Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 131. Arshy


Bab 131


"Sebenarnya kamu ini siapa?" tanya Safira kepada Arshy.


"Bukannya tadi sudah aku bilang kalau aku itu—"


"Arshy … Bereskan bekas kamu masak mie tadi!" teriak Alva dari dapur.


Arshy hanya menyeringai saat melihat Safira membelalakkan matanya. Gadis itu sangat suka sekali menjahili kakak sulung dan Safira. Sejak dulu dia dan Azka akan merecoki mereka berdua.


"A … Arshy?" Safira akhirnya bisa mengeluarkan suara setelah beberapa detik dalam keterkejutannya.


"Iya, Kak Safi!" balas Arshy.


Panggilan "Safi" atau "Sapi" sering diucapkan oleh Arshy dan Azka kepada Safira. Tentunya akan diikuti kata "Moooo!" oleh yang lainnya.


"Aaaaa! Arshy, kenapa kamu bisa sebesar ini sekarang?" Safira memeluk tubuh Arshy sambil melompat-lompat kegirangan.


Arshy mendelikkan mata, karena menurut dia kalau Safira itu agak bodoh. Tentu saja dia bisa berubah jadi besar karena terus tumbuh. Namanya juga makhluk hidup yang terus tumbuh berkembang. Tidak mungkin 'kan kalau berukuran anak-anak terus.


"Ngapain kalian berpelukan begitu?" tanya Alva yang baru saja tiba dari dapur.


Safira mengurai pelukannya dengan Arshy. Kini dia melihat ke arah Alva.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau dia adalah Arshy? Aku paling sekali. Sekarang dia sangat tinggi dan putih bersih, tidak buluk kayak dahulu," kata Safira masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Sudah hampir lima tahun Safira dan Arshy tidak pernah bertemu. Terakhir mereka bertemu adalah saat liburan sekolah. Safira duduk di bangku SMA dan Arshy lulus SD. Keduanya tidak pernah bertemu karena Arshy menempuh pendidikan pesantren sambil sekolah di SMP Al Ikhlas. Sekolah swasta berbasis agama Islam yang jadwal belajar pelajaran umum dari pagi sampai siang. Lalu, sore sampai malam khusus untuk memperdalam ilmu agama Islam.


"Masa kamu tidak ingat dengan wajah Arshy. Menurut aku wajah dia masih sama kayak dulu," ucap Alva sambil duduk di sofa.


"Tidak. Sekarang dia jadi jauh lebih cantik dan putih. Kalau dulu dia kan buluk, dekil, dan suka pakai baju seperti laki-laki. Belum lagi rambutnya dipotong pendek," balas Safira.


Mendengar perkataan Safira yang memang benar adanya, Arshy hanya mendengus. Dia memang selalu berpenampilan seperti laki-laki agar dikira Azka. Kalau dia berbuat ulah yang akan kena getahnya adalah kembarannya. Dia memang jahil banget sejak dari zaman masih balita. Kalau sekarang berkurang sedikit.


Alva tertawa terkekeh mendengar ucapan Safira. Karena itu juga yang diucapkan oleh teman-teman SD-nya Arshy saat mereka bertemu.


"Terus tadi kamu datang ke kampus untuk apa?" tanya Safira penasaran karena dia sempat melihat Arshy di depan ruang dosen.


"Ya, mau menemui dosen mata kuliah lah," jawab Arshy sambil duduk sila di lantai beralaskan karpet. Dia mengambil cemilan yang dibawa oleh Alva tadi.


"Hah! Kamu sudah masuk kuliah? Bagaimana bisa?" tanya Safira tidak percaya.


Arshy dan Azka mengambil kelas akselerasi saat SD, SMP, dan SMA. Jadi, diusianya yang belum genap 16 tahun, mereka sudah masuk kuliah. Meski mereka anak jahil, tetapi mempunyai otak yang sangat cerdas.


"Sebenarnya Kak Alva juga bisa masuk kelas akselerasi. Tetapi, dia menolaknya. Jadi, dia menghabiskan waktu sekolah dengan normal," ucap Arshy sambil mengambil kembali cemilan milik Alva.


"Kalian memang hebat. Lalu, kenapa Alva tidak ambil kelas akselerasi juga?" tanya Safira ingin tahu.


"Ya, itu gara-gara Kak Safi tidak punya otak cerdas. Otak Kak Safi pas-pasan. Jadi, Kak Alva tidak ambil kelas akselerasi, meski ditawari oleh guru-gurunya. So sweet banget kalian ini," jawab Arshy.


Alva melotot kepada Arshy dan gadis itu hanya menyeringai sambil mengacungkan kedua jarinya. Dia tahu kalau kakak sulungnya itu tidak suka jika ada yang menjelek-jelekkan atau membicarakan kekurangan Safira.


"Jadi, kamu tidak ambil kelas akselerasi demi aku. Agar kita bisa terus satu angkatan?" tanya Safira kepada Alva.


"Alva, jawab pertanyaan aku. Apa kamu menolak masuk kelas akselerasi karena ingin bersama aku terus?" tanya Safira sambil menggoyang-goyangkan lengan Alva.


Safira langsung melepaskan pegangan tangannya. Dia tahu kalau Alva tidak suka dipegang-pegang.


"Bukannya kita sudah berjanji akan diwisuda bersama-sama nanti," jawab Alva.


Mata Safira langsung berkaca-kaca. Dia ingat ucapannya saat masih sekolah bersama di PAUD dahulu dengan Alva. Mereka berjanji akan memakai baju toga dan di wisuda bersama-sama jika besar nanti.


"Jangan-jangan kamu ambil jurusan kedokteran pun karena ikut aku?" tanya Safira.


"Benar," celetuk Arshy menjawab pertanyaan Safira.


Sebenarnya itu salah satu alasan Alva mengambil jurusan kedokteran bersama Safira. Agar dia bisa menjaga, mengawasi, dan membantu gadis itu. 


Safira tidak bisa mengucapkan kata-kata yang menggambarkan perasaan dia saat ini. Selama ini dia juga berusaha keras agar bisa menjadi seorang dokter sesuai dengan cita-citanya saat kecil. Dia ingin membantu orang-orang yang sedang sakit agar cepat sembuh.


Sejak SD, SMP, dan SMA Safira tidak satu sekolah dengan Alva. Jarak memisahkan mereka berdua. Hanya saat liburan saja mereka bertemu. Itu juga kalau keluarga Dewi datang menjenguk keluarga Barata.


***


Untuk menyambut pertemuan kembali Arshy, Safira membuat masakan istimewa. Selain bercita-cita ingin menjadi dokter ada impian lainnya dari gadis itu. Yaitu, ingin menjadi istri yang pantas untuk Alva. Dia belajar memasak, mencuci, dan menyetrika baju. Dia juga suka membereskan kamar pribadinya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Ayam bakar madu, sambal matah, lalapan, dan nasi liwet sengaja dimasak oleh Safira. Dia berkutat sendiri, melarang Arshy atau Alva membantunya memasak.


"Wah, masakan Kak Safi ternyata enak," puji Arshy dan itu membuat Safira senang.


"Kamu bisa belajar memasak kepada Safira. Jangan sampai kamu tidak bisa memasak. Nanti mau dikasih makan apa suami dan anak-anak kami," ucap Alva kepada Arshy.


"Ya, dikasih makan nasi lah. Masa aku kasih batu," balas Arshy sambil mengambil potongan ayam lagi.


Alva memilih diam daripada beradu argumentasi dengan sang adik. Arshy itu tidak bisa memasak. Hanya masak mie atau telur ceplok saja yang dia bisa.


"Nanti kita bisa masak bersama-sama sambil belajar," ucap Safira kepada Arshy.


"Oh, Kak Safi memang paling the best!" ucap Arshy sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


***


Alva masih berkutat dengan buku tentang anatomi tubuh. Dia ingin menjadi dokter ahli dalam. Apakah nanti dia akan melanjutkan kuliah di luar negeri atau tidak, tergantung situasi nanti.


Saat sedang asyik membaca sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


***


Pesan apakah itu? Dari siapa? Ikuti terus kisah mereka, ya!


Baca karya terbaru aku ini, ya. Genre: Drama, Romantis, Komedi, Action.