
Bab 154
Matahari sudah terbenam, tetapi tidak membuat Alva untuk berhenti mencari keberadaan Safira. Sekarang dia sedang menuju ke alamat terakhir yang dia miliki. Dengan bantuan GPS pemuda itu menuju sebuah alamat di pinggir kota.
Alva memasuki kompleks perumahan yang cukup elit dan berjajar dengan pagar-pagar yang membentengi setiap rumahnya. Pemuda itu mengurangi kecepatan laju motor untuk memeriksa rumah mana yang sedang dia cari. Dia berhenti di sebuah rumah yang halamannya ditumbuhi oleh ilalang meski belum terlalu tinggi.
Putra sulung Marsha memarkirkan motor tidak jauh dari rumah itu. Kebetulan ada pohon yang cukup besar tumbuh di pinggir jalan, dia pun meletakan motornya di sana.
Rumah yang dituju oleh Alva terlihat ada beberapa lampu yang menyala. Lalu, dia memotret rumah itu dan mengirimkan ke beberapa temannya dan juga polisi. Dia tidak mungkin bisa sendiri dalam menyelamatkan dua orang gadis, di saat bersamaan harus melawan dua orang penjahat. Setahu dia, Leonard dan Fery itu mempunyai senjata api.
Alva mencari cara agar bisa masuk ke dalam. Benteng rumah cukup tinggi dan dibagian atasnya banyak pecahan kaca yang sengaja di tanam di sana agar tidak ada yang bisa menaiki tembok itu.
Otak Alva terus berpikir bagaimana caranya masuk tanpa diketahui musuh dan tidak juga mencelakai dirinya. Saat dia melihat ada tong sampah di rumah sebelah, dia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk rencananya.
Jika Azka dan Arshy melihat Alva saat ini, mereka pasti akan tertawa terpingkal-pingkal. Seorang calon dokter dari keluarga terpandang sedang menoreh tong sampah. Dia tidak ada cara lain lagi selain ini.
Ada sebuah keset bekas yang sudah jelek meski tidak rusak. Lalu, ada tali rafia yang cukup panjang, dia ambil sewaktu-waktu mungkin diperlukan.
Setelah itu, Alva mencari batu yang berukuran besar. Dia kembali membawa motor ke dinding tembok benteng. Pemuda itu sengaja melakukan ini untuk dijadikan pijakan. Dia naik lalu meletakan keset di atas tembok yang dipenuhi oleh pecahan kaca yang tertancap. Lalu, dia pukulan batu besar beberapa kali agar kacanya berubah menjadi serpihan kecil dan dia bisa berpijak di sana tanpa terluka.
Dengan gesit Alva naik, lalu melompat. Dia sudah berhasil menyusup. Pemuda itu bergerak mendekati jendela yang tidak menyala. Dia mencoba membukanya, ternyata semua terkunci dengan rapat.
Terdengar suara dari ruang depan, di mana lampu ruangan di sana menyala. Sambil mengendap-endap, Alva mendekati tempat itu untuk mencari dengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku hanya memiliki dua orang gadis perawan."
Terdengar ucapan Leonard dengan seseorang lewat telepon. Alva mencoba mengintip lewat jendela. Terlihat laki-laki itu sedang duduk sambil berbicara dengan orang lain. Tangan kanan memegang handphone yang diletakkan pada telinga dan tangan kiri memegang sebuah gelas berkaki.
"Aku jamin mereka masih fresh dan tidak berpenyakit," ucap Leonard lagi.
"Besok pagi aku akan bawa keduanya ke tempat kamu. Karena ini barang bagus, aku minta harga tinggi," lanjut laki-laki itu menimpali ucapan lawan bicaranya diseberang sana.
Tangan Alva terkepal kuat dan rasanya di ingin menghancurkan muka laki-laki itu yang sudah banyak melakukan kejahatan kepada para wanita muda. Seandainya saja dia punya senjata dan membunuh itu dibolehkan, maka dengan tangannya sendiri dia ingin mengeksekusi Leonard.
***