Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 44. Isi Hati Marsha


Bab 44


Marsha mengobati luka pada wajah Arga. Meski hatinya kesal dia mengobati suaminya dengan hati-hati. Ada beberapa luka memar di tulang pipi, ujung bibir, dan ujung mata sampai pelipis.


"Aduh," desis Arga saat Marsha mengoleskan salep pada ujung bibir laki-laki itu.


"Perih, Kak?" Marsha lebih hati-hati lagi. Saat ini emosi dia sudah mereda dan memanggil Arga dengan panggilan “Kakak” seperti biasanya.


Keimanan Arga diuji lagi saat Marsha meniup pelan pada luka yang sedang diolesi obat. Baru juga sekali merasakan kelembutan bibir sang istri, ini membuat laki-laki itu ingin kembali menciumnya.


'Astaghfirullahal'adzim. Jangan sampai aku menciumnya lagi, nanti dia marah lagi,' batin Arga.


Setelah hampir satu jam Marsha membersihkan luka lalu mengobatinya, akhirnya selesai sudah tugas dia. Dia pun merapikan kotak P3K.


"Marsha, tidak bisakah kamu membatalkan gugatan cerai itu. Tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu dan juga Alva?" tanya Arga dengan tatapan nanar.


Marsha memalingkan wajah, saat ini dia tidak mau hatinya goyah oleh tatapan memohon dari laki-laki itu. Dia menarik napasnya lalu menghembuskan secara perlahan.


"Bukan aku yang mengakhiri tali pernikahan ini, tapi Kakak yang sudah memutuskannya," ucap Marsha.


Satu tetes air mata jatuh dari netra milik wanita bersurai hitam panjang. Rasa sesak di dada kembali dia rasakan.


"A–pa? Maksud kamu apa, Marsha? Bukannya kamu tahu sendiri kalau aku tidak ingin bercerai dengan kamu. Lalu, kenapa kamu malah bilang kalau aku yang mengakhiri tali pernikahan kita?" Arga ikut berdiri saat melihat Marsha berdiri.


Marsha berjalan ke arah lemari lalu mengambil sesuatu dari dalam laci. Dia pun menyerahkan kertas itu kepada Arga.


Bola mata Arga bergulir mengikuti setiap kata yang ditulis di sana. Tubuh laki-laki itu jatuh terduduk di lantai. Dia melupakan surat perjanjian yang dia buat sendiri.


"Talak dari Kakak sudah jatuh kepadaku sejak dua tahun lalu," ucap Marsha dengan pelan.


Arga merutuki dirinya sendiri. Dulu dengan sombong dan keras kepala, dia meminta Marsha untuk menyetujui semua perjanjian yang dibuat sendiri. Begitu juga konsekuensi apa yang akan terjadi kepada mereka berdua.


"Marsha … aku tidak mau berpisah dengan kamu," ucap Arga mengulang entah untuk keberapa kalinya.


"Apa Kakak tahu seharusnya dahulu kakak tidak boleh menikahi aku yang sudah hamil oleh Sakti. Wanita yang hamil diluar nikah dilarang dinikahkan dengan laki-laki, kecuali oleh laki-laki yang menghamili dirinya. Aku baru mengetahui hal ini saat diberi tahu oleh Pandu. Aku rasa dia tidak tahu kalau aku adalah salah satu dari pelaku itu," ujar Marsha yang kini ikut duduk di lantai di depan Arga.


"Ada rasa takut yang aku rasakan saat itu. Aku takut kalau pernikahan kita tidak sah di mata Allah. Maka aku ingin mendiskusikan hal ini dengan Kakak. Tapi, kamu terlalu sibuk mengurus wanitamu. Setiap malam aku selalu memohon kepada Allah petunjuk-Nya. Aku tidak mau kalau seumur hidupku tanpa sadar berada di dalam lembah dosa zina," lanjut Marsha.


Dada Arga terasa sesak karena menahan rasa penyesalan. Ucapan yang keluar dari dari mulut Marsha begitu menohok dirinya.


"Lalu, Allah tunjukan kepadaku seperti apa hubungan masa depan rumah tangga kita. Kakak berjanji bahkan bersumpah akan menikahi Valeri. Dengan begitu berlaku apa yang ada di dalam surat perjanjian yang Kakak buat. Pernikahan kita akan berakhir atau bercerai, jika salah satu di antara kita menemukan pasangan atau belahan jiwa dan ingin menghabiskan waktu bersama pasangannya itu," tambah Marsha.


"Lalu, ketika Kakak mengatakan kalau bayi yang aku kandung bukan bertanggung jawab Kakak. Sudah habis tidak lagi ada sisa yang bisa aku pertahankan dalam kehidupan pernikahan ini," ucap Marsha dengan berderai air mata.


Kedua tangannya menghapus lembut pipi yang sudah basah oleh cairan bening. Marsha masih merasakan sesak di dadanya.


"Aku selalu sendirian menghadapi semua itu. Sementara Kakak bersenang-senang dengan Valerie," ujar wanita beranak satu itu dengan lirih.


Marsha menundukan wajahnya. Dia tidak mau mukanya yang bengkak dan sembab akibat menangis dilihat oleh Arga.


"Maafkan aku, Marsha. Aku bodoh karena sudah membiarkan seorang bidadari seperti dirimu. Allah sudah memberikan jodoh wanita baik-baik kepadaku, karena aku lemah iman jadi seperti itu," ucap Arga dengan lirih. Dadanya begitu sesak dan rasanya dia juga ingin menghajar dirinya sendiri atas perlakuannya kepada Marsha dahulu.


***


Bagaimana kelanjutan hubungan tali pernikahan Marsha dan Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!