diam menyukai wanita itu. Betapa bahagianya dia saat menyiapkan pernikahan mereka. Bahkan dia mengakui kalau hanya Marsha satu-satunya wanita yang akan dia cintai seumur hidupnya.
"Kak," panggil Marsha sambil menepuk bahu Arga.
Laki-laki itu menoleh ke arah sumber suara. Marsha sudah berdiri, maka dia pun ikut berdiri. Mereka pun pergi dan Alva melambaikan tangan.
"Kak Arga!"
Saat mereka keluar komplek pemakaman ada seseorang memanggil nama Arga. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya kepada orang yang memanggil.
***
Siapakah orang yang sudah memanggil Arga? Apakah Arga akan bisa menarik hati Marsha nanti? Ikuti terus kisah mereka, ya!