
Bab 133
Alva dan Safira menunggu dengan perasaan tidak tenang. Mereka berharap ibu dan bayi itu bisa tertolong. Wanita tanpa identitas ini membuat mereka penasaran dan bertanya-tanya akan kisah hidupnya. Siapa yang menginginkan mereka mati.
"Alva ... Safira, bisa masuk sebentar," kata Annisa, perawat tadi yang ada di UGD.
Alva dan Safira pun masuk ke dalam ruang operasi. Terlihat perempuan itu berbaring. Bayi merah kini berada di tangan Dokter Rahma dalam keadaan menangis kencang.
"Aku harap kalian bisa melindungi bayi ini sesuai permintaan ibunya. Sepertinya wanita ini mengalami kekerasan. Beberapa tulang rusuk, tukang belikat, paha kiri, dan lengan lengannya mengalami patah. Tengkorak bagian belakang dan sisi kiri juga mengalami keretakan," jelas Dokter Ali, yang tadi berada di ruang UGD. Teringat ekspresi kengerian dari wajah dokter laki-laki itu.
"Bukan karena tertabrak oleh aku, Dok?" tanya Alva.
"Bukan. Wanita itu bilang, mobilmu tidak sampai mengenai tubuhnya. Dia memang sering mendapatkan siksaan dan kebetulan malam ini dia bisa melarikan diri dari tempat penyekapan. Sayangnya dia tidak memberikan tahu siapa pelaku itu, siapa nama dia dan alamat tempat tinggal berada di mana? Sepertinya orang itu bukan orang sembarangan. Buktinya wanita ini sangat ketakutan dan merahasiakan itu," jawab sang dokter.
Alva dan Safira tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang bisa menjelaskan perasaan mereka berdua. Alva meraih bayi merah itu, lalu mengadzani.
"Kami minta kalian jaga bayi ini baik-baik. Kalau ada yang bertanya bilang saja dia anak kalian," ucap Dokter Rahma.
"Apa?" Alva dan Safira tercengang.
Dokter Ali, Dokter Rahma, dan tim medis yang melakukan operasi cesar malam itu menyembunyikan keberadaan bayi berjenis laki-laki itu. Mereka membuat pernyataan kalau pasien meninggal bersama bayinya karena kehabisan darah dan ketuban pecah. Dokter Ali sebagai anak pemilik rumah sakit itu bersedia bertanggung jawab jika terjadi sesuatu di kemudian hari. Dia sudah membuat video wanita itu yang menyatakan permintaan tolong dan memberi tahu keinginannya.
***
Alva menatap bayi mungil itu yang kini berada di gendongan Safira. Suara Adzan Subuh berkumandang dan mereka masih berada di area rumah sakit. Setelah menjalankan ibadah sebagai seorang muslim, keduanya memutuskan untuk pulang bersama si bayi.
Kedua muda-mudi itu masih tidak percaya dengan semua yang terjadi kepada mereka malam ini. Belum juga masalah Intan diselesaikan, mereka harus terlibat dengan seorang wanita hamil yang dikejar-kejar entah oleh siapa.
"Mau dikasih nama apa bayi ini?" tanya Safira sambil memandangi makhluk mungil yang masih merah.
"Entahlah, aku tidak terpikirkan sebuah nama di dalam otakku saat ini," jawab Alva.
Banyak kejadian semalam yang membuat dirinya shock. Rasanya Alva ingin menenangkan otak dan tubuhnya saat ini juga.
Begitu Alva dan Safira masuk ke dalam apartemen, terlihat Arshy memasang wajah cemberut karena semalaman ditinggal sendiri di sana, tanpa kabar apa pun dari mereka. Namun, ekspresi wajah gadis belia itu berubah saat melihat ada seorang bayi di gendongan oleh Safira.
"Bayi siapa ini? Kalian berdua mengadopsinya?" tanya Arshy dengan mata berbinar-binar saat makhluk kecil itu bergerak di dalam pangkuan Safira.
Alva pun menceritakan ada yang sudah terjadi kepada mereka sejak datang ke rumah sakit untuk menjenguk Intan, pulang, dan menabrak seorang wanita hamil lalu kembali lagi ke rumah sakit.
"Lalu, kenapa si ibu tidak memberikan bayi ini kepada ayahnya?" tanya Arshy sambil memandangi bayi yang kini ditidurkan di kamarnya.
"Wanita itu tidak memberi tahu siapa ayah bayi ini sampai meninggal. Kakak curiga kalau nasib bayi ini juga tidak akan baik jika berada di dalam asuhan ayahnya. Kalau wanita itu percaya ayah si bayi dipercaya bisa menjaga dan melindunginya pasti meminta kita untuk menyerahkan bayi ini kepadanya, bukan meminta kakak dan Safira untuk menjaga dan melindunginya," jawab Alva.
Arshy manggut-manggut paham maksud sang kakak. Dia juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan si ibu bayi jika anaknya berada dalam ancaman, pasti akan menjauhkannya.
"Bisa jadi. Karena sekujur tubuh wanita itu dalam keadaan memar dan patah tulang. Kata Dokter Ali, sungguh keajaiban dalam kondisi seperti itu, dia bisa menjaga kehamilannya bahkan bisa kabur," jawab Alva.
Safira dan Arshy merinding membayangkan hal itu. Seorang wanita akan bisa menjadi kuat dan hebat jika berhubungan dengan hal yang dicintainya. Seperti si ibu yang sangat mencintai dan menyayangi bayi itu, bisa bertahan sampai akhir.
"Lalu, siapa nama bayi ini?" tanya Arshy sambil melihat ke arah Alva dan Safira bergantian.
Keduanya menggelengkan kepala. Belum ada nama yang terlintas di pikiran mereka.
"Bagaimana kalau diberi nama Alfi?" Arshy menyeringai lebar.
"Alfi?" ucap Alva dan Safira.
"Iya. Gabungan nama kalian berdua. Alva dan Safi," ujar Arshy lalu tertawa terkekeh.
Akhirnya mereka memberikan nama Alfi untuk bayi merah. Terlihat si bayi juga tidak protes saat dipanggil dengan nama itu. Kalau dia protes, saat dipanggil akan menangis. Itu cara kuno untuk mengetes apa si bayi setuju dengan nama yang diberikan untuknya.
***
Safira dan Arshy belanja kebutuh untuk Alfi. mereka membeli susu, baju bayi, perlengkapan mandi, dan cosmetic bayi. Belanjaan mereka sangat banyak apalagi diapers yang belum dalam jumlah banyak.
Ketiga orang itu kompak giliran menjaga dan mengasuh Alfi. Bayi itu tinggal di unit apartemen milik Safira. Kini Arshy juga ikut tinggal di sana. Alva akan menjaga atau mengasuh bayi itu saat siang hari dan membawa di kamarnya.
***
"Apa kondisi Intan sudah ada perkembangan?" tanya Alva sambil menimang Alfi.
"Belum. Dia masih koma belum sadar," jawab Safira dengan lirih.
Teman-teman Safira yang lainnya juga tidak tahu apa yang sudah terjadi kepada Intan belakang sebelum terjadi kecelakaan. Kedua orang tuanya sudah melaporkan hal ini kepada polisi. Mereka yakin kalau kecelakaan yang menimpa putrinya itu akibat seseorang atau bukan murni karena kecelakaan.
"Kasihan sekali orang tuanya Intan. Mereka memutuskan untuk memindahkan perawatan Intan ke Bandung. Karena mereka punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," jelas Safira.
"Kenapa sekarang banyak sekali kasus kekerasan terhadap wanita, ya?" gumam Arshy.
Alva juga berpikir ke sana. Di waktu yang bersamaan Intan mengalami kecelakaan, lalu ibunya Alfi, juga mengalami kekerasan fisik sampai terluka parah dan akhirnya meninggal.
"Itulah kenapa seorang perempuan juga harus bisa menjaga dan melindungi dirinya sendiri," ucap Alva.
***