
Bab 78
Marsha masih duduk manis dengan Alva yang duduk di pangkuannya. Mata dia tetap terarah kepada Sari. Wanita tua yang kini berwajah pucat dan kaku. Tidak ada lagi sorot kebencian di netranya yang mulai redup cahayanya.
"Apa Eyang ingin tahu siapa penjahat yang sudah menjebak Sakti dan Marsha?" tanya Arga dengan lembut.
"Dia adalah Gunawan. Sahabat baik Sakti. Karena dia cemburu dengan kedekatan Sakti dengan Marsha, dia nekad melakukan hal itu. Padahal selama ini Kami sekeluarga begitu sayang dan perhatian kepada Gunawan dan keluarganya. Hanya untuk memenuhi hawa napsunya, orang itu tega berbuat jahat kepada orang yang sudah membatu dia dan keluarganya agar bisa terus hidup serta mengeluarkan dari kehidupan yang serba kekurangan. Kurang apa keluarga kami kepada dia. Ini seakan air susu dibalas dengan air tuba," jelas Arga
Secara tidak langsung Arga ingin menyindir Dewi yang menurutnya sama saja dengan Gunawan. Mereka sama-sama diperhatikan oleh keluarganya, tetapi punya niatan dan keinginan untuk memenuhi keegoisan dirinya sendiri.
"Tapi, bukannya Marsha itu menggoda Sakti, cucuku yang tampan dan baik. Dia sengaja menjebak Sakti agar tidur dengannya dan nanti akan meminta pertanggungjawaban kepada cucuku itu," ucap Sari.
"Dari mana Eyang tahu kalau Marsha yang sudah menjebak Sakti?" tanya Ayu saking gemasnya ada yang memfitnah calon menantunya.
"Sakti sendiri yang menulis itu di bukunya," jawab Sari dengan percaya diri.
"Buku catatan yang mana, Eyang. Aku sudah membaca semua tulisan milik Sakti di buku itu. Tapi, tidak ada tulisan yang menyatakan kalau dia sudah dijebak oleh Marsha. Yang ada justru Sakti merasa dia dan Marsha sudah dijebak oleh orang lain. Makanya dia akan mencari pelaku itu," bantah Arga.
"Kebetulan buku catatan itu masih saya simpan, nanti kita baca ulang bersama. Biar Eyang tidak penasaran," lanjut Barata.
Sari memalingkan wajahnya ke arah Dewi. Sangat jelas dia mendengar semua itu dari mulut gadis itu yang membacakan buku catatan milik Sakti. Mata dia sudah melemah fungsinya karena sudah tua apalagi tulisannya sangat kecil. Jadi, gadis itu yang membaca apa yang tertulis di buku.
Dewi kini merasa terpojokkan secara tidak langsung oleh ucapan Arga barusan. Hatinya sangat sedih dan sakit. Sungguh dia begitu mencintai laki-laki itu. Sang gadis ingin sekali menjalani hari-harinya bersama dengan orang yang dicintainya.
"Nah, sekarang Eyang sudah tahu yang sebenarnya. Jadi, jangan marah lagi sama Marsha, ya? Nanti Alva tidak mau main lagi sama Eyang, loh!" kata Barata mencoba mencairkan suasana di ruang tamu keluarga Bagas.
Sekarang Sari menjadi bingung sendiri. Dirinya sudah berjanji kepada Dewi akan menjodohkan dia dengan cucunya. Namun, kini sang cucu akan menikahi wanita pilihannya.
"Iya, Eyang. Aku juga jadi orang yang jauh lebih baik karena Marsha," kata Arga mengaku.
Dewi hanya bisa pasrah jika harus kembali ke Surabaya untuk menata hatinya kembali. Sungguh sekarang ini patah hati paling menyakitkan bagi dirinya. Selama bertahun-tahun dia memendam rasa cinta untuk Arga.
"Tidak. Aku tidak mau dipoligami!" balas Marsha dengan lantang dan tegas.
"Aku juga tidak mau punya istri dua. Kalau punya dua anak lagi dengan Marsha tidak apa-apa," lanjut Arga.
Ucapan Arga barusan malah membuat muka Marsha merah merona. Dia tiba-tiba saja jadi salah tingkah karena calon suaminya sudah membicarakan tambah anak, ijab qobul saja belum.
"Maaf, ya. Aku tidak mau anakku punya madu. Lebih baik, Dewi sadar diri kalau Arga tidak cinta kepadanya. Nanti ujung-ujungnya malah dia yang menderita karena hidup bersama laki-laki yang cintanya untuk wanita lain," tukas Indah dengan sarkas saking kesalnya kepada Sari dan Dewi.
"Itu benar. Masih banyak laki-laki bujang yang mencari seorang perempuan untuk dijadikan istri. Insha Allah Dewi bisa menjadi kriteria baik untuk mereka. Kalau mau banyak bujang yang bekerja di perkebunan Pakdhe. Mereka baik dan pekerja keras juga jujur. Kamu bisa mencari laki-laki yang sesuai dengan kriteria kamu," ucap Barata kepada Dewi.
Sari pun diam sambil memandangi Dewi. Lalu dia bertanya, "Bagaimana, Wi? Apa kamu mau mencari pendamping sama pemuda di sini?"
"Jika kamu memaksa ingin bersama Arga, maka bersiap-siaplah di cap sebagai pelakor oleh penduduk desa baik di sini maupun di Surabaya," tukas Ayu yang ikutan gemes kepada Dewi.
"Kenapa kalian jahat kepada anak yatim seperti aku? Apakah aku tidak berhak untuk bahagia bersama dengan laki-laki yang aku cintai?" tanya Dewi akhirnya setelah lama diam membisu.
"Kami tidak jahat kepadamu, Dewi. Tapi, kamu yang mendzolimi diri sendiri. Sudah tahu Arga cintanya sama Marsha dan ingin menikah dengan dia. Lalu, kamu malah ingin menjadi orang ketiga di antara mereka. Seharusnya kamu legowo dan mencari kebahagiaan dengan jalan yang lain. Bisa saja kebahagiaan kamu ada pada pemuda lain di desa ini," jawab Indah yang sejak tadi sudah kesal dan jengah oleh Dewi.
Marsha merasa kasihan kepada Dewi. Namun, dia tidak mau memberikan Arga kepadanya. Dia dan laki-laki itu sudah saling mencintai. Jika, cintanya bertepuk sebelah tangan, tidak apa-apa dia mengalah.
"Wi, ikhlas, ya!" pinta Sari dengan lirih dan tatapan sendu.
Wanita tua itu ikut merasakan sakit hati akan penolakan orang-orang kepada Dewi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Jika dia nekad, maka semua akan menjauhi dirinya.
***
Apakah Dewi akan ikhlas atau berani berbuat nekad? Ikuti terus kisah mereka, ya!