Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 155. Ditangkap Polisi (1)


Bab 155


Safira begitu terkejut saat dia sedang sholat bersama Mutiara, Fery datang dengan membuka paksa pintu kamar. Laki-laki itu merasa senang karena kedua sanderanya sudah sadar. Bahkan dia bisa melihat kalau para gadis itu sedang ruku.


Baik Safira maupun Mutiara tetap melanjutkan sholatnya karena Fery juga hanya duduk kursi. Dia diam sambil memperhatikan keduanya. Laki-laki itu menikmati suara Safira yang membaca surat dalam Al-Qur'an terdengar lirih.


Dikarenakan Fery tidak menggangu, Safira sengaja memperlama sholatnya. Dia membaca surat-surat cukup panjang. Entah kenapa perasaannya menginginkan ini. Dia juga sangat berharap Alva bisa sampai ke sini secepatnya.


Leonard sedang menikmati minuman beralkohol yang berwarna merah. Dia sedang membayangkan besok lusa dirinya akan dibantu oleh Mister Bruno untuk kabur dari Indonesia. Dia akan pergi ke luar negeri untuk menghindari kejaran polisi. Laki-laki itu merasa beruntung sudah mendapatkan Safira dan Mutiara yang akan dijual kepada langganannya dengan nominal yang fantastis.


"Aku harus membeli baju yang seksi dan menggoda untuk mereka dipakai besok," ucap Leonard mulai meracau.


Sepertinya efek alkohol sudah mulai bisa dia rasakan. Namun, ini belum membuat laki-laki itu benar-benar mabuk. Leonard masih sadar dengan keadaan dirinya dan sekitarnya.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20:00 perut Leonard terasa lapar. Di rumah itu tidak ada bahan makanan, jadi dia harus memesan.


"Fery, aku mau pesan makanan untuk makan malam. Kamu ingin makan apa?" tanya Leonard berteriak.


"Samakan saja dengan punya kamu!" balas Fery berteriak. Lalu dia melanjutkan, "sekalian untuk kedua gadis ini. Sepertinya mereka juga butuh makan malam."


"Apa mereka sudah sadar?" tanya Leonard dengan suaranya yang nyaring.


"Ya. Mereka sudah sadar," jawab Fery yang sedang menatap tajam kepada Safira dan Mutiara.


Alva yang berada di balik jendela, merasa ini adalah kesempatan dia untuk bisa masuk ke dalam nanti. Dia barusan mendapatkan pesan kalau beberapa polisi sedang bergerak ke sini.


Beberapa polisi masuk lewat benteng yang tadi dilalui oleh Alva. Mereka sudah mengepung rumah itu.


"Tadi mereka memesan makanan lewat online. Sepertinya sebentar lagi akan datang," bisik Alva kepada polisi yang ikut bersembunyi dengannya.


"Kalau begitu ini kesempatan yang bagus," balas polisi itu. Terlihat binar senang dari ekspresi wajahnya.


Benar saja sesuai dugaan Alva, barusan. Seorang driver online datang membawa beberapa keresek yang berisi makanan. Wanginya sampai tercium. Laki-laki berjaket hijau itu menekan bel yang ada di dekat pagar.


Pintu rumah terbuka dan semua anggota polisi langsung bersiap-siap. Ternyata yang keluar adalah Fery. Laki-laki itu berjalan menuju pintu gerbang. Memanfaatkan peluang ini, sebagian polisi langsung masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Alva yang ikut masuk untuk mencari Safira.


Sementara itu, Fery yang berjalan dengan santai menuju pagar besi langsung ditangkap oleh dua orang polisi. Tentu saja dia berteriak sambil berontak.


"Apa-apa ini! Lepaskan aku!" Fery meronta mencoba menarik kedua tangan yang sudah dicengkeram kuat oleh dua orang polisi.


"Anda kami tahan atas tuduhan penculikan dan perdagangan manusia!" kata salah seorang polisi yang berdiri di belakang Fery sambil mengacungkan pistol ke kepalanya.


Dor!


Salah seorang anggota polisi menembak kaki Fery yang terus melakukan perlawanan. Tanpa diduga dia pun melakukan hal yang sama. Laki-laki itu memegang tangan polisi yang tadi menembak kakinya. Lalu, dia arahkan pistol itu ke arah beberapa polisi.


Dor! Dor! Dor!


"Aaaaa!"


Kejadiannya begitu sangat cepat sekali. Seakan terjadi dalam satu tarikan napas. Ada tiga anggota polisi yang terkena tembakan.


"Tangkap dia!" perintah salah seorang polisi.


Melihat hal itu membuat beberapa anggota polisi lainnya langsung menyerang Fery dengan bersamaan. Tubuh sepupu Leonard itu dibanting ke tanah oleh salah seorang polisi yang memiliki ahli ilmu beladiri.


"Cepat borgol tangannya!"


"Panggil ambulans!"


Para anggota polisi berkerja dan bergerak cepat saat menangkap pelaku kejahatan. Mereka sudah tahu apa tugas masing-masing. Ada yang mengamankan pelaku, mengamankan barang bukti, memanggil ambulan, dan ada menyelamatkan rekan mereka yang terluka.


"Lepaskan aku!" teriak Fery yang kini tengkurap di tanah dan ditahan oleh empat orang polisi. Ada yang memegang kedua tangannya, kedua kakinya, dan ada yang menekan tubuhnya di bagian punggung.


"Lepaskan aku, berengsek!"


"Mana mungkin. Kamu adalah penjahat kelas berat. Dan akan mendapatkan hukuman berat atas perbuatan jahat yang sudah kamu lakukan ," ucapan anggota polisi yang masih terlihat muda.


Anggota polisi yang terkena tembakan langsung ditarik dan dibawa ke tempat yang lebih aman. Ketiganya terkena tembakan di bagian dada. Sepertinya Fery mengincar bagian jantung mereka.


Mata Fery menatap nyalang kepada para anggota polisi yang sudah membekuknya dan mengacaukan rencananya. Dia merasa ada yang aneh dengan situasi di sana. Seharusnya saat ini Leonard sudah datang kepadanya untuk menolong dirinya.


'Ada apa ini? Ke mana Leonard? Apa dia tidak mendengar suara tembakan tadi?' tanya Fery di dalam hatinya.


Laki-laki itu berharap kalau saudaranya yang ada di dalam rumah untuk menolongnya segera. Dia tidak mau masuk penjara dan mendapatkan hukuman. Apalagi tadi salah satu anggota polisi bilang kalau dirinya adalah penjahat kelas berat. Pikiran dia, kalau dirinya ditangkap dan diadili, pasti akan mendapatkan hukuman yang berat.


***


Apakah Leonard juga akan dengan mudah ditangkap oleh anggota polisi seperti Fery barusan? Ikuti terus kisah mereka, ya!