
Bab 37
Arga seperti orang kerasukan saat mengendarai mobil. Meski sudah tahu dia tidak akan bisa mengikuti acara syukuran, tetap saja dia melajukan kendaraannya dengan kencang. Kecepatan di atas rata-rata, karena keadaan jalan sudah sangat sepi. Saat ini waktu pun menunjukkan waktu 22:15 dan keadaan hujan gerimis.
Kemacetan tadi sangat lama, karena sang sopir terhimpit antara kursi dan dasboard mobil. Selain truk itu menjatuhkan semua muatan, ternyata ada mobil yang menabraknya.
Baru tengah malam Arga memasuki perkampungannya. Sebuah desa yang asri dan masih rindang oleh tumbuhan dan hamparan sawah. Meski ini merupakan sebuah kampung yang jauh dari ibu kota, tetapi penduduknya cukup banyak dan aktivitas di sini selalu ramai dan berjalan baik. Anak-anak kecil juga sudah rajin beraktivitas di luar rumah, selain sekolah. Karang taruna, pos ronda, pos yandu, ibu-ibu PKK, atau remaja masjid. Di kampung ini tidak ada istilah orang menganggur. Semua punya aktivitas masing-masing, meski itu kakek-kakek dan nenek-nenek. Para warga berbaur satu sama lain dan saling komunikasi dengan baik juga. Makanya kalau ada sesuatu yang terjadi di kampung mereka, tidak perlu menunggu 24 jam, semua penduduk akan tahu.
Arga memasuki pekarangan rumah kedua orang tuanya. Dia mengira Marsha dan Alva ada di sana karena acara syukuran diadakan di rumah ini.
"Assalamualaikum, Yah … Bu!" Arga mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Maka dia pun mengetuk jendela kamar kedua orang tuanya.
"Ayah … Ibu, ini Arga!"
Tidak lama kemudian terdengar suara kain gorden dibuka. Terlihat Barata menengokkan kepala untuk memastikan kalau itu benar putranya.
"Ngapain kamu datang tengah malam begini?" tanya laki-laki setengah paruh baya itu dengan alis berkerut.
"Ada kecelakaan saat dalam perjalanan pulang tadi," jawab Arga.
"Yah, cepat buka pintunya aku kedinginan di luar," lanjut Arga.
Arga memasuki kamarnya dan langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Meski harus mandi dengan air dingin, tetap dia lakukan. Tubuhnya terasa lengket oleh keringat. Bukannya tidur, laki-laki itu malah duduk di pinggir jendela sambil melihat langit malam. Dia mengira kalau Marsha tidur di rumah ini. Namun, dia salah besar. Ternyata wanita itu pulang ke rumah orang tuanya.
"Besok aku pergi ke rumah ayah mertua. Sudah bisa aku bayangkan apa yang akan terjadi besok kepadaku," gumam Arga.
***
Pagi-pagi sekali Arga mendatangi rumah Bagas. Laki-laki itu membawa beberapa mainan untuk Alva. Sementara itu untuk Marsha hanya dibawakan sebuah cincin berlian sebagai tanda ucapan selamat karena sudah pulang. Wanita itu belum bisa memakan makanan yang sembarang, harus sesuai dengan arahan dokter gizi.
Saat memasuki pekarangan rumah Bagas, terlihat ada Marsha duduk di bangku bersama dengan Alva dan kedua orang tuanya. Mereka duduk sambil menikmati sarapan dan hangatnya sinar mentari yang baru terbit.
"Assalamualaikum," ucap Arga.
"Ayah!" teriak Alva begitu melihat Arga. Kedua tangan bocah itu langsung direntangkan minta digendong. Senyum lebar menghiasi wajah lucu dan tampan milik Alva.
"Wa'alaikumsalam," balas mereka semua.
Marsha terkejut melihat kedatangan Arga di pagi hari ini. Dia mengira kalau suaminya itu baru datang dari ibu kota. Namun, saat sang lelaki menghampiri lalu mencium kedua tangan orang tuanya, dia bisa mencium wangi sabun dan shampo dari tubuhnya.
"Kapan kamu datang?" tanya Bagas dengan tatapan dingin.
"Semalam, Yah. Kemarin siang terjadi kecelakaan di jalan saat dalam perjalanan ke sini," jawab Arga.
Sontak Marsha melirik ke arah Arga. Tanpa sadar dia memeriksa bagian tubuh suaminya. Namun, tidak terlihat adanya luka.
"Kamu kecelakaan?" tanya Indah penasaran.
"Tidak, Bu. Bukan saya yang kecelakaan, tapi orang lain dan itu membuat kemacetan total di jalan," jawab Arga sambil menyuapi Alva.
Marsha memutuskan untuk pergi dari sana. Keberadaan Arga membuatnya kesal dan dia juga masih marah kepadanya. Meski masih lemas dan lemah, tetapi dia bisa berpindah ke kursi roda sendiri.
"Astaghfirullahal'adzim. Marsha, sini aku bantu!" Arga langsung beranjak saat melihat sang istri sedang berusaha memindahkan dirinya.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri," ucap Marsha menolak bantuan Arga.
Laki-laki itu diam mematung begitu mendengar ucapan istrinya. Dia tahu kalau Marsha masih marah kepadanya.
"Alva mau ikut Bunda ke dalam rumah atau mau di sini?" tanya Marsha begitu sudah mendapatkan posisi yang nyaman di kursi rodanya.
Bocah berumur dua tahun itu tentu saja memilih bermain di luar bersama Arga. Apalagi dia mendapatkan mainan baru, yang pasti akan membuat dia betah bermain bersama ayahnya.
Meski kecewa, Marsha pun pergi sendiri ke dalam rumah. Dia tidak boleh egois kepada Alva. Bocah kecil itu tidak tahu apa-apa masalah yang terjadi di antara orang-orang dewasa.
"Bagaimana kalau kita bermain di dalam rumah bersama dengan bunda? 'Kan, kasihan bunda tidak ada temannya!" ajak Arga dan Alva pun setuju.
"Tunggu!" teriak Bagas saat Arga beranjak dari sana sambil menggendong Alva.
"Ada apa, Yah?" tanya Arga yang sudah menghentikan langkahnya lalu mengalihkan pandangan kepada sang ayah mertua.
"Aku tidak izinkan kamu masuk ke dalam rumahku!" Bagas menatap nyalang kepada Arga.
Laki-laki muda itu hanya diam terpaku mendengar ucapan sang ayah mertua. Dia tidak menyangka kehadiran dirinya di sini ditolak oleh semua orang di sini.
***
Apakah Arga akan pergi dari rumah Bagas atau bersikukuh tetap di sana? Ikuti terus kisah mereka, ya!