Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 162. Kepergian Safira


Bab 162


Polisi berhasil melacak keluarga Sherly. Mereka kini tinggal di Swiss, karena ibunya Sherly menemani suaminya yang jatuh sakit setelah menghilangnya perempuan itu.


"Kami sudah mendapatkan kabar itu dan sekarang sedang berusaha menghubungi mereka," ucap kepala polisi kepada Alva.


"Terima kasih, Pak. Bagaimana pun mereka berhak tahu kalau Sherly mempunyai anak. Begitu juga dengan Alfi juga berhak tahu nantinya mempunyai keluarga. Kasihan nanti Alfi kalau dia tahu cerita yang sebenarnya dari orang lain," ujar Alva.


Kasus perdagangan manusia itu masih menjadi buah bibir di masyarakat. Kini mereka menjadi berhati-hati jika ada tawaran pekerjaan yang dikira mencurigakan. Selain itu masyarakat juga jadi lebih perhatian kepada kerabat atau anggota keluarga yang sedang pergi merantau. Setidaknya mereka mengetahui keadaan saudaranya dalam keadaan baik-baik saja. Ada juga yang melaporkan mengenai keinginan tahu kabar keluarga yang merantau sudah lama tidak terdengar kabarnya. Polisi akan membantu mencari tahu keberadaan mereka.


Dalam suatu kejadian pasti akan ada hikmahnya. Mereka yang tadinya bersikap biasa saja kepada kerabat yang pergi merantau jauh dan tidak mendengar kabar, kini mereka berusaha mencari tahu dan kembali menjalin komunikasi.


***


Waktu terus berlalu, Alva tidak bisa bertemu dengan Safira. Bahkan kepergian gadis itu ke Amerika dia terlambat tahu, jika saja Dewi tidak memberi tahu itu. Laki-laki itu mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya. Ucapan ibu sambung Safira itu terus saja teringat di telinganya.


"Alva, Safira akan dibawa ke Amerika oleh Shinta! Cepat temui dia sebelum pergi."


Pemuda itu berlari memasuki Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dia mencari keberadaan Safira yang dibawa oleh Shinta. Sebenarnya Dokter Rama juga ikut ke sana.


Walau sekuat tenaga Alva mengejar ke bandara, dia sudah terlambat. Pesawat keberangkatan menuju Amerika sudah mengudara sepuluh menit yang lalu.


"Aaaaaa!" Alva berteriak frustrasi. Air mata pemuda itu akhirnya jatuh juga setelah sekian lama dia tahan.


***


Dua tahun kemudian....


Selama rentan waktu itu Alva beberapa kali datang ke Amerika untuk menemui Safira. Namun, Shinta tidak pernah mengizinkan untuk bertemu dengannya. Dia hanya tahu kabar Safira lewat Dokter Rama.


Pengobatan gadis itu mengalami kemajuan. Safira mengalami koma selama tiga bulan. Hanya saja gadis itu harus melakukan pengobatan untuk bisa pulih kembali seperti sedia kala. Sampai sekarang gadis itu masih melakukan pengobatan.


Shinta menutup semua akses untuk mencari tahu tentang Safira. Hanya Dokter Rama saja yang boleh menemuinya. Itu juga harus bertatap muka langsung, tidak bisa lewat alat komunikasi lainnya.


Alva menjalani rutinitas sebagai mahasiswa kedokteran. Saat ini dia sedang menjalani koas, tinggal satu tahun lagi. Niatnya dahulu, dia dan Safira akan melanjutkan kuliah ke Jerman untuk mengambil jurusan spesialis sesuai dengan cita-cita mereka. Namun, kini semua pupus sudah.


"Papa, mau susu!" pinta Alfi kepada Alva yang sedang membaca buku medis.


"Siap jagoan!" Alva menuntun Alfi ke dapur.


Bocah itu berdiri di samping Alva yang sedang sibuk memasukan susu bubuk ke dalam gelas khusus untuk anak batita. Untungnya Alfi bukan anak yang rewel dan banyak maunya, dia justru tipe anak penurut. Namun, bocah itu cerewet sekali. Mungkin karena kesehariannya sering bersama Arshy yang suka ngomong.


"Kak Alva, besok aku ada acara di kampus. Jadi, tidak bisa jaga Alfi," kata Arshy sambil berjalan ke dapur.


Gadis itu langsung berjongkok di depan Alfi, lalu menciumi pipi gembul bocah itu. Diperlakukan seperti ini, membuat Alfi membalas memeluk dan mencium pipi Arshy.


"Tidak apa-apa. kebetulan besok Kakak bagian shift malam, menggantikan Darwin," ucap Alva.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku usahakan secepatnya pulang jika acara sudah selesai," balas Arshy.


Gadis berjilbab hitam itu merogoh saku gamis karena merasa ada getaran dari benda pipih yang simpan di sana. Ternyata ada pesan masuk dari temannya. Secepatnya dia balas pesan itu.


Dia melihat ada pesan lewat email. Jari tangannya dengan lihat menekan tanda berbentuk huruf M.


Arshy ini aku Kak Safi. Bagaimana kabar kamu dan Alva. Maaf baru bisa menghubungi kalian. Ini juga aku sembunyi-sembunyi. Aku tadi sudah mengirim pesan kepada Alva, tetapi belum dia balas. Di sini aku me


Pesan dari Safira terpotong. Arshy menutup mulutnya dan air matanya berderai.


"Kak Alva ... Kak Safi–"


Alva yang baru saja menyerahkan susu kepada Alfi dibuat terkejut. Melihat adiknya menangis sambil memegang handphone, tentu saja ini membuat pemuda itu penasaran.


"Ada apa? Kenapa dengan Fira?" tanya Alva sambil mengambil benda pipih itu.


***