
Bab 58.
"Siapa yang menelepon?"
"Eyang Sari. Bukannya itu neneknya Kak Arga, ya?" Gunawan balik bertanya.
"Hm." Arga hanya membalas seperti itu. Dia sedang malas membahas neneknya.
"Lalu, tadi ada perempuan yang bernama Dewi ke sini. Katanya mulai besok dia akan bekerja di sini membantu Pak Barata," ucap Gunawan.
'Dewi? Aku kira di sini dia cuma liburan. Bukannya dia bekerja di perkebunan eyang kakung sebagai pemegang keuangan?' batin Arga.
Keluarga Barata memiliki beberapa luas tanah sawah. Mereka juga menerima hasil bumi dari warga yang ingin menjual kepadanya. Nanti, akan disalurkan ke beberapa pasar yang ada di kecamatan, kabupaten, kota madya atau provinsi.
Berbeda dengan Bagas yang penjualan hasil buminya sudah ke beberapa kota besar di Pulau Jawa, bahkan ada yang melintas pulau. Luas tanah yang berhektar-hektar dan banyak jenis tanaman yang ditanam olehnya juga sangat banyak. Namun, persaingan pemasaran dengan Barata tidak pernah terjadi pergesekan. Mereka sudah punya pelanggan atau tempat jual masing-masing.
Para petani kecil yang sering kesusahan menjual habis hasil panen lebih memilih menjual ke Barata. Selain harga disesuaikan menurut kesepakatan, uang juga akan langsung mereka terima. Mereka merasa sama-sama diuntungkan.
Sebenarnya Barata lebih menjadi penerima gabah dari hasil panen para petani. Dia juga mengajari cara berhitung kepada petani agar mereka tidak dicurangi oleh penadah atau tengkulak. Berapa besar modal yang mereka gunakan, berapa lama mereka membutuhkan waktu dalam proses penanaman itu sampai panen. Dia tidak mau mengambil banyak keuntungan dengan memanfaatkan para petani itu. Makanya banyak orang-orang lebih suka menjual hasil bumi mereka ke Barata.
Arga membuka beberapa pembukuan yang ada di meja yang sering digunakan oleh sang ayah. Dia melihat usaha orang tuanya masih stabil dari beberapa tahun yang lalu. Meski sangat banyak sekali kegiatan jual beli dalam sehari.
"Pantas saja mereka sering menolak uang pemberian bulanan dariku," gumam Arga saat melihat pembukuan pendapat milik koperasi Barata.
Seluruh tanah milik Barata dahulunya adalah milik orang tua Ayu. Lalu, dia beli semuanya dan uang itu di bagikan ke semua saudara Ayu. Laki-laki itu terlahir dari keluarga paham akan mengelola hasil bumi, maka dia pun menerapkan ilmunya di sini dan berhasil. Bahkan dia juga bisa membeli beberapa bidang sawah yang dijual oleh penduduk setempat.
Mata pencaharian sebagian besar penduduk di desa adalah petani dan penjual. Sedikit yang merupakan pegawai sipil atau buruh pabrik. Makanya Sakti ingin memajukan taraf hidup warga di desanya. Dia menolak semua permintaan beberapa perusahaan yang menginginkan dirinya untuk bekerja di perusahaan mereka.
"Sayang sekali Sakti tidak bisa menjalankan impiannya itu," gumam Arga saat melihat foto Sakti sedang memberikan penyuluhan kepada warga desa bagaimana cara mengelola hasil bumi.
'Jika nanti aku menikah lagi dengan Marsha. Apa sebaiknya aku tinggal di sini saja, ya?' batin Arga.
"Isssssh, rasanya ingin cepat-cepat menikah lagi," ucap Arga dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Jiwa muda milik Arga kembali bergelora. Hanya mengingat Marsha saja dia sudah senangnya tidak ketulungan. Apalagi jika benar-benar bisa memiliki wanita itu seutuhnya.
***
Menjelang Magrib Arga baru pulang ke rumah orang tuanya. Dia niatnya ingin langsung masuk ke kamarnya, tetapi Sari menghadangnya.
"Apa seperti ini kelakuan kamu jika pulang kampung?" tanya Sari.
"Maksud Eyang?" Arga balik bertanya dengan mata memicing.
"Pergi dari pagi-pagi dan pulang hampir malam. Apa saja yang kamu lakukan di luar sana dengan wanita murahan itu?" Sari bicara dengan sarkas dan itu membuat emosi Arga kembali terusik.
Ayu yang melihat itu langsung menarik tangan Arga untuk menjauh dari neneknya. Wanita itu tahu kalau sang anak tidak suka ada yang menjelekkan Marsha.
Seharian ini wanita tua itu marah-marah terus. Dia yang merasa sangat dikecewakan oleh Marsha. Jadi semua orang kena imbasnya. Apalagi sang menantu terus saja kena omelan dan sindirannya.
"Kamu jangan mudah terpancing emosi sama ucapan eyang. Semoga saja marahnya hanya sesaat dan besok sudah kembali seperti biasa lagi," ucap Ayu dan Arga pun mengangguk meski hatinya masih kesal.
Saat makan malam semua berkumpul. Tadinya Arga menolak karena tidak mau terjadi perdebatan lagi dengan sang nenek. Namun, Ayu lagi-lagi membujuknya agar tidak marah sama eyangnya.
"Bagaimana masakan Dewi? Enak, 'kan?" tanya Sari dengan senyum merekah di wajahnya yang sudah berkeriput.
Wanita yang disebut namanya langsung merasa malu bercampur bahagia karena mendapat pujian. Dia pun mencuri-curi pandang kepada Arga yang terlihat tidak menanggapi obrolan Sari.
"Hn." Diiyakan oleh Ayu juga Barata dengan mengangguk.
Keduanya tidak mau memancing emosi Sari. Bagaimanapun juga dia adalah orang tua yang harus mereka bahagiakan dan membuatnya nyaman tinggal di sana.
Mata Sari memicing saat melihat Arga yang makan hanya nasi saja. Itu juga sangat sedikit.
"Dewi, ambilkan sayur lodeh dan ayam goreng untuk Arga!" perintah Sari.
Lalu, dengan sigap Dewi langsung berdiri lalu mengambil sendok sayur. Wanita itu hendak menuangkan sayur buatannya ke piring Arga.
"Tid—"
Arga tidak menyelesaikan ucapannya saat merasakan tendangan pada kakinya yang ada di kolong meja makan. Dia pun melirik ke arah ibunya. Wanita itu memberi kode jangan bertengkar.
"Cukup. Aku sedang tidak ingin makan daging," kata Arga saat Dewi hendak meletakan paha ayam ke piring.
Barata seharian ini kena omel ibunya karena sudah menikahkan Arga dengan Marsha yang sedang hamil waktu itu. Meski dia sudah menjelaskan kejadian waktu itu, tetap saja sang ibu tidak mau menerima penjelasan darinya. Laki-laki itu juga memberikan pembelaan atas tuduhan yang dilayangkan oleh Sari kepada Marsha.
"Eyang tidak akan mengizinkan kamu kembali lagi rujuk sama wanita itu," ucap Sari saat melihat Arga berdiri dari kursi.
"Aku tidak butuh izin Eyang untuk menikah dengan Marsha. Yang aku butuhkan adalah izin dari Ayah Bagas," balas Arga kemudian pergi dari ruang makan.
Dewi yang melihat itu lalu mengusap-usap punggung Sari dan mencoba menenangkan emosinya. Dia tahu betul bagaimana cara mendapatkan hati wanita tua itu. Hidup puluhan tahun bersama dengannya sudah pasti tahu bagaimana karakter dan tabiatnya.
"Eyang, jangan marah-marah terus. Nanti jatuh sakit lagi. Bukannya besok ingin bermain dengan Alva. Kalau sakit bagaimana bisa bermain," ucap Dewi.
Sari pun mengangguk. Dia tadi siang sempat merasakan rindu kepada bocah kecil itu. Beberapa hari tinggal di sini, dia sudah tahu kalau Barata atau Ayu sering membawa Alva main di sini.
"Benar. Barata jangan lupa bawa Alva ke sini!" perintah Sari kepada putranya.
***
Apakah acara Arga dan Marsha yang besok hendak pergi jalan-jalan akan batal? Ikuti terus kisah mereka, ya!