
Bab 77
Semua orang yang ada di ruang depan itu mengalihkan perhatian ke arah pintu. Terlihat ada Sari bersama Dewi yang berdiri di sana. Betapa terkejutnya Barata melihat ada ibunya dengan muka yang muram durja. Laki-laki itu langsung berdiri dan menuntun wanita tua itu agar ikut duduk di sofa.
"Apa begini kelakuan kalian? Tidak menganggap aku, hah!" Sari melotot kepada Barata dan Ayu.
Perasaan bahagia yang tadi di rasakan oleh Marsha menguap hilang tak berbekas. Dia yakin kalau acara pinangan ini akan gagal. Karena kehadiran Sari dan Dewi yang tidak menyukai dirinya. Perempuan itu pun memilih diam sambil memeluk Alva yang duduk di pangkuannya, entah sejak kapan ada di sana. Seakan bocah itu ingin melindungi ibunya. Perbuatan dan ucapan Sari yang sering membuat nangis sang ibu membuat Alva bisa berbuat demikian. Meski usiannya belum genap tiga tahun, bocah itu sudah pandai membaca situasi. (Ini terinspirasi dari keponakan aku yang masih kecil usia tiga tahun kurang, tetapi sudah bisa menghibur ibunya saat tertekan oleh keluarga ayahnya. Bahkan dia tidak mau diajak dibawa ke rumah kakeknya jika memarahi ibunya).
"Maaf, Eyang. Ini mendadak dan kita tidak mau mengganggu waktu istirahat Eyang," ucap Barata dengan hati-hati.
Indah menjadi tidak suka kepada Sari dan Dewi sejak mereka sering membuat Marsha menangis dengan mengatai-katai hal yang tidak bagus. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak terima putrinya direndahkan dan difitnah ini itu.
Ayu memilih diam karena sang ibu mertua sekarang lebih suka menyalahkan sesuatu kepada dirinya. Meski kesal dan tidak terima dengan perlakuan itu, dia hanya berusaha bersabar dan memaklumi. Bicara dengan baik dan lemah lembut saja masih salah di matanya.
Arga mengerutkan kening. Dia berpikir kenapa neneknya bisa tahu kalau mereka sedang berada di sini. Lalu, dia menatap tajam kepada Dewi. Laki-laki itu yakin kalau ada keterlibatan gadis itu di sini. Tadi, dia sudah memastikan kalau eyangnya sedang tidur setelah sholat Zuhur.
Dewi diam sambil menatap ke arah Arga. Jantung dia berpacu kencang saat mata mereka bersirobok. Rasa cintanya sudah membuat dia buta akan kebahagiaan orang lain. Dia kali ini ingin bersikap egois demi kebahagiaannya sendiri.
"Jadi, kapan pernikahan akan segera dilaksanakan?" tanya Indah seakan menabuh genderang perang kepada Sari dan Dewi.
Rasanya Arga ingin berteriak senang dan mencium tangan calon ibu mertuanya ini. Di saat keadaan tegang begini, wanita itu dengan mudahnya melanjutkan kembali rencana mereka.
"Insha Allah, nanti setelah sholat Ashar," jawab Arga segera.
Laki-laki dewasa itu tidak peduli dengan penolakan yang dilakukan oleh neneknya. Karena yang akan menjalani kehidupan rumah tangga ini adalah dirinya.
"Bagus, Arga. Laki-laki harus bisa bertindak cepat dan berani mengambil keputusan untuk dirinya. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan masa depanmu," puji Indah dengan senyum tipis.
"Tentu saja, Bu. Aku bahagia saat bersama Marsha dan Alva," balas Arga dengan penuh suka cita.
Tentu saja Sari semakin meradang mendengar ucapan Arga dan Indah. Rasanya tekanan darah dia naik lagi sampai ke ubun-ubun.
"Apa kamu tidak mendengar ucapan eyang, Arga!" teriak Sari sambil menunjuk sang cucu.
"Eyang sudah terlambat. Karena ajakan dari pinangan aku sudah dijawab duluan sama Marsha. Jadi, Eyang tidak punya hak untuk memisahkan kedua calon mempelai pengantin. Ingat dosa, Eyang," tukas Arga yang menjelma menjadi sosok cucu durhaka. Eh, mungkin lebih pantas disebut sebagai cucu nakal yang suka melawan orang yang lebih tua.
Mulut Sari seakan mendadak kaku sudah digerakan. Dia tidak bisa membalas perkataan cucunya. Kepalanya juga terasa sakit dan berdenyut-denyut.
Dewi hendak membuka mulutnya, tetapi Ayu segera menimpali ucapan Arga tadi. Seakan ibu dan anak itu sangat kompak.
"Kami sudah meminta imam dan marbot masjid agung. Juga Kiai Samsul yang akan menikahkan Arga dan Marsha nanti. Rencananya ijab qobul akan di selenggarakan selepas sholat Ashar agar disaksikan oleh jemaah yang ikut sholat di masjid agung," kata Ayu dan dibenarkan oleh Barata.
"Bahkan aku sudah menyewa catering untuk seratus orang yang akan di tempatkan di latar masjid," lanjut Ayu.
Sebagai putri mantan camat, Ayu merupakan wanita yang cerdas dan gesit dalam melakukan hal apa pun. Dia tidak suka menunda-nunda suatu pekerjaan. Apalagi dengan punya banyak uang, tinggal minta ini itu ke beberapa orang yang diminta untuk membantunya, maka semua akan bisa beres dengan cepat.
"Aku akan pulang ke Surabaya. Toh, aku di sini juga tidak dihargai oleh anak, menantu, dan cucuku sendiri," kata Sari dengan ketus.
"Bukannya kita tidak menghargai Eyang. Tapi, Eyang sendiri yang selalu berbuat sesuatu sehingga orang lain enggan untuk balik menghargai. Ke mana Eyang Sari yang dahulu penyayang dan suka bertutur kata lembut penuh kasih sayang? Aku rindu ibuku yang sering mengucapkan nasehat-nasehat kebaikan dan mendorong semangat untuk orang lain," balas Barata kepada ibunya.
Sari sudah siap ingin membalas ucapan anaknya. Namun, Arga lebih dahulu menimpali perkataan ayahnya.
"Eyang seperti menjelma jadi orang lain. Aku bahkan tidak mengenali Eyang aku sendiri. Eyang dahulu tidak pernah memandang hina atau rendah orang lain. Bahkan kepada orang gila yang berkeliaran di jalan pun, Eyang masih menghargai mereka dengan berkata lembut dan memberikan makanan dan juga baju yang kayak," lanjut Arga dengan tatapan kecewa.
Keluarga Marsha hanya diam mendengarkan pembicaraan keluarga Arga. Mereka tidak ikut campur urusan internal keluarga calon besan.
"Bukannya aku sering bilang kepada Eyang kalau Sakti dan Marsha itu sudah dijebak oleh orang lain. Kebetulan pelakunya sudah ditangkap dan mengaku kalau dia sudah berbuat jahat kepada Marsha dan Sakti. Mereka berdua adalah korban. Apa Eyang akan terima jika ada yang memfitnah Sakti sudah merudapaksa Marsha?" tambah Arga lagi.
Sari masih terdiam dengan sorot mata terluka. Tentu saja dia tidak akan terima ada yang memfitnah dan menghina cucunya. Kulit wajahnya yang sudah berkeriput tidak menghilangkan jejak kecantikan di waktu muda. Wanita tua itu sedang memikirkan apa yang sudah diucapkan oleh anak, menantu, dan cucunya.
Dewi memegang tangan Sari untuk menyadarkan dirinya. Perempuan itu tidak mau kalau sampai hati Sari kembali goyah dan melunak kepada keinginan Arga. Selama ini dia sudah mendoktrin wanita tua itu, kalau dirinya akan bisa membuat Arga hidup bahagia jika bersama dengannya.
'Ya Allah, tunjukan keajaiban kamu!' pinta Dewi di dalam hatinya.
***
Akankah dia Dewi terkabulkan? Bagaimana reaksi Sari setelah ini? Ikuti terus kisah mereka, ya!