Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 75. Pelaku Tertangkap


Bab 75


Marsha pulang bersama Barata dan Indah. Sementara itu, Arga dan Bagas mencari si pelaku yang sedang dilacak oleh polisi. Kedua aparat itu sedang menelusuri seluruh area rumah sakit.


"Bagaimana, Pak? Apakah pelaku sudah ketemu?" tanya Bagas melalui sambungan telepon kepada salah seorang polisi itu.


"Balum, Pak. Titiknya bergerak terus dan saat ini sedang berada di area parkir. Kami sedang menuju ke sana," jawab polisi itu.


"Baiklah. Kalau begitu kami juga akan segera menuju parkiran," balas Bagas.


Arga dan Bagas pun bergegas menuju area parkir. Mereka lupa kalau parkiran di rumah sakit ini terbagi tiga bagian. Area parkir sisi kanan dan kiri bangunan dan area parkir yang ada di depan bangunan rumah sakit.


"Tanya parkiran mana yang di maksud, Yah?" tanya Arga kepada Bagas begitu mereka berada di pintu depan masuk rumah sakit.


Bagas kembali menghubungi nomor polisi itu. Namun, kali ini tidak tersambung. Mereka pun memutuskan untuk berpencar mencari si pelaku yang sedang di kejar oleh polisi.


Arga memilih area parkiran sisi kanan sedangkan Bagas akan memeriksa area parkiran yang ada di depan. Keduanya bergerak cepat sebelum si pelaku berhasil melarikan diri.


Saat Arga berlari akan menuju area parkir sisi kanan Baguna, dia berpapasan dengan Gunawan yang sedang berlari berlawan arah dengannya. Arga belum tahu apa yang sudah terjadi kepada teman adiknya itu sampai mukanya babak belur.


"Gunawan, kenapa wajah kamu?" tanya Arga.


"Tangkap orang itu!" teriak salah seorang polisi.


Gunawan dan Arga sama-sama terkejut mendengar teriakan polisi yang berlari ke arah mereka.


Tidak mau dirinya ditangkap, Gunawan mendorong tubuh Arga dengan kuat. Namun, dia salah memilih lawan. Mantan suaminya Marsha ini adalah mantan atlet taekwondo dan pencak silat saat remaja sampai kuliahan. Tentu saja bisa dengan mudah menahan serangan dadakan itu, kemudian membanting tubuh lawannya ke tanah dan mengunci pergerakannya.


Salah satu polisi langsung memborgol tangan Gunawan ke belakang tubuhnya. Kejadian yang begitu cepat ini membuat Arga agak terbengong juga. Sebenarnya dia sempat tidak mengerti, lalu dia sadar kalau Gunawan adalah pelaku yang sedang mereka cari.


"Jadi, kamu dalang utama dari penculikan Marsha?" tanya Arga sambil mencengkeram erat kerah baju salah satu pekerjaan ayahnya.


Terlihat jelas kemarahan dari pancaran sinar mata Arga kepada Gunawan. Laki-laki yang sudah dianggap saudara oleh keluarga. Kini tega melakukan kejahatan kepada Marsha, calon istrinya.


"Aku tidak bermaksud jahat kepada Marsha," kata Gunawan sambil meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Mana ada penjahat mengaku sebagai pelaku kejahatan," balas Arga dengan penuh emosi.


"Kita lakukan interogasi di kantor polisi saja," tukas salah seorang polisi.


Mereka tidak boleh membuat keributan di arena rumah sakit. Bisa-bisa para pasien ketakutan jika tahu ada kejadian penangkapan pelaku oleh polisi di sana. Gunawan pun langsung digiring ke mobil milik polisi dan Arga mengikutinya dari belakang bersama Bagas.


***


"Aku tadinya meminta Budiman. Lalu, dia memerintahkan Jaka dan teman-temannya hanya pura-pura menculik Marsha dan aku akan menolongnya. Tetapi, rencana tiba-tiba mereka ubah karena melihat mobil milik Marsha. Mereka berniat untuk menjualnya ke penadah. Aku tidak setuju dan terjadi perkelahian antara aku dengan Jaka yang dibantu oleh teman-temannya," jelas Gunawan.


"Lalu, apa kamu yang dahulu sudah memberikan minuman yang sudah dicampur obat perang*sang dan obat bius ke minuman Nona Marsha?" tanya polisi.


Gunawan terdiam. Laki-laki itu malah menundukkan kepala. Tentu saja ini membuat marah polisi.


"Ayo, jawab!"


"Saya cuma mencampurkan obat perangsang ke minuman Marsha. Tidak dengan memberikan obat penenang," jawab Gunawan.


"Oh, jadi itu obat penenang bukan obat bius yang kamu masukan ke minuman milik Sakti," tukas polisi


Wajah Gunawan mendadak pucat dan tegang. Dia keceplosan bicara. Laki-laki itu sudah terpancing oleh ucapan polisi yang menginterogasi dirinya. Mau mengelak pun sudah tidak bisa.


"Katakan apa tujuan kamu memberikan minuman yang sudah dicampur dengan obat terlarang itu kepada mereka berdua?"


"Aku dan Sakti sama-sama suka kepada Marsha. Aku yang merupakan orang miskin pastinya akan kalah saing dengan Sakti yang merupakan anak orang kaya. Makanya aku merencanakan itu saat perkumpulan muda-mudi. Aku sedikit merusak mesin motor milik Marsha agar mogok. Lalu, aku berniat mengantarnya dengan menggunakan motor milik Sakti," jelas Gunawan mengaku.


Hari itu Gunawan datang ke pertemuan bersama Sakti. Dia memang sering diajak ke mana-mana oleh anak tuannya itu. Apalagi temannya itu baru kembali dari perantauan setelah mengenyam pendidikan di bangku kuliah.


Hati Gunawan mendadak panas saat mendengar ucapan Sakti yang memuji Marsha setelah mereka tanpa sengaja bertemu di persimpangan jalan. Ditambah setiap pertemuan acara muda-mudi itu keduanya terlihat sangat akrab. Dia menjadi cemburu karena selama ini Marsha begitu menjaga dirinya dari para pemuda di desanya.


Arga yang mendengar pengakuan Gunawan merasa ingin menghajarnya sampai tidak berdaya. Hanya gara-gara cemburu, dia sampai menghancurkan masa depan dan kehormatan Marsha.


Bagas pun merasakan hal yang sama. Dia berharap Gunawan mendapatkan hukuman yang berat. Laki-laki paruh baya itu tidak akan membiarkan pelaku kejahatan terhadap putrinya lolos begitu saja.


Ternyata komplotan Jaka dan teman-temannya juga sudah berhasil ditangkap semua oleh polisi. Mereka akan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku di sana. Bagas juga sudah menyewa jasa pengacara untuk menangani kasus ini.


"Ayah, pelaku sudah ditangkap semua. Berarti aku sekarang bisa menikah dengan Marsha," ucap Arga dengan senyum lebar dan Bagas melotot.


***


Apakah Arga dan Marsha akan langsung menikah? Atau dapat halangan lagi dari Eyang Sari? Ikuti terus kisah mereka, ya!


Hari ini Insha Allah Crazy up! Jangan lupa kasih like di setiap bab-nya, biar aku semakin semangat ngetiknya.