Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 60.


Bab 60


Arga pulang ke rumah untuk membereskan beberapa barang miliknya. Saat masuk ke dalam kamar dia terkejut karena keadaan sudah rapi. Bahkan pakaian kotor juga sudah tidak ada. Dia tahu betul kalau ibunya akan mengambil cucian itu agak siang hari atau setelah kedatangan Mak Asih. Wanita paruh baya yang sering membantu di rumah.


"Apa ibu yang membereskan kamarku?" gumam Arga sambil melihat ke sekeliling kamarnya.


Arga pun tidak ambil pusing, dia mengambil dompet, tas kecil, dan mengganti bajunya. Layaknya anak remaja yang akan pergi berkencan dengan sang kekasih, dia memilih beberapa pakaian yang ada di lemari. Setelah dirasa dapat yang cocok, laki-laki itu pun memakainya.


"Arga, ini ibu!" terdengar teriakan Ayu setelah mengetuk pintu.


"Ada apa, Bu?" tanya Arga setelah membuka pintu kamarnya.


Ayu melihat penampilan Arga yang rapi dan wangi. Bahkan terlihat segar dan jauh lebih muda dari umur aslinya. Sekarang ini Arga sudah berusia 35 tahun, tetapi penampilannya saat ini seperti pemuda berusia 23 atau 25 tahunan.


"Gantengnya anakku! Mau pergi kencan dengan Marsha?" tanya Ayu dengan senyum lebar.


"Aku juga akan ajak ayah dan Ibu," jawab Arga.


"Aduh, bagaimana ini! Eyang meminta ayah menjemput Alva karena ingin bermain dengannya. Sedangkan kalian mau pergi jalan-jalan, ya?" Terlihat sekali kecemasan di wajah Ayu.


Belakangan ini hubungan dia dengan ibu mertuanya jadi merenggang. Hal ini karena Sari marah sudah dibohongi oleh anak dan menantunya. Apalagi dirinya dan sang suami sering membela Marsha di hadapannya. Wanita tua itu tidak terima. Baginya wanita yang hamil di luar nikah itu adalah wanita buruk dan tidak terhormat, meski yang dikandungnya itu merupakan benih dari cucunya.


"Ya, kita ajak saja Eyang untuk jalan-jalan," ucap Arga dengan santai.


"Mana mau Eyang pergi ke tempat banyak orang. Dia juga nanti akan banyak mengeluh capai," tukas Ayu dengan muka mengkerut.


Arga membenarkan ucapan ibunya. Sari kurang suka jika pergi liburan ke tempat-tempat yang banyak orang. Rencana hari ini pun mereka akan mendatangi tempat wisata yang sedang viral dan banyak di datangi oleh orang-orang.


"Lalu, bagaimana sekarang, Bu? Aku juga sudah terlanjur janji kepada Marsha dan keluarganya. Alva juga sangat semangat ingin jalan-jalan. Saat ini dia sedang menunggu aku," ucap Arga sedikit gusar.


Neneknya itu sering keras kepala dan semua ucapannya harus dituruti. Jika tidak dia akan sedih atau marah, akhirnya tidak akan mau makan dan memilih mengurung diri di kamar.


***


Tidak beda jauh dengan Marsha yang sedang memilih pakaian mana yang akan dia pakai hari ini. Entah berapa banyak baju yang sudah dia coba, tetapi hatinya merasa kurang cocok. Lalu, dia pun melihat ada gamis berwarna biru langit. Senada dengan bajunya Alva, maka dia pun memutuskan untuk memakai pakaian itu. 


Dirasa sudah cantik penampilannya, Marsha pun ke luar kamar. Dia melihat kedatangan mantan ayah mertuanya.


"Loh, Ayah Barata sudah ke sini? Bukannya Kak Arga baru saja pulang," tanya Marsha yang merasa heran.


"Kedatangan ayah ke sini mau menjemput Alva. Eyang ingin bertemu dan bermain dengannya. Kalau bisa malam ini Alva menginap di rumah ayah," jawab Barata.


"Tapi, Yah. Sekarang ini kita semua akan pergi jalan-jalan bersama, 'kan?" 


Barata melihat perubahan pada ekspresi wajah Marsha. Dia juga merasa tidak enak kepada mantan menantunya ini. Dia tahu kalau ibunya sekarang ini benci kepada Marsha dan pastinya tidak akan mau ikut pergi jalan-jalan.


"Itu … ayah tidak tahu. Apakah akan jadi jalan-jalannya atau tidak," kata Barata dengan lirih.


"Apa karena Eyang merasa jijik sama aku yang merupakan wanita hina dan tidak terhormat? Sehingga Eyang tidak mau dekat-dekat sama aku. Bahkan melarang kalian semua untuk berhubungan lagi dengan aku," tanya Marsha dengan menahan rasa sesak di dada.


Hatinya sakit mengingat kembali ucapan eyangnya Arga kemarin itu. Dia memang hamil di luar nikah, tetapi bukan berarti dirinya mau saja dijamah oleh banyak laki-laki. Kehamilan itu terjadi dengan tidak sengaja.


Bagas datang bersama Indah dan Alva. Mereka baru saja kembali dari warung, karena bocah itu ingin beli permen susu. Saat kembali dari warung, dia mendengar pembicaraan Barata dan Marsha.


"Apa maksud ucapan kamu barusan, Marsha?" tanya Bagas dengan nada tinggi.


Tatapan tajam mengarah kepada putri dan mantan besannya. Mendengar pembicaraan mereka berdua tadi membuat Bagas marah dan tidak terima kalau putrinya dihina. 


Barata dan Marsha terkejut dengan kehadiran Bagas yang tiba-tiba muncul di depan pintu masuk. Dengan raut muka yang merah padam karena menahan amarah.


Alva yang dituntun oleh Indah hanya bergantian memperhatikan orang-orang dewasa itu. Bocah itu merasa heran karena biasanya Barata akan langsung menggendongnya jika datang ke rumah ini. Namun, sekarang semua orang saling menatap.


"Opa sama Kakek sedang marahan, ya?" celetuk Alva dan membaut semua orang di sana mengalihkan perhatian kepadanya.


"Tidak. Kita sedang membicarakan sesuatu yang penting," ucap Bagas.


Semua orang tahu Alva punya otak yang cerdas dan memiliki ingatan yang kuat. Jadi, mereka tidak ingin otak bocah itu terkontaminasi oleh perbuatan dan ucapan buruk dari orang-orang yang ada didekatnya.


"Alva kita makan permennya di halaman belakang, yuk!" ajak Indah sambil menggendong bocah berumur dua tahun lebih itu.


"Mending di halaman depan, Nek. Kita menunggu ayah di sana," balas Alva.


Mau tidak mau Indah membawa sang cucu ke halaman depan. Dia berharap kalau mereka bertiga bicara pelan. Jangan sampai meledak-ledak dan berteriak, sehingga terdengar sampai ke luar.


"Katakan yang sebenarnya kepadaku! Apa yang sebenarnya sudah terjadi Barata?" pinta Bagas dengan mendesis menahan emosi.


***


Sikap apa yang akan diambil oleh Bagas? Apakah kisah cinta Arga dan Marsha akan terhalang kembali? Ikuti terus kisah mereka, ya!