Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 134. Intan Sadar Dari Koma


Bab 134


Waktu terus berlalu, kini usia Alfi sudah tiga bulan. Mereka bertiga giliran menjaga bayi itu. Untungnya Arshy memiliki jadwal kuliah yang berbeda dengan Alva dan Safira.


Alva menggantikan diapers karena Alfi pup. Dengan cekatan pemuda itu membersihkan kotoran. Tidak ada rasa jijik padanya. 


Alfi juga merupakan bayi yang aktif dan suka tertawa. Bayi itu akan ngoceh dengan menggunakan bahasanya. Alva sering dibuat tersenyum karena gemas.


Berbeda dengan Arshy dan Safira yang malah sering ikutan ngoceh, Alva hanya sesekali mengajaknya bicara. Pemuda itu hanya menanggapi Alfi dengan senyum dan ikut memainkan mainan bayi.


"Alfi, mimik susu dulu, ya." Alva menggendong bayi itu lalu pergi ke dapur untuk membuat susu untuk Alfi.


Membuat susu sambil menggendong Alfi tidak menyulitkan bagi Alva. Dia langsung bisa melakukan hal itu saat pertama kali. Berbeda dengan Safira dan Arshy yang sering kesulitan membuat susu sambil menggendong bayi.


"Alfi kapan bisa dikasih makan, Kak?" tanya Arshy sambil memakan biskuit untuk bayi. 


Kemarin saat belanja, Arshy memasukan banyak makanan bayi ke dalam belanjaan. Dia mengira kalau Alfi sudah boleh diberi makanan pendamping.


"Nanti, setelah usianya enam bulan," jawab Alva.


"Loh, Eyang dahulu memberi makan Athar saat dia berusia empat bulan kalau tidak salah," balas gadis berjilbab instan itu.


Arshy ingat saat kedua orang tuanya pergi ke pertemuan, Athar yang saat itu masih bayi mengamuk tidak mau diam. Dikasih susu juga tidak mau. Lalu, Eyang Sari memberinya bubur tim yang dibuat sendiri. Athar begitu lahap makan itu. 


"Tetap lebih baik kalau bayi diberi ASI eksklusif sampai berusia enam bulan, Dek," ujar Alva.


Terdengar suara salam dari Safira. Terlihat perempuan itu memasuki dapur di mana Alva dan Arshy sedang duduk di meja makan. Wajah gadis itu terlihat pucat dan napas terengah-engah.


"Ada apa?" tanya Alva begitu melihat Safira datang.


Merasa tenggorokannya kering, Safira mengambil air minum terlebih dahulu. Setelah menghabiskan dua gelas belimbing, gadis itu menarik napas.


"Akhirnya Intan sadar," jawab Safira.


Alva dan Arshy terkejut mendengar itu. Setelah lebih dari tiga bulan Intan bisa kembali sadar dari koma.


"Kamu dapat kabar ini dari siapa?" tanya Alva sambil menimang Alfi agar tidur.


"Mamanya menelepon aku tadi. Dia bilang kalau Intan sudah sadar dari koma semalam," jawab Safira sambil mengeluarkan handphone. Lalu, dia menunjukkan foto Intan yang sudah membuka matanya.


Alva dan Arshy memperhatikan raut wajah Intan yang masih pucat dan tatapan mata yang kosong. Wajah Intan yang selalu dihiasi tawa atau senyum lebar dan pancaran mata yang jenaka karena kejahilan yang sering dilakukan kepada Safira dan Mutiara kini tidak berbekas. Hanya tatapan mata kosong tidak ada pancaran cahaya di sana.


"Kata Tante Tiara dan Om Zamzam, Intan  tidak mengenali mereka. Dia juga katanya belum bisa ditanyai. Setiap ditanya selalu saja diam. Tapi ... tadi ...." Safira malah menangis tergugu dan Alfi ikutan menangis.


Arshy mengambil alih Alfi dan menggendongnya sambil sholawat-an. Sementara Alva mengajak Safira duduk di sofa di ruang tengah. Pemuda itu memberikan sekotak tisu. Dia membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.


Setelah hampir setengah jam akhirnya Safira bisa menguasai dirinya. Dia meminum habis air jus melon yang dibuatkan oleh Alva.


Arshy ikut bergabung setelah menidurkan Alfi. Gadis itu dengan seenak jidat meminum habis jus milik Alva yang baru saja disimpan di atas meja.


Alva pun mengangguk. Mana mungkin seorang anak tidak merespon panggilan kedua orang tua yang notabene punya hubungan lebih dekat. Berbeda dengan hubungan pertemanan yang bisa saja baru terjalin.


"Kenapa Kak Intan tidak memberikan respon apa pun atas panggilan mamanya, sedangkan dia memberikan respon kepada Kak Safi?" tanya Arshy penasaran.


Putri pasangan Marsha dengan Arga itu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan juga suka kepo. Arshy berpikir keras.


"Apa kamu ingat kata-kata Intan saat terakhir kali dia menghubungi kami sebelum kecelakaan terjadi?" tanya Alva sambil menatap Safira.


Putri sulung Dokter Rama itu pun kembali mengingat kejadian di beberapa bulan yang lalu. Saat itu Intan merasa tidak tenang, merasa tertekan, dan banyak pikiran. Hidupnya juga sangat membosankan dan merasa tidak ada gunanya untuk hidup. 


Alva mendengarkan itu, seperti bukan gaya bicara dan diri Intan. Entah selama ini Intan menutupi perasaannya dari orang lain dengan selalu tertawa dan jahil.


"Apa masalah Kak Intan ada hubungannya dengan keluarga dia sendiri?" tanya Arshy dan itu membuat Alva berpikir memungkinkan itu ada.


Hal ini juga terlintas di pikiran Safira tadi. Selama ini gadis itu juga hanya menceritakan hal-hal yang baik kepada orang-orang. 


"Bagaimana kalau kita pergi ke Bandung. Kita jenguk Intan siapa tahu ada petunjuk lainnya," kata Alva dan mereka pun setuju.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Bandung di akhir pekan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di sana nanti.


***


Arshy tertawa melihat Alfi ngompol saat di gendong oleh Safira. Gadis itu merasa bersyukur kalau bayi itu ngompol setelah dia memberikannya kepada Safira karena gantian mau mandi.


"Jangan cemberut begitu. Nanti mandi lagi, biar semakin wangi dan Kak Alva nanti kesengsem sama kamu, Kak Safi," ujar Arshy yang masih saja terkekeh.


Bayi itu juga hanya menatap Safira dengan matanya yang bening. Tidak lupa senyum lebar yang memperlihatkan gusi itu sangat terlihat bahagia.


Kedua gadis itu mengasuh Alfi secara bergantian. Sementara Alva sedang sibuk di kampus membantu dosennya.


***


Alva bertemu dengan Dokter Ali. Laki-laki dewasa itu menanyakan keadaan Alfi. Dia merasa senang karena Alva dan Safira bisa mengurus bayi malang itu dengan baik.


"Apa kamu tahu sebulan setelah kematian wanita itu ada orang yang mencari dia. Untungnya identitas dia saat itu di isi dengan identitas palsu. Awalnya aku marah sama wanita itu karena memberikan identitas palsu, setelah tahu alasannya aku jadi membicarakan. Ternyata apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Sungguh aku sangat penasaran kenapa dia sampai mendapatkan luka separah itu. Lalu, siapa yang melakukan kejahatan itu kepadanya," kata Dokter Ali.


"Semua terasa menjadi misteri, ya, Dok?" Alva berpikir seperti itu.


"Iya, benar. Apa ini melibatkan suatu organisasi?" tanya Dokter Ali dan Alva hanya menggelengkan kepala.


***


Siapakah penjahat itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!