
Bab 57
Alva terus merengek karena mobilnya berhenti tidak maju-maju. Arga juga masuk ke dalam rumah sudah lebih dari 15 menit. Jadi, Marsha memutuskan untuk turun untuk melihat keadaan di dalam rumah mantan mertuanya.
Saat langkah Marsha sampai di teras rumah terdengar suara orang yang seperti sedang berselisih. Dia tahu betul suara salah seorang itu adalah Arga.
"Baguslah sekay kalian berdua sudah bercerai. Eyang tidak mau memiliki cucu menantu seperti Dia. Marsha itu wanita nakal, bukan wanita terhormat, tidak bisa menjaga dirinya!" teriak Sari.
"Diam, Eyang! Jangan tuduh Marsha seperti itu! Dia adalah wanita yang selalu menjaga dirinya." Suara Arga menggelegar memenuhi ruangan itu sampai terdengar ke luar.
Mendengar ucapan Sari membuat Marsha sakit hati. Saat dia difitnah dengan tuduhan seperti itu. Bukan keinginan dia untuk melakukan hal berdosa seperti itu. Bahkan sampai sekarang pun dia tidak ingat bagaimana dirinya bisa melakukan itu dengan Sakti.
Dada Marsha terasa sesak matanya juga panas sampai cairan bening itu terkumpul di pelupuk matanya. Keadaan di sana yang hening membuat semua ucapan Sari dan Arga terdengar begitu jelas di telinga ibunya Alva.
Tetesan air mata jatuh tanpa Marsha sadari. Sampai Alva menyapukan tangan mungilnya di pipi. Wanita itu pun segera membalikan badan lalu pergi kembali ke mobil.
"Bunda, nangis," ucap Alva mengadu kepada Indah.
"Kenapa kamu menangis, Marsha?" tanya sang ibu.
"Nanti aku beri tahu ibu setelah di rumah," jawab Marsha karena dia melihat Arga ke luar dari rumah dengan muka muram.
"Bu, nanti titip Alva sebentar, ya!" pinta Marsha dan Indah mengiyakan tanpa banyak bertanya.
Saat ini Arga terlihat sedang marah. Kulit wajahnya memerah bahkan pancaran matanya juga penuh emosi. Laki-laki lantas menarik napas lalu menghembuskan, dia melakukan hal itu sampai tiga kali.
"Kita pergi jalan-jalan hanya berempat, ya!" ucap Arga begitu masuk ke mobil.
"Oma sama Opa tidak ikut?" tanya Alva sambil melihat ke arah Arga.
"Tidak jadi. Mereka sedang ada acara mendadak," jawab Arga sambil mengelus lembut kepala Alva.
Arga tidak memperhatikan raut wajah Marsha karena wanita itu menundukkan kepalanya. Mereka pun akhirnya memutuskan pergi ke tempat permainan anak yang baru saja di buka di kota kabupaten.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Arga kepada Marsha karena sejak tadi wanita itu tidak banyak bicara.
Marsha hanya melirik ke arah Arga. Lalu, dia perdiri dan mengajak laki-laki itu menjauh dari sana. Banyak sekali anak-anak yang sedang bermain di sana di temani oleh keluarga atau pengasuhnya. Alva juga di jaga oleh Indah.
"Kita mau ke mana?" tanya Arga dengan senyum tipis saat Marsha menggandeng tangan laki-laki itu menuju ke luar area gedung permainan itu.
"Kita pergi kencan, yuk!" jawab Marsha sambil mengedipkan sebelah matanya.
Perasaan Arga langsung berbunga-bunga. Saking bahagianya dia rasanya mau melompat-lompat saat itu juga. Senyum lebar terus menghiasi wajah tampan itu. Kekeruhan perasaan di dalam hatinya tadi kini sudah berubah menjadi cerah ceria.
Kedua orang itu pergi kencan layaknya dua orang remaja yang baru merasakan cinta pertama. Mereka jalan-jalan menelusuri taman kota. Kadang beli jajanan yang ada di pinggir jalan. Membicarakan apa saja yang mereka lihat saat itu dan kadang bicarakan pengalaman yang pernah mereka jalani di masa lalu.
"Tahu nggak, Kak? Kalau dulu Kakak itu begitu populer di kalangan anak remaja perempuan di sekolah dan di pengajian remaja. Sampai-sampai mereka mengaku ingin jadi pacar Kakak," ucap Marsha sambil tersenyum malu-malu.
"Wah, benarkah?" Arga menatap Marsha.
Laki-laki itu tentu saja tahu karena setiap hari menerima surat pernyataan cinta dari para gadis itu. Mulai dari tingkat SD sampai SMA, ada. Bukan hanya di kirim lewat alamat rumah atau memberikan secara langsung. Bahkan di kolong bangku setiap hari banyak surat-surat yang kertasnya wangi dan berwana.
"Masa Kakak tidak tahu?" tanya Marsha.
"Hey, jangan-jangan salah satu dari gadis remaja yang suka sama aku itu adalah kamu? Iya, 'kan? Benarkan?" Arga menggoda Marsha.
"Ih, sok, tahu!" bantah Marsha dengan pipi yang merona.
"Tahulah. Karena aku sering dengar ada orang yang bilang seperti ini, “Jangan pacar-pacaran. Ustadz bilang itu dosa!". Tapi, entah kenapa aku sering beradu pandang dengannya," tukas Arga dengan senyum menggoda Marsha.
Rasanya saat ini Marsha ingin ngumpet ke dalam kotak agar tidak terlihat oleh Arga. Betapa malunya dia karena laki-laki itu masih ingat dengan ucapan yang sering dikatakan kepada teman-temannya waktu itu.
"Diam-diam dulu kita sering saling memperhatikan," ucap Arga dengan lirih dan tatapan sendu.
"Itu karena aku sering kesal kepada teman-teman yang sering jadi berisik jika ada Kakak. Padahal cuma lewat, doang," pungkas Marsha memasang wajah cemberut.
Kedua orang itu lupa dengan umur saat ini. Perasaan keduanya sekarang itu mereka masih remaja. Pacaran sembunyi-sembunyi dan hanya bicara sambil curi-curi pandang. Tidak ada pacaran ala orang dewasa, yang sering pegang-pegang bahkan sampai ke tahap bercinta.
Jika bisa mengulang waktu mungkin Arga dan Marsha juga ingin menjadi lebih dekat dari saat kecil atau remaja. Mungkin kisah mereka akan berbeda dan bisa saja banyak kenangan manis dan indah yang mereka buat bersama. Namun, kenyataannya sekarang, semua ini tidak sama dengan apa yang ada di dalam bayangan tadi.
Arga tidak tahu tujuan Marsha mengajaknya pergi berkencan saat ini. Dia merasa kalau pujaan hatinya itu benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dicintainya. Biasanya orang berpacaran itu memang begitu.
Kedua sejoli itu menghabiskan waktu berduaan hampir dua jam. Jika tidak mendengar suara adzan, mungkin mereka masih asyik berbincang-bincang.
Setelah selesai bermain, mereka pun memutuskan untuk pulang. Alva juga sudah tidur akibat kelelahan bermain.
"Besok aku jemput pagi-pagi, ya!" ucap Arga setelah membaringkan Alva di tempat tidur.
Arga dan Marsha saling menatap dengan senyum menghiasi wajah keduanya. Seharian ini mereka merasa bahagia sudah menghabiskan waktu bersama.
"Ya," jawab Marsha singkat karena tenggorokan dia terasa tercekat.
Rencananya besok mereka akan pergi ke tempat pariwisata yang baru di buka oleh pemerintah kota. Sebuah tempat liburan yang menyerupai tempat-tempat di luar negeri. Jika masuk ke sana maka kita akan merasa sedang berada di luar negeri. Spot yang mereka sediakan itu negara Korea, China, Jepang, Timur Tengah, dan Venesia, Italia, Belanda. Baru ada beberapa negara yang dibuatkan di sana. Desain bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan juga kostum khas negara itu bisa disewa di sana.
***
Sebenarnya Arga malas jika harus kembali ke rumah orang tuanya. Tadi, dia berdebat dan berujung pertengkaran dengan sang nenek. Hal ini karena wanita tua itu menghina Marsha, wanita yang dia cintai.
Tidak mau kembali terjadi perselisihan dengan eyangnya, Arga pun memutuskan untuk tinggal sementara di koperasi dan gudang milik Barata. Letaknya agak jauh dari perumahan warga. Jadi, enak untuk mendinginkan pikirannya yang sedang kacau.
"Kak Arga, kok, tiduran di sini?" tanya Gunawan yang baru kembali ke sana.
"Iya. Ingin lihat-lihat gudang sama ladang sambil jalan-jalan sore. Tapi, malah enak rebahan," jawab Arga.
"Tadi ada telepon dari rumah menanyakan keberadaan Kak Arga ke sini. Aku bilang kalau Kakak tidak ada. Ternyata datangnya ke sini sore hari," tukas Gunawan.
"Siapa yang menelepon?" tanya Arga.
***
Siapa yang menelepon untuk menanyakan Arga? Apakah Marsha akan bertahan atau melepaskan Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!