Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 158. Kedatangan Shinta


Bab 158


Shinta mendatangi rumah Dokter Rama di malam hari. Namun, dia tidak bisa masuk ke sana karena banyak wartawan dan ada petugas yang menjaga pintu gerbang.


"Ini ada apa?" tanya Shinta kepada salah seorang wartawan.


"Putrinya Dokter Rama sudah menjadi korban penculikan oleh sindikat penjualan manusia. Saat ini keberadaannya disembunyikan," jawab orang itu.


Wajah Shinta langsung berubah merah padam. Dia merasakan amarah di dalam dirinya bergejolak. Rasa lelah sehabis melakukan perjalanan lebih dari 24 jam, memicu emosinya yang tidak stabil. Dia langsung menelepon Dokter Rama selaku orang yang seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan Safira.


Nomor Dokter Rama tidak aktif, lalu dia ganti menghubungi Dewi. Nomornya aktif, tetapi tidak diangkat. Tentu saja ini membuat Shinta murka.


Wanita itu turun dari taksi menuju pintu gerbang. Dia akan memaksa masuk ke dalam rumah mantan suaminya.


"Buka. Aku datang untuk menemui putriku!" bentak Shinta kepada dua orang polisi yang sedang berjaga.


Tentu saja perbuatan Shinta ini membuat beberapa wartawan yang terus memperhatikan tindak-tanduknya langsung berkumpul mengerubungi wanita itu. Sejak tadi mereka menunggu sesuatu yang bisa mereka jadikan bahan laporan ke tim redaksi.


"Benarkah Anda ibunya Safira?" tanya beberapa wartawan dengan kompak.


"Iya. Saya ibu kandungnya Sendiri," jawab Shinta.


"Bukannya Anda adalah Shinta, model internasional yang terkenal itu?" tanya salah seorang wartawan paruh baya yang masih mengenali Shinta meski sudah lama pensiun dari dunia catwalk.


"Benar. Anda adalah model terkenal itu, 'kan? Bagaimana bisa Safira menjadi anak kandung Anda? Kapan Anda mengandung dan melahirkan?" 


Kini wartawan mendapatkan berita sensasional yang tidak diduga sebelumnya. Mereka sangat senang bisa mewawancarai wanita yang beberapa tahun silam selalu menghiasi majalah dengan wajahnya yang cantik rupawan.


Merasa risih dengan kerumunan orang-orang pencari berita, membuat Shinta dengan cepat memaksa penjaga membuka pintunya. Bahkan wanita ini mengancam mereka. Untungnya satpam yang biasa bertugas datang ke sana, lalu mempersilakan Shinta dan suaminya masuk.


Dewi yang mendapat kabar akan kedatangan Shinta sempat merasa cemas. Dia langsung menghubungi suaminya.


***


Alva mendengar pembicaraan Dokter Rama dengan Dewi atas kedatangan Shinta ke rumah mereka. Ini membuat pemuda itu baru ingat kalau Shinta kemarin lusa menghubungi Safira dan bilang akan ke Indonesia.


"Pa, aku lupa memberi tahu kalau Tante Shinta pernah menghubungi Fira sebelum berangkat ke Indonesia. Fira takut kalau dia diajak mamanya pergi ke Amerika dan dijodohkan dengan laki-laki yang bernama Bryan," kata Alva setelah Dokter Rama menutup panggilan sang istri.


"Benarkah, itu? Aku tidak setuju dengan perjodohan itu," ucap Dokter Rama sambil menatap Alva. Dia tahu siapa yang disukai oleh putrinya itu.


Dokter Rama mengangguk. Dahulu, saat masih kecil anaknya itu pernah bilang akan menikah dengan Alva dan akan menjadi ratu dan raja seharian. Dia ingin konsep pernikahan yang ala kerajaan Disney. Alva juga sepertinya masih mengingat itu.


"Lalu, kamu menolaknya?" tanya Dokter Rama masih menatap kepada Alva.


"Aku ingin mewujudkan pernikahan seperti yang diinginkan oleh Fira, dahulu. Makanya sejak SMA aku belajar berbisnis dan mengumpulkan uang untuk meminangnya, nanti," jawab Alva sungguh-sungguh.


Dokter Rama tahu kalau Alva adalah pria sejati yang akan bisa menjadi pemimpin bagi putrinya. Makanya dia selalu mendukung Safira jika ingin menjadi istri pemuda yang berdiri dihadapannya ini.


"Lalu, sekarang apa yang kamu inginkan?" tanya Dokter Rama.


Alva menatap laki-laki paruh baya itu dengan intens sebelum menjawab pertanyaannya. Dia usaha memikirkan hal ini sejak gadis itu menghilang.


"Nikahkan aku dengan Safira," jawab Alva dengan tegas.


Mulut Dokter Rama terbuka saking terkejutnya. Bukan hanya dia, Alfarizi dan Alvin yang duduk tidak jauh dari mereka juga dibuat terkejut oleh ucapan sahabat mereka yang jarang bercanda itu.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya Dokter Rama.


"Iya. Aku tidak mau kehilangan Safira. Yang penting sekarang kita sah menjadi pasangan suami-istri. Untuk urusan ke KUA dan pesta pernikahan nanti bisa menyusul setelah keadaan memungkinkan," jawab Alva.


Keadaan saat ini sedang genting bagi Alva. Tidak ada cara lain untuk melindungi Safira dari ibu kandungnya itu. Apalagi setelah kejadian ini, dia merasa akan menjadi jalan Shinta untuk merebut gadisnya.


"Baiklah jika itu atas kesadaran dan keinginan kamu sendiri," ujar Dokter Rama sambil menepuk bahu Alva.


"Sebaiknya kita segera mencari penghulu dan saksi. Aku tidak mau pernikahan ini gagal karena kedatangan Tante Shinta," tukas Alva.


Alfarizi dan Alvin membantu mencari orang yang bisa menikahkan Alva dengan Safira. Kebetulan tidak jauh dari rumah sakit ada sebuah pondok pesantren.


Sementara itu, Alva menghubungi kedua orang tuanya yang sedang berada di apartemennya. Dia ingin mereka hadir menyaksikan pernikahannya itu dan membawakan cincin yang sudah dia siapkan. Sebenarnya cincin itu untuk melamar Safira nanti. Namun, siapa sangka itu malah akan menjadi salah satu mahar untuknya.


***


Akankah pernikahan Alva berjalan lancar atau gagal karena kedatangan Shinta? Ikuti terus kisah mereka, ya!