Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 39. Aku Tidak Ingin Bercerai


Bab 39


Arga menidurkan Alva dengan hati-hati agar tidak bangun. Dia juga mengirimkan foto kepada mertuanya kalau dia akan mengantarkan ke sana jika bocah itu sudah bangun. Jika anak balita itu kelelahan main, biasanya tidur akan sangat lama. Untungnya sang anak bukan tipe yang rewel, mau main apa saja tidak masalah. Main sendiri atau bersama-sama juga tidak masalah bagi dia.


"Berapa hari kamu cuti?" tanya Barata kepada Arga.


"Tiga hari. Selasa sampai Jumat, lalu dilanjut libur hari Sabtu dan Minggu. Semoga saja aku berhasil meluluhkan hati Marsha sebelum hari Minggu. Aku ingin keluarga kami bahagia. Mengurus Alva bersama-sama," jawab suami dari Marsha itu dengan lirih.


Melihat sikap sang istri dan ayah mertuanya tadi, mengisyaratkan kalau mereka sangat marah kepadanya. Hal yang paling dia takutkan adalah Marsha melakukan apa yang pernah dia ancaman kepadanya. Yaitu, perceraian. Laki-laki itu tidak mau, karena dia sudah mencintai dan menyayanginya.


"Jika Marsha bersikukuh ingin bercerai dari ka—"


"Tidak. Sampai kapankah aku dan Marsha tidak akan pernah bercerai. Dia istriku baik dulu, sekarang, sampai maut memisahkan kita!" potong Arga dengan bersikukuh dan keras kepala.


Barata juga tidak ingin kehilangan menantu seperti Marsha. Dia dan istrinya juga sudah sangat pasrah saja. Apalagi semua bermula karena ulah putranya.


"Kamu jangan egois Arga. Biarkan Marsha dengan pilihannya. Jika kamu memang mencintainya, tidak mungkin selama kalian tinggal bersama kamu abaikan dia bahkan kamu menolak keberadaan Alva selagi masih di dalam kandungan. Bagaimana sakitnya perasaan dia! Sudah bagus kamu masih boleh mengasuh Alva. Jika orang lain belum tentu membolehkan anak yang kamu tolak itu untuk dibawa sama kamu," tukas Barata dengan keras.


Ucapan sang ayah itu membuat Arga terasa ditampar dengan keras. Sungguh dia menyesali ucapannya itu, dahulu. Sejak awal laki-laki itu sudah sayang sama bayi yang ada di dalam perut Marsha. Hanya karena kecerobohan dan pikirannya yang sedang kacau karena Valerie, dia sampai mengatakan kata-kata itu.


Sebenarnya Barata kasih melihat keadaan putranya. Namun, hati dia ikut terasa sakit saat Marsha menceritakan apa yang terjadi sebelum dia pingsan di hari Alva dilahirkan. Jadi, wajar saja jika sang menantu meminta berpisah.


"Kamu pikir ayah tidak melakukan apa-apa selama ini agar Marsha tetap menjadi menantu keluarga ini? Asal kamu tahu saja, Marsha sudah mau mengalah demi ayah, ibu, dan Alva. Dia tidak akan menggugat cerai kamu dan memberi satu kesempatan lagi. Namun, wanita itu datang ke rumah sakit dan mengatakan hal-hal yang membuat hatinya kembali terluka. Ayah sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang," jelas Barata.


Mata Arga membulat. Dia tidak tahu kalau Valerie datang ke rumah sakit menemui Marsha. Entah apa yang sudah wanita itu ucapkan sampai istrinya sudah bulat untuk menceraikan dirinya.


"Aku sudah tidak menemui Valerie lagi, Yah. Jika bertemu juga aku selalu menghindarinya dan tidak menganggap dirinya. Memang apa yang diucapkan oleh dia sampai Marsha marah dan sakit hati?" tanya Arga dengan nada kesal.


Barata tidak mau mengatakan hal itu, karena jika ingat lagi ucapan sang menantu membuat dia marah dan kesal. Laki-laki setengah paruh baya itu akan membiarkan saja Arga untuk menyelesaikan masalahnya dengan Marsha.


"Aku harus menemui Marsha dan menanyakan apa yang sudah Valerie ucapkan kepadanya," gumam Arga karena sang ayah memilih bungkam.


***


Apa yang akan terjadi saat Arga dan Marsha membahas perceraian? Ikuti terus kisah mereka, ya!


Aku ucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA, minal aidzin wal faidzin.