
Bab 145
Alva dan Alfarizi memberikan mantel untuk para wanita yang pakaiannya terbuka. Mereka juga memberikan minuman hangat untuk merilekskan perasaan dan tubuh perempuan yang masih diliputi rasa ketakutan.
Sarah masih menatap diam-diam kepada Alva. Akhirnya dia bisa bertemu dengan orang yang sudah membuatnya penasaran dan ingin membantu dirinya agar terlepas dari Leonard. Sikap ramah laki-laki itu langsung mencuri hatinya sejak pada pandangan pertama. Meski terlihat dingin dan cuek, di mata perempuan itu Alva adalah sosok laki-laki idamannya.
"Kenapa minumannya tidak kamu minum?" tanya Alva kepada Sarah.
Ditanya seperti itu oleh Alva, langsung saja Sarah menghabiskan minuman yang ada di tangannya. Jantung dia terasa mau loncat dari tempatnya karena terkejut tiba-tiba ditanya oleh pemuda tampan ini.
"Terima kasih. Karena berkat bantuan kamu, banyak perempuan yang bisa terselamatkan dari kejahatan manusia. Saat ini polisi sedang memburu Leonard dan Fery. Mereka berdua tidak bisa ditemukan di club mau pun di rumah penyekapan itu," kata Alva yang duduk di samping Sarah.
"Ja–di, mereka berhasil ka–bur?" tanya Sarah tergagap.
Wanita ini kembali merasa tidak tenang. Dia tahu kekejaman seperti apa kedua orang itu.
"Ya. Tapi, mereka sudah dijadikan DPO oleh polisi. Saat ini orang-orang yang ada di rumah itu sedang diinterogasi. Lalu, polisi juga sedang berusaha untuk melepaskan kalung boom yang terpasang di korban penyekapan," jawab Alva sambil melirik ke arah Sarah.
"Mereka biasanya menyembunyikan kunci itu di brankas khusus. Bentuk kuncinya bukan seperti kunci pada umumnya, tetapi seperti spidol atau pensil. Cuma satu alat itu yang bisa digunakan untuk membuka kunci kalungnya. Alat itu ditekan ke bagian tengkuk yang pas bagian bulatan kecil itu, nanti terbuka," jelas Sarah.
Selama ini Sarah selalu diam-diam mencari tahu semua hal yang ada di rumah itu. Tubuh dia yang langsing dan gerakan tubuhnya gesit memudahkannya untuk menyelinap kesana-kemari dengan mudah tanpa diketahui oleh orang lain.
Mendapatkan informasi itu, langsung saja Alva memberitahu polisi. Anggota polisi yang ada di rumah penyekapan langsung mencari keberadaan brankas yang dimaksud oleh Sarah.
***
Ada tiga orang polisi yang menggeledah ruang kerja milik Leonard. Mereka membuka satu persatu lemari dan laci. Juga foto atau lukisan yang ada di dinding.
Salah seorang polisi saat berjalan kesana-kemari tanpa sengaja menginjak karpet yang terlihat sedikit tersingkap. Lalu, dia menarik karpet itu. Terlihat ada papan di lantai itu. Dengan perlahan dibukanya penutup kayu berbentuk persegi. Ternyata di dalam itu ada kotak brankas.
"Brankasnya ada di sini!" Polisi itu memanggil kedua temannya.
Salah seorang dari mereka berusaha memecahkan angka sandi yang mengunci brankas. Dengan menggunakan bantuan alat, akhirnya brankas itu berhasil di buka. Alat yang diduga sebagai kunci kalung itu ada di dalam sana bersama tumpukan emas batangan, beberapa gepok uang rupiah, dollar Amerika, dan dollar Singapore.
"Ayo, kalian masuk ke mobil! Kita akan menjaga dan melindungi kalian sampai keluarga kalian datang menjemput," kata kepala polisi.
Para perempuan itu menangis bahagia karena mereka akhirnya bisa terbebas dari penyekapan yang dilakukan oleh Leonard dan Fery. Mereka tidak hentinya mengucapkan terima kasih kepada semua anggota polisi yang ikut melakukan penyelamatan di rumah mewah ini.
"Pak, kita masih ada satu keluarga lagi yang berada di dalam ancaman Leonard dan Fery. Mereka sekeluarga juga dipasangi kalung boom," kata salah seorang polisi melaporkan tentang keluarga Mutiara.
"Apa? Benar-benar gila mereka ini," balas sang kepala.
"Ayo, antarkan aku ke tempat mereka. Kenapa tidak ada yang memberi tahu masalah sebesar ini kepadaku?" tanya kepala polisi itu merasa geram.
"Sepertinya ada oknum yang mencoba melindungi Leonard dan Fery. Sebenarnya sudah ada laporan tentang adanya perdagangan manusia di sini. Ada yang dikirim ke luar negeri dan ada yang dijadikan wanita penghibur," jawab polisi yang bekerja sama dengan Alva selama ini.
Kepala polisi datang langsung ke rumah Mutiara. Dia ingin melihat keadaan keluarga malang itu. Ternyata Pak RT sudah melaporkan ke polisi dan meminta bantuan agar warganya bisa diselamatkan.
"Cari di mana saja mereka meletakan kamera CCTV atau kamera tersembunyi!" perintah kepala polisi.
Mutiara dan keluarga kini sudah terbebas dari ketakutan akan boom di leher mereka yang sudah terpasang beberapa bulan ini. Mereka juga tidak bisa keluar dari rumah
"Alhamdulillah, akhirnya kami bisa selamat. Terima kasih banyak, Pak," kata Ayahnya Mutiara kepada para polisi yang datang.
Berita penggerebekan Club ABC dan rumah mewah yang menjadi tempat penyekapan para perempuan muda itu menjadi breaking news. Banyak sekali wartawan yang meliput berita ini.
Sementara itu di kamar apartemen Safira. Dia dan Arshy masih mencoba menghubungi Alva juga teman-temannya. Mereka cemas karena pemuda itu tidak bisa dihubungi sejak tadi.
"Ya Allah, semoga Alva baik-baik saja," ucap Safira dengan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk netranya.
***
Apakah Alva dan teman-temannya dalam keadaan baik-baik saja? Ikuti terus kisah mereka, ya!