Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 147. Keinginan Safira


Bab 147


Ruang perpustakaan selalu menjadi tempat favorit Alva saat menghabiskan waktu di kampus. Seperti saat ini, pemuda itu sedang memeriksa data para gadis yang pernah di sekap oleh Leonard. Beberapa hari terakhir dia kepikiran ibunya Alfi. Dia menduga kalau wanita itu adalah salah satu dari korban penyekapan dan berhasil kabur.


"Sayang~," panggil Safira ketika tidak ada orang di dekat mereka. Gadis itu memanggil Alva dengan lembut dan pelan.


Muka Safira sudah merah padam karena merasa malu saat bola mata pemuda itu balik menatapnya. Senyum dikulum terlihat menghiasi wajah dari putri Dokter Rama.


"Jangan lupa sama janji tadi kamu ke aku, loh!" ucap Safira mengingatkan Alva.


Senyum tipis dilayangkan oleh Alva dan itu membuat jantung Safira bertalu-talu. Aneh memang gadis itu, meski sejak kecil sudah bilang suka sama laki-laki yang menjadi pujaan hatinya, tetap saja sering salah tingkah jika dekat dengannya. Apalagi disaat-saat hanya berdua dan terasa romantis.


"Yes!" Safira mengepalkan tangannya sambil tersenyum lebar.


Bunyi getar handphone Safira membuat kedua anak muda itu mengalihkan perhatian ke benda pipih yang ada di atas meja. Tertera nama "Mama" di layar.


"Ya, Ma. Ada apa?" tanya Safira.


"Mama akan pulang ke Indonesia lusa. Kamu ingin mama bawakan oleh-oleh apa?" tanya orang di sebrang sana.


Alva masih memperhatikan Safira yang masih berbicara dengan mamanya. Dia pernah bertemu beberapa kali dengan wanita yang sudah melahirkan gadis itu. Hubungannya dengan mereka berdua mendapat pertentangan darinya sejak dahulu.


"Tidak ingin oleh-oleh apa pun, dengan kedatangan mama ke sini sampai dengan selamat juga sudah membuat aku senang," balas Safira yang kini menatap Alva.


Gadis itu mencari kekuatan dari sang kekasih. Safira sering terlibat perdebatan atau percekcokan dengan ibunya jika sudah memaksanya untuk ikut ke Amerika. Apalagi jika Shinta merendahkan Dewi, itu membuat dia marah besar. (Lupa lagi siapa nama ibunya Safira).


Alva membiarkan gadis itu memegang ujung lengan baju, itu sebagai ganti menggenggam tangannya. Pemuda itu selalu mengingatkan Safira agar jangan sampai lupa diri dan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.


"Mama harap kamu bisa banyak menghabiskan waktu dengan mama, nanti," kata Shinta dengan nada sedikit memaksa.


Alva gantian mengusap kepala Safira dengan pelan. Dia mencoba meredakan emosinya.


"Ya. Tapi, Fira tidak janji karena sekarang banyak tugas di kampus," balas Safira.


"Oke, Sayang. Mama tutup dulu, ya!" Terdengar jelas suaranya padahal volume suara sudah di matikan.


Safira membuang napasnya kasar. Lalu, dia meletakkan kepalanya di atas meja sambil menatap Alva.


"Sudah, kamu jangan marah atau kesal. Mamamu belum ada di di sini," kata Alva dengan tersenyum tipis agar gadis itu tidak marah.


"Aku ingin secepatnya kita menikah. Tidak perlu ada pesta mewah, yang penting kita sah," ujar Safira dengan pancaran matanya penuh harap kepada Alva.


"Kamu tahu sendiri kalau aku ingin memberikan mahar yang layak untuk kamu. Karena kamu adalah perempuan istimewa. Pesta pernikahan yang bisa membuat semua orang bahagia, bukan hanya kita yang menjadi pengantin saja yang merasakan kebahagiaan," balas Alva.


"Aku takut apa yang pernah diucapkan oleh mama nanti akan terjadi," tukas Safira dengan suara yang bergetar.


Alva ingin sekali merengkuh tubuh Safira ke dalam pelukannya. Namun, saat ini dia belum bisa melakukan hal itu.


"Apa tidak bisa bersabar sampai kita sukses menjadi dokter?" tanya Alva berbisik.


Tatapan pemuda itu tidak lepas dari gadis yang masih meletakan kepalanya di atas meja. Wajah sendu dengan bola mata yang berkaca-kaca membuat hatinya ikut bersedih.


"Tidak bisa. Selama ini aku terus mencoba bertahan agar bisa di sisimu terus, Alva. Aku takut nanti mama memaksaku untuk ikut ke Amerika dan menetap di sana," jawab Safira dengan suaranya yang mencicit.


Alva kembali menarik napasnya. Baru saja beberapa bulan lalu dia menyatakan kesanggupan untuk meminang Safira, kini kenyataan mengingatkan dirinya kalau mamanya Safira sejak dulu sudah memperingatkan dirinya kalau Safira akan dijodohkan dengan anak temannya.


Dokter Rama dan Dewi sering beradu mulut dengan Shinta, terutama mengenai Safira. Alva tahu sekali akan hal ini karena gadis itu akan mengadu kepadanya jika mamanya berulah. Biasanya berujung dengan Safira yang menangis.


"Apa hanya dengan kita menikah, masalah itu akan selesai?" tanya Alva.


Safira tidak menjawab atau memberikan reaksi apa pun. Karena dirinya juga tidak tahu, masalahnya sang mama akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Setidaknya dengan kita menikah, kamu lebih berhak atas diriku. Secara hukum juga nanti kamu yang bisa memenangkan aku jika mama bersikukuh akan membawa aku," jawab Safira yang kini air matanya mengalir. Tetesan cairan bening itu jatuh ke meja sebelum dihapus.


Alva memberikan sapu tangan kepada Safira untuk mengeringkan air matanya. Dia paling tidak suka melihat gadis itu bersedih atau terluka.


"Kita lulus kuliah masih lama. Sekitar tiga sampai empat tahun lagi. Belum lagi kamu ingin menjadi dokter spesialis. Makin lama kita akan menikah. Aku akan minta sama papa untuk tetap membiayai kuliah aku. Jadi, itu tidak akan menghambat cita-cita kita," ucap Safira.


Gadis itu tidak sadar sudah mengusik ego Alva. Dirinya merasa direndahkan oleh Safira. Dia bukan laki-laki yang akan melepaskan tanggung jawabnya. Jika Safira sudah menjadi istrinya, berarti semua kebutuhan dia adalah tanggung jawabnya, termasuk biaya kuliah.


Saat ini Alva punya penghasilan sendiri meski biaya kuliah masih ditanggung oleh kedua orang tuanya. Arga dan Marsha menyuruh Alva untuk menggunakan uangnya sendiri untuk mengembangkan usaha yang sudah dia rintis sejak duduk dibangku SMA.


"Sebaiknya kamu bicarakan ini kepada papamu. Siapa tahu dia bisa memberikan solusi atas permasalahan kamu," ujar Alva sambil menutupkan buku-buku yang tadi dia baca.


Safira yang sudah kenal lama Alva, dia merasa kalau pemuda itu sedang marah atau kesal kepadanya. Dia mengingat kembali apa yang sudah tadi dia ucapkan dan perbuatannya yang mungkin saja sudah membuat sang pujaan hatinya marah.


"Mau ke mana?" tanya Safira mengikuti Alva berdiri.


"Aku lapar dan ingin makan," jawab Alva.


Leonard dan Fery memperhatikan Safira dan Alva dari balik jendela perpustakaan. Mereka sedang menunggu keduanya lengah.


***