Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 38. Marsha Melakukan Terapi


Bab 38


Arga harus menelan kekecewaan karena tidak diizinkan masuk ke dalam rumah mertuanya. Tentu saja dia sangat berharap bisa menghabiskan waktu masa cuti dadakannya ini dihabiskan bersama Marsha dan Alva.


"Alva akan aku bawa ke rumah orang tuaku," ucap Arga dengan menahan rasa kecewa.


Bocah itu menatap ke arah Arga dan Bagas secara bergantian. Dia belum mengerti apa-apa, yang dia tahu cuma senang saat bisa bermain bersama keluarganya.


"Boleh, asal sebelum Ashar dia sudah kembali ke sini," kata Bagas dengan ketus.


Bagas pun berjalan masuk ke dalam rumah, tidak lama kemudian kembali sambil menjinjing tas gendong. Di dalamnya ada susu, cemilan, dan baju ganti. 


"Alva mainan yang mau di bawa yang mana?" tanya Bagas.


"Ini, Kek!" jawabnya sambil mengacungkan mobil baru yang tadi dibawa oleh Arga dengan penuh semangat.


Ayah dan anak itu pun pergi meninggalkan pekarangan rumah milik Bagas. Rumah paling besar dan mewah di kampung itu. Semua orang penduduk sana tidak ada yang tidak mengenal sosok mertuanya itu.


Rumah orang tua Arga dengan rumah Bagas berjarak sekitar 2,5 kilometer. Masih satu desa dan satu kecamatan, meski ujung ke ujung. Jika menggunakan kendaraan mereka akan sampai dalam waktu lima menit.


Kedatangan Alva ke rumah Barata disambut gembira oleh Oma dan Opanya. Arga juga merasa sangat rindu sekali kepada anaknya ini. Padahal mereka tidak bertemu sekitar 22 jam. Namun, Arga merasa sudah berhari-hari tidak melihat sang anak.


***


Marsha sedang menjalani terapi berjalan. Di kampung itu ada ahli urut yang membantu agar bisa cepat berjalan lagi. Hal ini karena ada tetangga yang terkena stroke selama tiga tahun, bisa kembali berjalan setelah beberapa kali diurut dan belajar menggerakkan seluruh badannya. Indah sangat berharap kalau putrinya bisa segera berjalan kembali.


"Coba berjalan ke depan lalu kembali ke sini!" titah Indah kepada putrinya.


Marsha berjalan ke ruangan depan tanpa menggunakan kruk. Dia berhasil berjalan meski masih agak lama.


"Rajin-rajin saja latihan berjalan tanpa menggunakan alat bantu. Semoga bukan depan sudah bisa berjalan lagi dengan normal," ucap Bagas dan Marsha pun mengangguk.


Selagi tidak ada Alva, wanita itu terus belajar berjalan di dalam rumah. Dia belum berani jika harus latihan di halaman, karena permukaan tanah tidak stabil dan banyak bebatuan kecil. Rencananya jika sudah stabil dalam berjalan maka bisa latihan di halaman rumah.


"Aku ingin segera bisa berjalan agar bisa mengajak Arga bermain bersama ke mana pun dia ingin pergi," gumam Marsha.


"Kapan kamu urus surat gugatan cerai dengan Arga?" tanya Bagas.


Ucapan ayahnya itu membuat Marsha tersentak saking terkejutnya dia. Padahal sedang latihan belajar berjalan. Hampir saja wanita itu terjatuh jika tidak berpegangan ke dinding.


"Apa kamu sekarang tidak berniat menceraikan Arga?" tanya Indah dengan pelan.


Marsha hampir lupa dengan masalah yang sedang dihadapi saat ini. Dia ingin hidup terbebas dari ikatan yang penuh dengan kebohongan. Jika mereka sudah berpisah nanti, dia akan memulai hidup barunya kembali di kampung ini.


"Ayah, bisa bantu aku untuk mengurus gugatan perceraian itu?" tanya Marsha.


***


Nah, loh! Apakah status Arga akan berubah menjadi duda? Atau masih bisa mempertahankan statusnya sebagai suami Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!