Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 112. Pertemuan Tidak Terduga


Bab 112


Malam hari Arga dan Marsha makan romantis yang berlatar belakang halaman yang dihiasi oleh lampu dan bunga. Tempat yang sangat indah dan menyenangkan.


"Apa kamu suka, Sayang?" tanya Arga setelah selesai makan.


"Suka sekali, Mas. Terima kasih sudah membuat acara makan malam yang indah," jawab Marsha.


Tidak jauh dari sana ada panggung untuk pentas. Mau itu penyanyi profesional atau pengunjung bisa menggunakannya. Sebuah grand piano tersedia di sana. Perlengkapan band juga ada tersedia, hanya saja peralatan musik itu baru akan diletakan di panggung jika akan ada yang menggunakannya.


Arga naik ke panggung itu lalu memainkan grand piano dan menyanyikan sebuah lagu dari Richard Marx. Marsha baru tahu kalau suaminya bisa memainkan alat musik. Kalau menyanyi kadang dia mendengar suaminya melakukan itu jika sedang benar-benar ingin menyanyi.


Suara merdu Arga mengalun dengan indah dan tatapan matanya tidak lepas dari menatap sang istri. Marsha dibuat tersipu malu saat mendengar bait demi bait dari lagu itu.


"Apa kamu suka dengan pertunjukan aku barusan?" tanya Arga begitu selesai.


Marsha tidak bisa berkata-kata. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu, dia memberikan pelukan untuk suaminya. Seakan tidak mau kalah dengan Arga, sang istri pun naik ke panggung. Dia menyanyikan sebuah lagu dari Sania Twain, tanpa iringan musik karena dia tidak bisa memainkan alat musik yang ada di sana. Wanita itu hanya bisa memainkan alat musik tradisional, itu juga tidak mahir.


Senyum Arga langsung mengembang sejak Marsha baru mengucapkan kalimat pertama. Dia tahu lagu itu karena menyukainya juga. Langkah kaki panjang laki-laki itu mengarahkannya untuk menaiki panggung. 


Marsha bernyanyi sambil menatap penuh cinta untuk Arga. Laki-laki cinta pertama dan akan menjadi satu-satunya. Kini kedua orang itu saling berhadapan dengan jari tangan yang bertautan.


Arga memeluk tubuh Marsha begitu selesai menyanyi. Dia salurkan segenap perasaannya untuk sang istri.


"Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Tetaplah bersamaku sampai maut memisahkan kita," bisik Arga yang masih memeluk tubuh Marsha.


"Jangan palingankan hatimu kepada yang lain. Karena aku tidak mau diduakan," balas Marsha.


"Hanya laki-laki bodoh dan merugi jika berpaling dari seorang wanita seperti kamu," ucap Arga dan semakin mempererat pelukannya.


"Tidak akan ada kesempatan untuk seorang pengkhianat," ujar Marsha mengingatkan suaminya.


"Ya. Semoga itu tidak terjadi kepada kita," tukas Arga.


Pasangan sejoli itu pun memutuskan kembali ke kamar resort. Mereka lebih suka menghabiskan waktu berdua di ruangan private, tanpa adanya orang lain. Malam itu mereka mengarungi indahnya surga dunia. Berharap akan tumbuh kehidupan di dalam rahim Marsha.


***


Pagi hari Arga dan Marsha sedang berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati sinar matahari pagi dan udara yang masih segar. Tanpa sengaja mereka bertemu Valerie sedang bersama laki-laki setengah paruh baya yang berwajah seperti pria hidung belang.


"Loh, Arga ... Marsha! Jadi, kalian pergi berbulan madu ke Lombok, setelah gagal pergi ke Perancis." Valerie tersenyum lebar.


Wanita itu mengenakan bikini dengan sarung pantai melingkar di pinggangnya. Buah dadanya hanya sebagian tertutup kain. Terlihat jelas banyak sekali jejak-jejak bekas bercinta di dada, leher, dan pahanya saat angin menyingkap kain itu.


Marsha dan Arga merasa kalau orang ini akan mengganggu acara bulan madu mereka. Apalagi laki-laki yang bernama Valerie tidak berkedip dan terus memperhatikan ibunya Alva.


"Kita pergi duluan, ya!" lanjut Arga sambil berjalan merangkul pinggang sang istri.


"Kalian menginap di hotel mana?" tanya sang mantan.


Keduanya mengabaikan teriakan Valerie dan memilih melanjutkan perjalanan. Mereka tidak mau kebahagiaan yang sedang dirasakan saat ini rusak hanya gara-gara wanita itu.


***


Entah bagaimana caranya, lagi-lagi Marsha dan Arga bertemu dengan Valerie yang masih bersama laki-laki berwajah mes*um itu di area resort. Namun, keduanya mengabaikan keberadaan pasangan hot yang tidak tahu malu. 


"Sayang, aku tidak makan seafood," ucap Arga mengingatkan Marsha kalau dia punya alergi.


"Aku tahu, Mas. Hanya saja aku ingin sekali makan lobster dan kepiting saat ini," balas Marsha.


"Sayang suapi aku, ya!" pinta Arga yang sedang ingin bermanja kepada sang istri. 


Marsha mengedarkan pandangannya ke seluruh area restoran. Biasanya Arga melakukan hal seperti ini jika hanya sedang berdua. Namun, sekarang sedang banyak orang.


"Mas yakin mau disuapi oleh aku di tengah-tengah orang banyak seperti ini?" tanya Marsha.


Arga hanya mengangguk dengan semangat. Sifat manja suaminya ini belakangan kerap sekali muncul. Bahkan kadang tidak mau kalah sama Alva, sehingga Marsha seperti punya dua anak kecil.


Tidak jauh dari meja mereka Valerie terus memperhatikan pasangan itu. Dia iri dan cemburu. Pernah mengalami di posisi Marsha dan membuat dia ingin merasakan kembali saat-saat sedang bersama Arga.


"Jadi, dia mantan kamu yang sering kamu sebut-sebut itu?" tanya Pak Broto dengan tatapan mata tidak lepas dari Marsha.


"Iya. Laki-laki yang tidak akan pernah bisa aku lupakan," jawab Valerie yang menatap ke arah Arga.


"Istrinya sangat cantik sekali!" puji Pak Broto yang tersenyum lebar karena suka akan rupa istri dari Arga.


"Kamu menyukainya?" tanya Valerie yang kini mengalihkan perhatiannya kepada Pak Broto.


"Ya. Aku penasaran ingin mendengar suara dia di saat mende*sah kenikmatan," jawab laki-laki dengan tatapan mes*um.


Senyum Valerie pun terulas dari wajahnya yang masih terlihat cantik. Ide culas pun terlintas di dalam pikirannya.


***


Apa yang akan direncanakan oleh Valerie? Apakah acara bulan madu Arga dan Marsha berantakan? Ikuti terus kisah mereka, ya!